Connect with us

Hukrim

Sidang Pledoi, Tim Kuasa Hukum JEP Bentangan Kain Warna Putih

Diterbitkan

,

Sidang Pledoi, Tim Kuasa Hukum JEP Bentangan Kain Warna Putih
Ketua tim kuasa hukum terdakwa JE, Hotma Sitompul bentangan kain warna putih di tunjukkan di persidangan.

 

KABARMALANG.COM – Sidang pembacaan nota pembelaan (pledoi) terdakwa dugaan kekerasan seksual sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) Kota Batu, Julianto Eka Putra (JEP).

Sidang tersebut di gelar di Ruang Sidang Cakra PN Malang, di mulai pukul 09.20 WIB hingga pukul 15.14 WIB.

Dalam sidang itu, terdakwa JEP mengikuti jalannya persidangan secara daring dari Lapas Kelas I Malang.

Tim kuasa hukum terdakwa JEP menunjukkan kepada awak media bentangan kain warna putih berisi tanda tangan murid dan alumni sekolah SPI Batu.

Selain itu, juga menunjukkan berkas pledoi yang di bacakan di dalam persidangan.

Ketua tim kuasa hukum terdakwa JEP, Hotma Sitompul mengatakan, bentangan kain tersebut di tunjukkan di dalam persidangan.

Sebagai salah satu bentuk dari pledoi yang di lakukan.

“Ini (bentangan kain warna putih) berisi 100 lebih tanda tangan siswa SPI Batu dan alumni,” ujarnya.

Dan mereka menyampaikan bahwa semua omongan pelapor (saksi korban SDS) adalah tidak benar. Tidak pernah ada isu itu.

“Dan bersyukurlah di dalam persidangan, tidak terbukti sama sekali dakwaan maupun tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU),” sambungnya.

Hotma Sitompul juga mengatakan di dalam pledoi tersebut, pihaknya ingin menunjukkan sekaligus mempertanyakan mengapa saksi korban baru melaporkan kejadian dugaan pelecehan seksual tersebut.

“Kita mau menunjukkan, 12 tahun ini kemana saja. Katanya tertekan, tetapi apa masuk akal 12 tahun tertekan. Buktinya, jalan-jalan berdua dengan pacarnya beramai ramai ke luar kota,” katanya.

“Dan terbukti di persidangan, ia (saksi korban SDS) menginap di hotel sama pacarnya (pacar saksi korban yang berinisial R),” jelas Hotma Sitompul.

Dia juga mengaku, bahwa kasus dugaan pelecehan seksual tersebut adalah perbuatan rekayasa.

“Hal ini telah di rekayasa, dan kita punya buktinya. Nanti saat putusan, akan kita tunjukkan,” ucapnya.

Sementara itu, salah satu anggota tim kuasa hukum dari terdakwa JEP, Ditho Sitompul mengungkapkan dalam pledoi tersebut, juga di lampirkan beberapa bukti.

Bukti-bukti yang ada di pledoi itu, menguatkan bahwa terdakwa tidak melakukan perbuatan seperti apa yang di tuntutkan.

“Ini ada foto-fotonya (saksi korban dan pacarnya) dan ini menunjukkan ada konspirasi,” ujarnya.

Dan kami mendapatkan bukti mengejutkan, bahwa ia (saksi korban) pergi ke hotel bersama pacarnya sebelum visum.

“Kami memiliki bukti cek in hotel yang di tandatangani oleh mereka berdua,” bebernya. (tik/fir)

 

Advertisement Gempur Rokok Ilegal Bea Cukai Malang
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Hukrim

Sidang SPI, Kuasa Hukum: JPU Bertumpu Asumsi Bukan Pembuktian

Diterbitkan

,

Oleh

Firmansyah
Sidang SPI, Kuasa Hukum: JPU Bertumpu Asumsi Bukan Pembuktian
Tim kuasa hukum Julianto Eka Putra (JEP) Jeffry Simatupanhg, S.H., MH usai mengikuti sidang. (foto istimewa)

 

KABARMALANG.COM – Sidang perkara dugaan kasus pelecehan seksual di sekolahan Selamat Pagi Indonesia (SPI) Kota Batu di Pengadilan Negeri (PN) Malang, pada Rabu (10/8/2022).

Dalam sidang yang ke-23 tersebut, beragendakan Replik atau jawaban dari JPU (Jaksa Penuntut Umum) atas Pledoi dari kuasa hukum terdakwa pada Rabu lalu.

Tim kuasa hukum Julianto Eka Putra (JEP) Jeffry Simatupanhg, S.H., MH usai mengikuti sidang kepada awak media menyampaikan, jika JPU selalu mengulang-ulang dakwaan dan tetap bertumpu kepada asumsi bukan pembuktian.

“Dalam perkara ini kami sampaikan, bahwa pelapor dan yang mengaku sebagai korban hanya satu orang. Tidak tepat kalau di katakan 8 sampai 9 orang,” ujarnya.

“Itu tidak tepat. Karena menurut keterangan dari Pengadilan Negeri pun sudah menyatakan dalam rilisnya, bahwa dalam perkara kami yang di duga korban atau sebagai pelapor hanya satu orang saja,” lanjut Jeffry.

Pihaknya, melihat Polda Jatim memiliki Hotline untuk kasus-kasus eksploitasi ekonomi.

“Kami pun juga punya hotline untuk bagi Alumni SPI yang merasa, bahwa laporan-laporan ini adalah laporan-laporan bohong atau laporan-laporan fitnah kami membuka hotline juga,” ucapnya.

“Kenapa? sekali lagi kalau ada saksi yang bisa melaporkan 15 orang, kami bisa menghadirkan 100 orang yang menyatakan, bahwa laporan ini adalah bohong,” ucapnya lagi.

“Dan sekali lagi kami menyatakan, bahwa laporan ini ada yang merekayasa bahwa laporan ini adalah bohong fitnah berdasarkan pembuktian di pengadilan. Kami tidak megatakan ini hanya berdasarkan asumsi,” sambung Jeffry.

Menurutnya, perkara tersebut sudah selesai pembuktiannya dan pihak kuasa hukum JEP menyatakan, bahwa perkara yang tengah di tanganinya adalah perkara asumsi.

“Ya, karena perkara ini tidak ada alat bukti yang mendukung bahwa terdakwa tidak melakukan tindak pidana pelecehan seksual atau kekerasan seksual. Maka kami meminta berdasarkan pembuktian, berdasarkan fakta persidangan untuk membebaskan terdakwa dari segala tuntutan hukum,” tegas Jeffry.

Tak hanya itu, tim kuasa hukum JEP juga  meminta kepada Majelis Hakim agar berdiri tegak dalam kebenaran mempertimbangkan alat bukti, dan fakta-fakta persidangan yang sudah terungkap di persidangan.

“Majelis Hakim, Jaksa Penuntut Umum kami tim pensihat hukum kami memegang fakta itu, memegang alat bukti itu, memengang transkipnya,” katanya.

Tidak boleh ada penyelundupan hukum atau penghilangan fakta persidangan. Dan bagi kami banyak fakta-fakta persidangan yang tidak di cantumkan dalam tuntutan.

“Bahkan dalam replik yang sudah kami ungkap dalam jawaban kami, dan Jaksa tetap sekali lagi bertupu pada asumsi,” pungkas Jeffry.

Sementara itu, JPU Yogi Sudharsono, S.H., MH menyampaikan, jika pihaknya telah melayangkan tuntutan kepada JEP dengan kurungan penjara maksimal 15 tahun dengan denda Rp 300 juta dan restitusi kepada terduga korban sebesar Rp 44 juta.

“Dalam sidang ini tadi kami mengulas kembali dari apa yang telah kita sampaikan pada saat persidangan sebelumnya. Jadi, semua sudah di hadirkan dan memperkuat dakwaan kita,” ungkapnya.

Yogi Sudharsono yang juga sebagai Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum Kejari Batu) ini menyebutkan, jika sidang lanjutan dengan agenda duplik di tunda selama dua Minggu, yakni pada 24 Agustus 2022 mendatang.

“Karena pada 17 Agustus 2022 mendatang yang sebenarnya menjadi agenda sidang ditunda, bertepatan dengan hari Kemerdekaan ke-77 RI,” ujarnya.

“Jadi, sidang di tunda dua Minggu dan kembali di gelar pada 24 Agustus 2022 dengan jadwal agenda pembacaan duplik dari terdakwa,” tutupnya. (tik/fir)

 

Lanjutkan Membaca

Hukrim

Sidang SPI, JPU Tetap Yakin Terdakwa Bersalah

Diterbitkan

,

Oleh

Firmansyah
Sidang SPI, JPU Tetap Yakin Terdakwa Bersalah
Kasi Pidum Kejari Kota Batu, Yogi Sudarsono saat usai sidang di Pengadilan Negeri Malang.

 

KABARMALANG.COM – Sidang ke 23 kasus dugaan kekerasan seksual oleh JE bos Sekolah Selamat Pagi Indonesia Kota Batu (SPI Kota Batu) di Pengadilan Negeri Malang, Rabu (10/8/2022).

Sidang tersebut beragendakan jawaban dari JPU (Jaksa Penuntut Umum) atas Pledoi kuasa hukum terdakwa di PN Malang.

Kasi Pidum Kejari Kota Batu, Yogi Sudarsono usai sidang menyampaikan bahwa tim JPU tetap berkeyakinan bahwa terdakwa yang berinisial JE, tetap salah dalam melakukan kekerasan seksual.

“Berdasarkan bukti yang telah kita hadirkan pada saat persidangan, terdakwa bersalah melakukan tindak pidana seperti yang kita tuduhkan,” kata Yogi, Rabu (10/8/2022).

Hal itu sudah di katakan dalam replik dengan berbagai bukti yang telah di sampaikan, baik keterangan dari saksi, surat ahli dan lainnya telah di sajikan dalam persidangan.

Perlu di ketahui, JPU telah melayangkan tuntutan kepada JE dengan kurungan penjara maksimal 15 tahun, denda Rp300 juta dan restitusi kepada korban sebesar Rp44 juta.

“Ini tadi mengulas kembali dari yang kita sampaikan pada saat persidangan sebelumnya. Semua sudah di hadirkan dan memperkuat dakwaan kita,” beber Yogi.

Sementara itu, sidang lanjutan ke-24 dengan agenda duplik di tunda selama dua Minggu, yakni pada 24 Agustus 2022 mendatang.

Sebab, pada 17 Agustus 2022 mendatang yang sebenarnya menjadi agenda sidang ke-24 kasus SPI Kota Batu ini di tiadakan, karena libur bertepatan dengan hari Kemerdekaan ke-77 RI.

“Sidang di tunda 2 Minggu dan kembali pada 24 Agustus 2022 pembacaan replik dari terdakwa,” kata Yogi. (tik/fir)

 

Lanjutkan Membaca

Hukrim

Ada Enam Saksi Diperiksa Polisi Terkait Bentrokan Warga dan PSHT

Diterbitkan

,

Oleh

Firmansyah
Ada Enam Saksi Diperiksa Polisi Terkait Bentrokan Warga dan PSHT
Polresta Malang Kota, Kodim 0833/Kota Malang, Batalion Ampeldento Brimob usai menggelar pertemuan dengan perwakilan Arema, dan PSHT. (foto istimewa)

 

KABARMALANG.COM – Peristiwa terjadi bentrokan antara rombongan perguruan pencak silat dengan warga Sukun Kota Malang pada Minggu (7/8/2022) pagi.

Bentrokan tersebut terjadi di Jalan Sudanco Supriadi Sukun Kota Malang. Akibat kejadian itu tiga orang menjadi korban.

“Ada korban dua dari PSHT dan satu dari warga. Kami pastikan korban yang ada di RSSA ini bisa pulih kembali,” ujar Kapolresta Malang Kota Kombespol Budi Hermanto, Selasa (9/8/2022).

Buher sapaan akrabnya di sapa Kapolresta Malang Kota Kombespol Budi Hermanto, sudah memanggil pihak terkait bentrok tersebut.

Tujuannya meredam adanya insiden bentrokan tersebut, ia bersama Kodim 0833/Kota Malang, dan Batalion Ampeldento Brimob, menggelar pertemuan dengan perwakilan Arema, dan PSHT.

“Dengan adanya kejadian itu kami dari Polresta Malang Kota, Kodim 0833/Kota Malang, Batalion Ampeldento Brimob, menggelar pertemuan yang di hadiri juga dari perwakilan Arema, dan PSHT,” ucapnya.

Langkah tersebut, kata Buher sebagai upaya untuk meminimalisir adanya kerusuhan, kedepan Perguruan silat manapun bisa memberitahu kepada pihak kepolisian, agar bisa melakukan pengawalan serta mengamankan jalur jika ada kegiatan konvoi.

“Apabila melaksanakan perguruan silat beritahu ke kepolisian, sehingga tau persiapan pengamanan pengawalan pengamanan jalur. Hindari konvoi, kalau banyak moril tinggi sehingga melihat orang menjadi musuh, kami berharap tidak ada konvoi di kota malang. Kalau ada kami tindak tegas. Sehingga urusannya terhadap hukum,” jelasnya.

Buher berharap setelah kejadian ini, tidak ada lagi konflik antara Perguruan silat dengan warga di wilayah hukum Kota Malang.

“Kami tak ingin konflik berkembang, itu jadi stigma negatif perguruan pencak silat. Ayo sama-sama membantu suasana kondusif. Apalagi rangkaian ulang tahun Arema dan HUT RI,” tandasnya.

Sementara Kasatreskrim Polresta Malang Kota, AKP Bayu Febrianto Prayoga mengatakan, saat ini sudah mengantongi keterangan saksi.

“Sedikitnya ada 6 orang saksi telah kami mintai keterangan. Semua saksi itu baik dari anggota PSHT maupun warga yang kami minta keterangan,” katanya.

Bayu menambahkan, selain memeriksa saksi, pihaknya ikut mengamankan kendaraan roda dua yang ada di lokasi.

“Sementara hanya korban Luka, dan 3 motor diamankan dari lokasi kejadian,” tegasnya.

Bayu menyatakan, belum ada penetapan tersangka karena masih proses pendalaman.

“Masih belum, kami masih pemeriksaan saksi dan korban. Saksi lain nanti berkembang, tunggu pendalaman saksi,” jelasnya. (tik/fir)

 

Lanjutkan Membaca

Terpopuler

WeCreativez WhatsApp Support
Marketing Kabarmalang.Com