Connect with us

Serba Serbi

Program Sama Rasa, Beri Kemudahan Pembuatan SIM Bagi Disabilitas

Diterbitkan

,

Program Sama Rasa, Beri Kemudahan Pembuatan SIM Bagi Disabilitas
Kasat Lantas Polresta Malang Kota, Kompol Ramadhan Nasution saat menemui penyandang disabilitas yang sedang mengurus SIM (Foto: Istimewa)

 

KABARMALANG.COMPolresta Malang Kota meluncur program Sama Rasa. Inovasi ini untuk memberikan kemudahan pembuatan SIM bagi para penyandang disabilitas.

Program Sama Rasa ini launcing pada Jumat (29/1) di Satpas SIM Polresta Malang Kota di Jalan Dokter Wahidin, Kecamatan Klojen.

“Program juga launching secara langsung oleh Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Leonardus Simarmata dan Dandim 0833/ Kota Malang, Letkol Arm Ferdian Primadhona,” ujar Kasat Lantas Polresta Malang Kota, Kompol Ramadhan Nasution, Sabtu (30/1).

Pada launcing itu, lanjut Rama, Kapolresta dan Dandim memberikan helm kepada penyandang disabilitas yang sedang membuat SIM di Satpas SIM.

Rama juga menjelaskan program “Sama Rasa” tersebut, merupakan bagian dari commander wish Kapolri, Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo.

Program tersebut untuk memberi kemudahan proses pembuatan SIM dari tahap awal sampai tes. Sehingga, dia menyesuaikan dengan kebutuhan para penyandang disabilitas tersebut.

“Jadi dalam program SIM ini kami mudahkan dari pendaftaran, uji teori sampai praktek. Khusus untuk praktek, kami siap beberapa kendaraan yang telah modifikasi, dan kami lebarkan patok tempat praktiknya,” terangnya.

Rama juga mengungkapkan pelayanan SIM ini dapat berjalan setiap saat, baik sendiri maupun secara bersama.

“Bisa setiap hari, tapi bisa juga kolektif. Silakan untuk komunitas disabilitas masing – masing, bisa bareng -bareng jadinya,” jelasnya.

“Semoga masyarakat berkebutuhan khusus bisa terlayani baik dengan layanan ini. Sementara, untuk sekedar tambahan informasi, pelayanan SIM D ini terkena tarif Rp 50 ribu untuk pembuatan baru, dan Rp 30 ribu untuk perpanjangan,” tutupnya. (carep-03/fir)

Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Serba Serbi

Kapolresta Malang Kota Canangkan Gerakan Santri Bermasker

Diterbitkan

,

Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Leonardus Simarmata saat pencanangan Gerakan Santri Bermasker (Foto: Istimewa)

 

KABARMALANG.COM – Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Leonardus Simarmata mencanangkan gerakan santri bermasker, Jumat (26/2). Terhelat di Ponpes Ilmu Al Quran Darul Hidayah Kota Malang.

Kegiatan ini diikuti oleh para pengurus ponpes dan santri. Hadir juga jajaran Polresta Malang Kota dan Letkol Arm Ferdian Primadhona, Dandim 0833/Kota Malang.

Kapolresta Makota mengatakan bahwa kegiatan santri bermasker sudah dicanangkan dan dirumuskan oleh ibu Gubernur Jatim, Pangdam V Brawijaya dan Kapolda Jatim.

“Gerakan santri bermasker akan menjadi contoh bagi warga masyarakat. Karena diyakini bahwa santri adalah orang-orang yang disiplin,” ujar Leonardus kepada wartawan, Jumat (26/2)

“Santri juga selalu diawasi oleh pengasuh, sehingga gerakan bermasker diawali dari Pondok Pesantren,” tambahnya.

Kapolresta meminta doa untuk TNI dan Polri,  supaya bisa terus mengawal pencegahan Covid-19.

‘Khususnya bagi anggota yang berada di garda terdepan. Setiap hari terus melakukan pencegahan dan sosialisasi akan racing kepada warga yang terkena covid 19,” tutupnya.

Letkol Arm Ferdian Primadhona, Dandim 0833/Kota Malang sepaham. Gagasan santri bermasker merupakan pemberian edukasi.

“Termasuk juga bagian dari sosialisasi kepada seluruh santri di Jawa Timur, bahwa pentingnya penggunaan masker,” terangnya.

Ferdian menuturkan bahwa kehadiran Kapolresta dan Dandim untuk memberikan motivasi kepada para santri.

“Semoga di masa pandemi ini para santri tetap semangat belajar, berdoa dan ibadah. Karena apa yang kita lakukan ini berguna bagi bangsa, negara dan agama,” jelasnya.

Gus Hisa Al Ayubi, Pimpinan Ponpes Ilmu Al Quran Darul Hidayah berterima kasih Ponpesnya ditunjuk sebagai tempat pencanangan gerakan santri bermasker.

“Terima kasih kepada santri dan jamaah, karena hari ini adalah hari istimewa, yang mana bapak Kapolresta dan Bapak Dandim bisa hadir di tempat kami,” tuturnya.

Menurutnya gerakan santri bermasker adalah gerakan yang sangat luar biasa, karena di pesantren setiap hari penghuninya berkumpul, namun selalu menjaga iman.

“Karena iman yang menjadi patokan kami sampai saat ini kita dijauhkan dari bala dan musibah,” terangnya.

Pihaknya pun sejak awal pandemi covid 19 hingga saat ini selalu mengikuti protokol kesehatan. Juga melakukan penyemprotan desinfektan ke rumah-rumah warga. (fat/fir)

Lanjutkan Membaca

Serba Serbi

Pasutri di Malang Banyak Anak, Mandi Pun Harus Rebutan

Diterbitkan

,

Pasutri di Malang Banyak Anak, Mandi Pun Harus Rebutan
Pasutri Mulyono dan Partina yang punya 16 anak di Kota Malang. Anaknya menunjukan dua kartu keluarga mereka (Foto: istimewa)

 

KABARMALANG.COM – Pasutri Mulyono, 46, dan Partina, 45, warga Sukun di Kota Malang viral. Sebab keduanya memiliki 16 anak.

Kisahnya mencuri perhatian publik karena putri ketujuh mereka. Yakni Ariyana memposting foto keluarganya di akun TikTok. Hingga kini sudah mencapai jutaan viewers.

Kabar Lainnya : Pasutri Tipu Warga Bali, Modus Jual Masker Rp 600 Juta.

Keluarga viral itu tinggal di Jalan Krakatau, Sukun, Kota Malang. Mereka menghuni sebuah rumah berukuran sekitar 4 x 12 meter.

Keduanya resmi menikah pada tahun 1986. Mereka mulai memiliki anak pertama pada 1988. Dengan nama Sri Handayani. Selain itu, semua anak pasutri di Malang itu lahir normal.

Mulyono menceritakan, saat ini anaknya berjumlah 14. Karena anak ketiganya telah meninggal saat berumur tujuh bulan. Lalu anak terakhir meninggal saat berusia 21 hari.

“Sebanyak 16 anak, 10 di antaranya perempuan. Sementara, sisanya berjenis kelamin laki-laki,” ujar Mulyono kepada wartawan, Jumat (26/2).

“Awalnya ingin punya anak laki-laki. Karena anak pertama sampai keempat itu perempuan semua. Akhirnya yang kelima keluar laki-laki. Dengan nama Robby Min Anwar,” tambahnya.

Partina ikut menambahkan. Jumlah anaknya berjumlah belasan. Sehingga keluarga mereka sampai memiliki sebanyak dua buah kartu keluarga.

Dia juga menceritakan suka duka membesarkan dan merawat anak-anaknya tersebut. Misalnya, kalau mau mandi saja anak sampai harus rebutan.

“Kalau merawat ya capek tapi ramai. Kan juga senang. Mau mandi aja sempat bertengkar. Bahkan kalau mau tidur pada rebutan mau dekat dengan ibunya,” katanya.

Partina adalah pedagang warung kaki lima di Jagalan, Klojen, Kota Malang. Sedangkan, Mulyono berprofesi sebagai penjual bakso keliling.

Meski hidup sederhana, keluarganya tetap hidup bahagia dan bersyukur. “Syukurnya anak tidak rewel. Makan nasi sama garam aja bisa sehat kok,” ungkapnya.

Pasangan Partina dan Mulyono saat ini tinggal bersama delapan anak. Sisanya ada yang sudah bekerja di luar kota. Ada juga yang sudah menikah.

“Delapan ini masih sekolah semua. Satu orang masih kuliah. Tiga orang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tiga orang Sekolah Dasar (SD). Kemudian satu orang Taman Kanak-Kanak,” tutupnya.(fat/yds)

Lanjutkan Membaca

Serba Serbi

Viral Kata Pelakor, Ini Penjelasan Pakar Bahasa UMM

Diterbitkan

,

Viral Kata Pelakor, Ini Penjelasan Pakar Bahasa UMM
Dosen Prodi Bahasa Indonesia UMM, Faizin, M.Pd (Foto: istimewa)

 

KABARMALANG.COM – Sepekan terakhir memang kata pelakor menjadi viral lagi. Kata pelakor sendiri adalah akronim kata dari perebut laki orang.

Belakangan ini jagat maya heboh dengan berita penyanyi Nissa Sabyan. Dia mendapat kritikan serius karena tudingan pelakor.

Nissa  menjadi orang ketiga dalam pernikahan Ayus Sabyan-Ririe Fairus. Ayus Sabyan adalah rekan Nissa dalam grup Sabyan Gambus.

Dosen Prodi Bahasa Indonesia UMM, Faizin, M.Pd turut berkomentar. Tetapi, terkait diksi pelakor yang viral dari perspektif linguistik.

“Kalau kemunculan kata pelakor pastinya kan di medsos. Yang rame terkait orang ke 3 sebenarnya. Awal pasti muncul kata tersebut saya tidak memiliki datanya,” ujar Faizin kepada Kabarmalang.com, Rabu (24/2).

“Yang jelas itu muncul di dunia popular. Karena di KBBI pun tidak ada. Yang ada hanya kosakata dasarnya. Yakni perebut dan perampas. Itu yang bisa mewakili kata tersebut,” tambahnya.

Faizin kurang sepakat dengan istilah pelakor. Karena kata itu lebih berkonotasi negatif terhadap perempuan.

Dia mengatakan bahwa seakan perempuan yang menjadi subjek pelaku.

“Padahal secara pelaksanaan, kan pelakunya dua pihak. Karena sama-sama punya keinginan. Entah yang memulai laki-laki atau perempuan,” ungkap Kepala Divisi Internasionalisasi Bahasa UMM itu.

Menurut Faizin, diksi pelakor menjadi tendensius kepada perempuan. Seolah pria tidak punya sumbangsih. Padahal, bisa saja pria yang merayu duluan, lalu si perempuan mau.

“Memang dalam aspek kebahasaaan harusnya dua-duanya. Misalnya pebinor (perebut bini orang). Kalau akronim kan tinggal dibikin,” tuturnya.

Dari situ padanan kata baru bisa terlihat seimbang. Porsi laki-laki juga ada akronimnya. Sehingga, ketika ada polemik rumah tangga, bisa terlihat siapa pelakunya.

Kabar Lainnya : Mahasiswa UMM Ciptakan Aplikasi Koreksi Ejaan.

Menurutnya, simbolisme bergantung dari pelaksanaan, bagaimana hal itu terjadi. Kalau memang subjeknya perempuan yang merebut berarti pelakor.

“Jangan lari ke objek person yang salah. Misalnya laki-laki yang merebut. Kenapa perempuan yang jadi pelakor, padahal laki-laki yang memulai,” tegasnya.

Kata merebut dalam KBBI berarti merampas atau ambil paksa. Artinya si objek tidak mau.

“Kalau perebut, berarti suaminya tidak mau. Kalau memang suaminya melakukan apa-apa. Maka menurut saya tidak tepat denotasinya mengatakan perebut,” jelasnya.

Sehingga, istilah perebut tidak sekonyong-konyong boleh melabeli perempuan. Yaitu yang menjadi orang ketiga di sebuah keluarga.

Faizin memberikan alternatif diksi yang lebih pas. Pelakor bisa ganti dengan diksi wanita idaman lain. Untuk si pria bisa disematkan istilah lelaki tidak setia. Begitu juga sebaliknya.(fat/yds)

Lanjutkan Membaca

Terpopuler

WeCreativez WhatsApp Support
Marketing Kabarmalang.Com