Connect with us

Serba Serbi

Tahun Ini Selesai, Jembatan Srigonco Dilelang Akhir Agustus

Diterbitkan

||

Jembatan Srigonco, Bantur Kabupaten Malang

 

KABARMALANG.COM – Jembatan Srigonco dilelang akhir Agustus. Kepastian ini disampaikan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga (DPUBM) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang.

“Bantuan dari Kementerian PUPR berupa Kerangka Baja untuk jembatan itu sekarang sudah proses pengambilan, untuk pelaksanaannya nunggu leleng, ya akhir bulan ini (Agustus, red) mulai proses lelang,” ujar Romdhoni Kepala DPUBM Pemkab Malang, Jumat (28/08/2020).

Menurut Romdhoni, jembatan tersebut memiliki panjang sejauh 102 meter, dan memiliki lebar 9 meter tersebut, saat dalam proses penghitungan ulang untuk pelaksanaan lelang pemasangan Kerangka Baja.

“Besaran pagu pemasangan kerangka baja itu masih dalam pembahasan, akhir Agustus ini proses lelang. Pekerjaan pemasangan kerangka baja itu tidak menunggu PAK,” jelasnya.

Untuk itu, lanjut Romdhoni, di tahun 2020 ini, pengerjaan pemasangan kerangka baja jembatan dapat selesai.

“Tahun ini (2020, red) pemasangan kerangka baja jembatan kami targetkan selesai. Tahun depan (2021, red) menyelesaikan kelangkapannya,” tegasnya.

Sebagai informasi, pembangunan jembatan Srigonco, Bantur tersebut dimulai sejak tahun 2017 silam, dengan menelan anggaran yang bersumber dana dari Anggaran Pendapatan, dan Belanja Daerah sebesar Rp 18 miliar.

Pembangunan jembatan Srigonco tersebut dilakukan untuk mendukung kemajuan pariwisata di wilayah Malang Selatan, karena jembatan Srigonco itu merupakan merupakan jalur dari Kecamatan Bantur menuju Jalur Lintas Selatan (JLS), karena di sekitar JLS banyak destinasi wisata pantai. (ski/fir)

Serba Serbi

2015, Erupsi Freatik Gunung Bromo Setinggi 1 Kilometer

Diterbitkan

||

Foto : Gunung Bromo (dokumen Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru)
Foto : Gunung Bromo (dokumen Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru)

KABARMALANG.COM – Pusat Vulkanologi, Mitigasi, Bencana Gunung Api (PVMBG) merilis letusan freatik berpotensi terjadi di Gunung Bromo. Bukan kali ini saja, pada 2015 silam letusan sama pernah terjadi. Dengan tinggi erupsi sampai 1 kilometer.

“Tahun 2015 pernah, kolom abu mencapai tinggi 1 kilometer lebih dari puncak Gunung Bromo,” kata Kepala Bidang Gunung Api PVMBG, Hendra Gunawan kepada Kabarmalang.com, Rabu (21/10/2020).

Hendra mengatakan, ketika itu, erupsi terjadi secara terus menerus selama beberapa jam. Namun, kemudian aktifitas gunung berketinggian 2329 mdpl itu mereda.

“Letusan menerus beberapa jam kemudian reda, berfluktuasi,” ujar Hendra menjelaskan.

Menurut Hendra, terjadinya erupsi akan membawa dampak, apabila terbawa angin. Bisa sampai ke pemukiman penduduk atau menutupi area perkebunan.

“Bila terbawa angin, maka abunya terbawa ke atap-atap rumah penduduk atau ke perkebunan,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Hendra turut menjelaskan, apa itu letusan freatik. Yakni, letusan uap air.

Letusan itu, tidak secara langsung diakibatkan oleh naiknya magma menuju permukaan sebuah gunung berapi.

“Letusan freatik itu adalah letusan uap air, jadi letusan yang tidak secara langsung diakibatkan oleh naiknya magma menuju permukaan,” jelas Hendra.

Sementara letusan freatik, lanjut Hendra, dapat hanya berupa uap air putih saja. Namun, bisa juga letusan disertai material lama yang berada pada dinding lubang kawah ikut terbawa uap air.

“Sehingga kemudian berwarna abu keputihan saat letusan terjadi,” pungkas Hendra.

Meski demikian, kata Hendra, aktifitas Gunung Bromo belum menunjukkan aktifitas secara signifikan.

Hanya saja, dengan status Waspada level II, direkomendasikan jarak aman diluar radius 1 kilometer dari kawah. Selain, adanya potensi letusan freatik secara tiba-tiba.

“Tremor bersifat menerus (terekam setiap hari), tapi energi tremornya masih kecil (amplitudo tremor rata-rata hanya 1 mm). Bandingkan dengan amplitudo tremor menjelang atau saat erupsi yang mencapai amplitudo rata-rata 25 mm,” paparnya.

PVMBG mengingatkan, letusan freatik Gunung Bromo berpotensi terjadi secara tiba-tiba tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas.

Rekomendasi sudah dikeluarkan, agar masyarakat, pengunjung wisata dan pengelola wisata tidak memasuki kawasan dalam radius 1 kilometer dari kawah aktif. (rjs/yds)

Lanjutkan Membaca

Serba Serbi

PVMBG : Ada Potensi Letusan Freatik Gunung Bromo

Diterbitkan

||

Foto : Gunung Bromo (dokumen Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru)
Foto : Gunung Bromo (dokumen Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru)

KABARMALANG.COM – Pusat Vulkanologi, Mitigasi, Bencana Gunung Api (PVMBG) merekomendasikan adanya bahaya letusan freatik Gunung Bromo. Aktifitas dalam radius 1 kilometer dari kawah pun dilarang. Apa maksud letusan freatik itu ?.

Kepala Bidang Gunung Api PVMBG, Hendra Gunawan mengatakan, letusan freatik adalah letusan uap air. Letusan itu, tidak secara langsung diakibatkan oleh naiknya magma menuju permukaan sebuah gunung berapi.

“Letusan freatik itu adalah letusan uap air, jadi letusan yang tidak secara langsung diakibatkan oleh naiknya magma menuju permukaan,” jelas Hendra kepada Kabarmalang.com, Rabu (21/10/2020).

Menurut Hendra, pada kondisi tersebut, magma masih berada pada kedalaman dan tidak bergerak naik.

Akan tetapi panas magma dapat memanaskan lapisan air tanah di kedalaman 1 sampai 2 kilomter dibawah kawah.

“Sehingga lama-lama air di kedalaman tersebut akan mempunyai tekanan tinggi dan berakibat letusan freatik,” bebernya.

PVMBG telah merekomendasikan agar masyarakat menghindari aktifitas radius 1 kilometer dari kawah Gunung Bromo.

Tujuannya, mengantisipasi terjadinya letusan freatik (yang biasanya berupa letusan kecil).

“Maka yang berada diluar radius 1 kilometer akan relatif aman,” kata Hendra.

Sementara letusan freatik, lanjut Hendra, dapat hanya berupa uap air putih saja. Namun, bisa juga letusan disertai material lama yang berada pada dinding lubang kawah ikut terbawa uap air.

“Sehingga kemudian berwarna abu keputihan saat letusan terjadi,” pungkas Hendra.

Meski demikian, kata Hendra, aktifitas Gunung Bromo belum menunjukkan aktifitas secara signifikan.

Hanya saja, dengan status Waspada level II, direkomendasikan jarak aman diluar radius 1 kilometer dari kawah.

Selain, adanya potensi letusan freatik secara tiba-tiba.

“Tremor bersifat menerus (terekam setiap hari), tapi energi tremornya masih kecil (amplitudo tremor rata-rata hanya 1 mm). Bandingkan dengan amplitudo tremor menjelang atau saat erupsi yang mencapai amplitudo rata-rata 25 mm,” paparnya.

Laporan PVMBG per 20 Oktober 2020 mencatat, aktifitas Gunung Bromo secara visual cukup jelas hingga kabut 0-III.

Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang dan tinggi 50-300 meter di atas puncak kawah pada gunung berketinggian 2329 mdpl itu.

Tercatat juga gempa tremor menerus yang terekam dengan amplitudo 0.5-1 mm (dominan 1 mm).

PVMBG menyatakan, status Gunung Bromo adalah Waspada Level II. Dengan merekomendasikan masyarakat di sekitar Gunung Bromo dan pengunjung atau wisatawan tidak memasuki kawasan dalam radius 1 kilometer dari kawah aktif.

Masyarakat di sekitar Gunung Bromo, baik itu pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba – tiba dan tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas.

Sebelumnya, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru mengumumkan hingga saat ini wisata Gunung Bromo belum dapat dikunjungi wisata.

Selain mencegah penyebaran Covid-19, pembatasan kunjungan wisatawan berdasarkan rekomendasi Pusat Vulkanologi, Mitigasi, Bencana Gunung Api (PVMBG) terkait bahaya aktifitas Gunung Bromo. (rjs/yds)

Lanjutkan Membaca

Edukasi

Museum Batu Mulia Intip Peninggalan Purba

Diterbitkan

||

Museum Batu Mulia Universitas Brawijaya (Foto : Fathi)

KABARMALANG.COM – Destinasi wisata museum bertumbuh di Kota Malang. Satu di antaranya Museum Batu Mulia Universitas Brawijaya (UB).

Pengunjung diajak mengintip sekelumit peninggalan zaman purbakala. Museum Batu Mulia terletak di lantai dasar rektorat UB.

Anda bisa mengunjunginya tanpa dikenakan tarif. Ada 140 koleksi batu terpajang di situ.

Batuan diletakkan di dalam dua lemari kaca besar. Tampak bongkahan pra sejarah terpajang, lengkap dengan keterangan.

“Museum ini mengulas batu akik didapat dari batu-batuan purbakala. Akik itu batu yang berkembang lama,” ujar Kotok Gurito, Kepala Humas Universitas Brawijaya kepada Kabarmalang.com, Rabu (21/10).

Menurut Kotok, batu-batunya kuno dan menyiratkan kebudayaaan.

Ada batuan dari kayu yang terpendam lama. Lalu menjadi batu. Proses pembatuan dari kerangka binatang juga ada.

“Melihat itu, bayangan kita dibawa ke masa lalu. Ini untuk menggambarkan zaman purba seperti apa. Ya dari bebatuan-bebatuan ini,” jelasnya.

Ia menambahkan, museum diresmikan pada tahun 2016.

“Bagi sebagian orang, batu kuno adalah koleksi dan hobi,” tutupnya.(fat/yds)

Lanjutkan Membaca
Advertisement Iklan Sosialisasi Perwali Kota Batu
Advertisement Iklan cukai Pemkot Batu

Terpopuler

WeCreativez WhatsApp Support
Marketing Kabarmalang.Com