Connect with us

Hukrim

Sidang Pelaku Mutilasi Pasar Besar, Saksi Keluar Takut Dibunuh

Diterbitkan

||

KABARMALANG.COM – Kasus mutilasi yang sempat mengegerkan Pasar Besar Malang sudah masuk proses persidangan. Pelaku mutilasi Sugeng Santoso (49), didakwa telah melakukan pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati atau seumur hidup.

Hari ini, merupakan sidang keempat kalinya yang digelar di Pengadilan Negeri Kota Malang, dengan agenda pemeriksaan saksi yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Ada empat saksi diperiksa dalam persidangan digelar, Rabu (20/11/2019) siang itu. Salah satunya Slamet (49), yang merupakan rekan Sugeng. Sebelum pemeriksaan digelar, Slamet memilih keluar dari ruang sidang karena mengakut takut akan dibunuh oleh terdakwa.

Persidangan dipimpin majelis hakim Dina Pelita Asmara itupun sempat diskors. Namun, tak lama Slamet kembali dibawa ke ruang sidang untuk memberikan kesaksiannya.

JPU Wanto Hariyono ditemui usai persidangan membenarkan, jika saksi mengaku takut karena diancam akan dibunuh oleh Sugeng dan keluarganya.

“Dalam pengakuannya, saksi takut akan dibunuh. Makanya tadi sempat keluar sebelum pemeriksaan. Sesuai berkas perkara nanti ada 14 saksi dan dua sakai ahli. Hari ini masih empat saksi kita hadirkan,” ujar Wanto di PN Kota Malang Jalan Ahmad Yani, Rabu sore.

Wanto menambahkan, dalam surat dakwaan, Sugeng dikenakan Pasal 340 KUHP atas pembunuhan berencana dan Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan. “Ancamannya hukuman mati, seumur hidup dan alternatif 20 tahun penjara,” imbuhnya.

Selama pemeriksaan Slamet dicerca banyak pertanyaan oleh LBH Peradi Malang Raya yang menjadi pendamping hukum terdakwa. Tak berhenti disitu, majelis hakim turut melakukan hal sama.

Setelah keterangan Slamet dinilai tidak selaras dengan berkas acara pemeriksaan, persidangan pun menjadi molor.

Ketua LBH Peradi Malang Raya Iwan Kuswardi ditemui usai persidangan menjelaskan, pendampingan hukum diberikan kepada Sugeng berlandaskan panggilan moral dan kewajiban kepada negara untuk menjalankan profesi secara profesional.

“Kami ingin masyarakat tidak mampu pun, mendapatkan perlakuan sama dan hak-hak yang dilindungi oleh negara, dalam hal ini melalui kami LBH Peradi Malang Raya. Jadi negara wajib hadir memberikan pendampingan bagi mereka tengah ada persoalan hukum,” ungkap Iwan Kuswardi.

Pihaknya mengaku, ada beberapa hal yang membuat terdakwa Sugeng dinilai berhak mendapatkan pendampingan secara maksimal. Ditanya terkait hal-hal yang disampaikan itu, Iwan enggan menjelaskan. “Itu nanti,” celutuknya.

Terkait persidangan hari ini, Iwan menuturkan, sesuai agenda sidang untuk pembuktian fakta kasus yang menjerat Sugeng, dengan menghadirkan empat saksi itu.

“Tapi fakta yang ada, belum menyentuh subtansi ada korban meninggal, tetapi tahu siapa itu. Hanya diketahui dari bau busuk sesuai keterangan saksi. Mereka hanya melihat dari jauh saja,” tuturnya.

Iwan mengatakan, kliennya membantah ketika saksi Slamet mengaku diancam akan dibunuh hingga takut memberikan kesaksian di muka persidangan.

“Klien kami membantah itu, kami jadi tertarik dengan namanya Slamet ini. Kok pinter banget, hanya lulusan SD bisa minta kepada jaksa untuk tidak bersaksi ketika ada Sugeng. Karena ini dimungkinkan oleh undang-undang, saya rasa tidak semua orang tahu hak itu,” ucap Iwan.

Ditambahkan, dari keterangan empat saksi yang dihadirkan, tiga menyampaikan keterangan sesuai fakta. Namun, khusus saksi Slamet dalam keterangannya cenderung berubah-ubah sampai membuat proses persidangan berjalan lama.

“Yang tiga saksi sangat rasional sesuai fakta. Tapi satunya yakni Slamet justru banyak berubah ubah, ketika ditanya jaksa bilang A, ditanya hakim bilang B, ditanya kami bilang C. Sementara kita mencari kebenaran materiil,” tandasnya.

Seperti diketahui, polisi akhirnya mengungkap fakta sebenarnya dari kasus mutilasi di Pasar Besar, Kota Malang. Sebelum dimutilasi, wanita tanpa identitas tersebut, ternyata lebih dulu dibunuh oleh Sugeng Santoso (49).
Pembunuhan dilakukan Sugeng dengan cara menggorok leher korban.

Pembunuhan dilakukan mantan warga Jodipan, Blimbing, Kabupaten Malang, ini dengan menggunakan gunting, pada Rabu (8/5/2019), dini hari. Barang bukti yang sejak awal olah TKP ditemukan di lokasi kejadian. (ary/rjs)

Klik untuk mengirimkan komentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Mantan Manajer Bank Mega Tilap 5,7 M

Diterbitkan

||

Mantan Manajer Bank Mega Tilap 5,7 M
Mantan Branch Manager Bank Mega Malang, Yanti Andarias saat dirilis oleh Polres Malang. (Foto : Imron Haqiqi)

 

KABARMALANG.COM – Mantan manajer cabang Bank Mega Malang dibekuk Polres Malang. Tersangka bernama Yanti Andarias, 44.

Dialah tersangka dugaan penipuan dan penggelapan modus investasi bodong. Korbannya adalah para nasabah Bank Mega. Totalnya 8 orang dari Kota Malang dan Kabupaten Malang.

Kerugian total nasabah Bank Mega, mencapai Rp 5,7 miliar. Kapolres Malang, AKBP Hendri Umar membenarkan. Dua korban adalah warga Kabupaten Malang.

“Lalu, ada 6 orang korban warga Kota Malang. Jadi sementara total korban ada 8 orang,” ungkap Hendri saat konferensi pers di Mapolres Malang, Kamis (26/11) siang.

Rinciannya, dua warga Kabupaten Malang merugi Rp 940 juta. Kerugian 6 korban warga Kota Malang Rp 4 miliar lebih. Sehingga, total kerugian nasabah Bank Mega Rp 5,7 miliar.

Hendri menjelaskan, modus investasi tersangka adalah cashback deposito. Investasi akan mendapat cashback dari mantan manajer bank ini.

Padahal, program ini tidak pernah ada di Bank Mega. Deposito abal-abal ini rekayasa mantan manajer bank itu.

Nasabah dijanjikan mendapat bunga bulanan yang diserahkan langsung. Jika ditotal, maka nasabah mendapat bunga 12 sampai 18 persen.

“Padahal normalnya bunga hanya sekitar 5 persen. Jadi tidak masuk akal,” kata mantan Kasubbag Bungkol Spripim Polri itu.

Hendri melanjutkan, korban menyetor dana selama 1 tahun lebih. Uang diberikan mulai Juni 2019 hingga Agustus 2020.

“Uang tersebut diputar untuk mencicil bunga kepada nasabah lain. Uang digunakan di luar kepentingan Bank Mega,” tandasnya.

Namun, belakangan bunga deposito ini macet. Tersangka juga tidak bisa memenuhi setoran bunga bulanan. Sehingga, nasabah Bank Mega akhirnya melapor ke polisi.

Terkait jumlah tersangka, Hendri menyebut baru satu orang. Polisi menyatakan ini berdasarkan hasil pemeriksaan terakhir.

Pelaku melakukan seorang diri. Semua disiapkan sendiri,” terang Hendri.

 

Kasus Terendus Sejak September

Kepolisian sudah mengendus kasus ini sejak September lalu. Penyelidikan dan barang bukti terus dikumpulkan.

Begitu alat bukti cukup, tersangka akhirnya ditangkap. Namun, pengembalian uang bukan ranah kepolisian.

Hanya saja, Polres Malang tetap membuka posko laporan. Ini untuk mewadahi kemungkinan adanya korban lain.

“Pengembalian uang nasabah perlu proses dengan OJK. Apabila ada korban lain yang melapor, kami tampung,” tegas Hendri.

Polisi mengamankan sejumlah barang bukti. Misalnya, 10 lembar slip penyetoran deposit Bank Mega. Lalu, 57 lembar slip bukti setoran BCA Rp 243.546.000. Serta, 29 lembar slip bukti setoran BCA Rp 178.425.000.

Yanti bakal dijerat pasal 378 dan 372 KUHP. Pasal penipuan penggelapan ini mengancamnya dengan penjara 4 tahun.(im/yds)

Lanjutkan Membaca

Hukrim

Mantan Narapidana Pencabulan Tewas Gantung Diri

Diterbitkan

||

Mantan Narapidana Pencabulan Tewas Gantung Diri
Petugas saat menangani jenazah korban gantung diri Prangas Sumbermanjing Wetan. (Foto : Istimewa)

 

KABARMALANG.COM Mantan narapidana gantung diri di Prangas, Klepu, Sumbermanjing Wetan. Pria itu bernama Siswanto, 44. Dia warga Sumbersuko Dampit.

Dia ditemukan gantung diri di perbukitan Prangas Rabu (25/11). Lehernya tergantung di pohon jati dengan selendang merah.

Aksi gantung diri diduga akibat depresi. Siswanto adalah mantan narapidana pencabulan.

“Kemungkinan besar korban depresi. Dia stres dari kasus yang menjeratnya. Yakni pencabulan anak usia dini,” terang Kasubag Humas Polres Malang, Iptu Bagus Wijanarko, Kamis (26/11).

Sebelumnya, Siswanto sudah menyelesaikan masa tahanan. Duda itu keluar dari LP Lowokwaru 5 bulan lalu.

Siswanto telah menjalani hukuman akibat pencabulan anak usia dini. Namun, sanksi sosial tampaknya masih mengikutinya di luar penjara.

“Orang sekitarnya mungkin masih memberi sanksi sosial. Sehingga, korban depresi,” ujar Bagus.

Korban gantung diri Siswanto

Aksi gantung diri tersebut bermula saat korban berpamitan pergi. Dia pamit kepada tetangganya untuk mencari bunga di hutan Prangas.

Dia pergi pada Minggu (22/11) sekitar pukul 13.00. Tapi, Siswanto tak kunjung pulang.

Warga yang peduli mencarinya selama 2 hari. Namun, mantan narapidana ini tak ditemukan.

Tahu-tahu, warga yang peduli, mendengar Siswanto gantung diri.

“Jenazahnya ditemukan Rabu kemarin pukul 15.30 WIB,” sambungnya. Jajaran Polsek Sumbermanjing Wetan pun menurunkan tubuhnya dari pohon.

Jenazahnya dipulangkan ke rumah duka di Desa Sumbersuko, Dampit.

 

Korban Menghuni Lapas Selama 10 Tahun

Kalapas Lowokwaru, Anak Agung Gde Krisna membenarkan identitas Siswanto. Menurut Agung, Siswanto mantan narapidana Lapas.

Kasus pencabulannya terungkap tahun 2010. Dia diadili dan divonis tahun berikutnya.

“Dia diputus tahun 2011. Kena pasal UU Perlindungan Anak. Hukumannya 10 tahun,” kata Agung kepada Kabarmalang.com, Kamis siang (26/11).

Agung mengaku menyesalkan kematian korban gantung diri. Karena, Siswanto berperilaku baik selama di Lapas.

“Tentu kami menyesal. Dia baik selama di Lapas. Setiap tahun hampir selalu dapat remisi karena kelakuan baiknya,” tambah Agung.

Menurutnya, korban gantung diri tak kuat menahan stigma masyarakat. Karena, kasusnya berkaitan dengan pencabulan.

“Kami tidak mau ada Siswanto-Siswanto berikutnya. Tolong dihentikan labeling pada mantan narapidana. Karena, kalau dilabeling terus, pilihannya hanya dua. Berbuat jahat lagi atau gantung diri,” terangnya.

Karena itu, Agung semakin terdorong untuk meningkatkan program asimilasi. Dia membangkitkan program-program adaptasi bagi narapidana.

Lapas Lowokwaru getol membikin pengajian. Kegiatan peribadatan untuk non muslim juga didorong penuh.

Pelatihan dan pembekalan pun diberikan kepada warga binaannya. Supaya, mereka bisa cepat beradaptasi begitu keluar dari Lapas.

“Kami jor-joran bikin kegiatan di luar lapas. Bikin SAE L’Sima. Bikin car free day. Tujuannya untuk sosialisasi asimilasi, kepada warga binaan dan masyarakat,” terang pria berdarah biru bangsawan Bali itu.

“Banyak yang tanya, apa tidak berisiko bawa keluar napi? Ya risiko. Tapi kami harus melakukannya. Supaya tak ada Siswanto-Siswanto lainnya,” tutupnya.(im/carep-04/yds)

Lanjutkan Membaca

Hukrim

Minta Barang Rampasan, GMBI Datangi Kejari Kabupaten Malang

Diterbitkan

||

GMBI ketika ditemui Kejari Kabupaten Malang
Anggota GMBI saat ditemui pihak Kejari Kabupaten Malang

KABARMALANG.COM – Kejaksaan Negeri Kabupaten Malang, Senin (25/11/2020), didatangi sejumlah orang dari LSM GMBI (Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia).

Mereka meminta paksa barang bukti sitaan negara berupa truk, untuk dibawa pulang.

Padahal, barang sitaan itu sebelumnya disita negara sebab dijadikan sarana ilegal logging.

Alhasil, Hakim pun memutuskan bahwa truck tersebut dijadikan barang bukti yang masuk sebagai barang rampasan negara.

Kehadiran GMBI langsung ditemui oleh pihak Kejari Kabupaten Malang, Rabu (25/11/2020), siang, untuk melakukan dialog dengan mereka.

Hanya saja, situasi berubah menjadi sedikit memanas saat GMBI tak bisa menerima penjelasan pihak Kejari Kabupaten Malang. Mereka tetap bersikukuh agar keinginannya bisa terwujud.

Kejari Kabupaten Malang saat menemui anggota GMBI meminta barang rampasan

Kejari Kabupaten Malang saat menemui anggota GMBI meminta barang rampasan

Namun, ketegangan segera mereda, setelah aparat kepolisian yang sebelumnya berada di lokasi segera mengambil tindakan, menggiring anggota GMBI keluar dari kantor Kejari Kabupaten Malang.

Ketua LSM GMBI Distrik Sidoarjo, Nunuk Rusianita yang juga hadir mengklaim bahwa truk tersebut saat itu statusnya dipinjamkan, dan pemiliknya tidak mengetahui atau terlibat dalam perkara yang sudah diputuskan.

“Truk itu dipinjam, pemiliknya tidak terkait. Makanya, kami mau meminta dan membawa barang bukti itu. Kalau memang mau dilelang, silakan jaksa yang harus membayar,” katanya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejari Kabupaten Malang, Sobrani Binzar menjelaskan bahwa tuntutan GMBI itu (truk) sudah memiliki keputusan hukum tetap atau inkracht.

Berdasarkan petikan keputusan Pengadilan Negeri Kepanjen Nomor 167/Pid.B/2020/PN.Kpn menyatakan, bahwa barang bukti merupakan rampasan negara.

“Jadi kedatangan mereka (GMBI) datang untuk meminta dan membawa pulang kendaraan (truk) yang telah menjadi rampasan negara,” ujar Sobrani Binzar saat dikonfirmasi di kantor Kejari Kabupaten, Rabu (25/11/2020).

Aparat kepolisian mengamankan kehadiran GMBI ke Kejari Kabupaten Malang

Aparat kepolisian mengamankan kehadiran GMBI ke Kejari Kabupaten Malang

“Jadi, perkara itu sudah memiliki kekuatan hukum tetap (inkracht) bahwa barang bukti menjadi barang rampasan negara,” sambungnya.

Sobrani mengatakan bahwa keputusan final pengadilan itu mengacu pada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.

“Keputusan final pengadilan, mengacu Undang-Undang baru Nomor 18 Tahun 2013. Jika alat angkut transportasi baik darat, laut, udara digunakan dalam kejahatan, akan dirampas negara,” tuturnya.

Menurut Sobrani, pihaknya sudah beberapa kali menerima kehadiran GMBI tersebut dengan tuntutan yang sama, yakni untuk mengambil barang rampasan.

“Dalam setiap pertemuan itu, kami sudah jelaskan, dalam hal ini kami bertugas menganut pada ketentuan perundangan-undangan yang berlaku,” tuturnya.

Sobrani mengaku, pihaknya saat ini tengah menunggu proses apresial oleh Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) untuk menghitung nilai barang rampasan.

“Kita sudah meminta dan menunggu hasil apresial KPKL terhadap barang rampasan itu. Dan nantinya proses lelang juga KPKNL, karena barang rampasan nilainya diatas Rp 35 juta, proses lelang dilakukan oleh KPKNL,” tutupnya. (im/rjs)

Lanjutkan Membaca
Advertisement Iklan Hari Jadi Kabupaten Malang dari Disparbud Kabupaten Malang
Advertisement Iklan Hari Jadi Kabupaten Malang dari Perumda Tirta Kanjuruhan

Terpopuler

WeCreativez WhatsApp Support
Marketing Kabarmalang.Com