Connect with us

Edukasi

Kesehatan Disabiltas Terus Menjadi Perhatian, Ini yang Dilakukan Dinsos Kota Malang

Diterbitkan

,

Fotor 157499546928574

KABARMALANG.COM – Kesehatan para disabilitas terus menjadi perhatian Dinas Sosial Kota Malang. Terkait Hal tersebut, telah dilaksanakan pendistribusian bantuan untuk penyandang disabilitas oleh Dinas Sosial (Dinsos) Kota Malang setiap tahun berjalan dengan lancar.

Dalam satu tahun pendistribusian dilakukan sebanyak sembilan kali, ditempatkan di setiap kecamatan di Kota Malang. Penyandang disabilitas terus mendapatkan perhatian dari Dinsos Kota Malang agar permasalahan kesehatan mereka terus terjaga dan dapat melanjutkan hidup dengan layak.

Melalui, Kepala Seksi Rehabilitasi dan Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Penyandang Disabilitas Dinsos Kota Malang, Laily Qodariyah mengatakan pendistribusian bantuan untuk disabilitas terus dilakukan dan tepat sasaran.

“Program dari APBD Kota Malang itu berupa beras, susu satu dus, kemudian biskuit, Itu dalam satu tahun sembilan kali dan sudah kami lakukan dengan tepat,” ujar Laily, Senin (25/11/2019).

Sementara itu, disinggung mengenai penanganan disabilitas Laily mengungkapkan bahwa ada prosedur tersendiri untuk mengidentifikasi permasalahan penyandang disabilitas.

“Secara umum secara standart, pertama kita melakukan penjangkauan, pendataan, nah biasanya harus ada kuota karena keterbatasan anggaran. Itu kita kerjasama dengan puskesmas yang ada di tingkat kelurahan dan kecamatan,” terangnya.

“Dan kerjasama dengan forum keluarga penyandang disabilitas kecamatan. Kita minta data ke mereka, kemudian menyiapkan terapisnya secara kuota jenis disabilitas dan kita bikin kelompok-kelompok,” tambah Laily.

Kini, rata-rata Dinsos melakukan terapi untuk 40 anak di setiap kecamatan untuk pemerataan disetiap bulannya.

“Alhamdulillah dari kuota setiap kecamatan itu 40 anak, ya kita pemerataan. Pada saat terapi itu orangtua melakukan parenting skill untuk terapis anaknya, sehingga pada saat terapi itu orangtua akan melanjutkan terapi di rumah,” jelas Laily.

“Kan cuma 1 bulan sekali, jadi terapi itu berkelanjutan oleh orangtuanya,” pungkasnya. (ary/fir)

Advertisement

Terpopuler