Connect with us

Serba Serbi

Napak Tilas Para Pejuang di Kampoeng Sedjarah Kota Malang

Diterbitkan

,

IMG 20230614 172813
Eko Irawan mengajak peserta berkeliling untuk menjelaskan sejarah yang ada di Tawangsari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang (foto istimewa) (11/06)

 

KABARMALANG.COM – Napak tilas para pejuang Kampoeng Sedjarah di Kelurahan Sumbersari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Minggu (11/06/2023).

Daerah tersebut terdapat sejarah yang cukup menarik untuk di kulik salah satunya jembatan yang berada di depan balai RW dan markas komando gerilya kota yang di pimpin Kapten Soemitro masa agresi Belanda.

Fungsi Markas Komando gerilya adalah sebagai markas utama memantau pergerakan pasukan Belanda dan tempat pertemuan para pejuang.

Pahlawan asal Malang, Mayor Hamid Rusdi, adalah Komandan dari Kapten Soemitro dalam rangka konsolidasi pasukan TNI.

Wilayah Sumbersari tersebut menjadi markas komando gerilya yang paling strategis karena dekat dengan pusat kota.

Maka dari itu, Kelurahan Sumbersari meminta kepada Komunitas Reenactor dan masyarakat RW 01 untuk mengikuti lomba kampung tematik yang di selenggarakan pemerintah Kota Malang pada 2016 dengan nama “Kampoeng Sedjarah”.

Eko Irawan memulai perjalanan Napak Tilas dari Jembatan yang berada tepat di depan Balai RW (11/06)

Eko Irawan memulai perjalanan Napak Tilas dari Jembatan yang berada tepat di depan Balai RW.

Pada tahun 2017 Kampoeng Sedjarah masuk sebagai nominasi 15 besar pemenang lomba kampung tematik dan berhak memperoleh hadiah berupa realisasi usulan yang telah di ajukan oleh Kelurahan Sumbersari.

Dan usulan tersebut, yaitu Pembangunan Gedung untuk museum dan kini museum itu di beri nama Museum Reenactor.

Dari peristiwa dan kejadian di atas Museum Reenactor Malang dan Skydope Creative berkolaborasi menggelar “Seminar dan Napak Tilas Kampoeng Sedjarah”.

Setelah selesai seminar, anggota Museum Reenactor mengajak sebagian peserta untuk melakukan Napak Tilas, dikarenakan di kampung ini memiliki banyak potensial sejarah yang cukup menarik untuk di ketahui keberadaannya, terutama para peserta yang pertama kali mendengar sejarah kampung tersebut.

Titik pertama pemberhentian kegiatan Napak Tilas yang dipandu oleh Eko Irawan yaitu di Jembatan yang berada tepat di depan Balai RW 01 desa Tawangsari.

Jembatan ini sangat bersejarah, mengapa dikatakan bersejarah karena memiliki nilai historis dan salah satu ikon penting untuk masyarakat Tawangsari.

Salah satu peserta antusias mencoba replika yang ada di Museum Reenactor (11/06)

Salah satu peserta sangat antusias mencoba replika yang ada di Museum Reenactor.

Jembatan desa Tawangsari dibangun oleh pemerintah Belanda saat mereka masih menjajah Indonesia. Tujuan utama pembangunannya adalah untuk menghubungkan kawasan Tawangsari dengan kawasan lain di sekitarnya.

Selama bertahun-tahun, jembatan ini menjadi saksi berbagai peristiwa dan perubahan yang terjadi dari masa ke masa.

Dengan nilai historis Jembatan Tawangsari menjadi simbol yang mempersatukan masa lalu, kini dan masa depan kampung tersebut, serta mengingatkan akan perjalanan sejarah yang pernah terjadi.

Kemudian para peserta, diajak untuk melewati rumah bekas markas gerilya para pejuang yang tentunya masih dijelaskan oleh Eko Irawan.

“Disini adalah rumah yang menjadi saksi bisu dari pejuang-pejuang jaman dahulu, rumah yang dulunya dipakai untuk markas gerilya,” ungkap Eko.

Rumah ini, kata Eko menjadi tempat dimana para pejuang bersembunyi dan merencanakan aksi-aksi perlawanan terhadap penjajah.

Selanjutnya sampai di penghujung Napak Tilas yaitu di Museum Reenactor, peserta disambut dengan display senjata yang menarik. Selain itu, museum ini juga memamerkan senjata berat seperti meriam.

Bukan hanya melihat-lihat tetapi peserta juga antusias untuk berfoto dengan menggunakan senjata  dan kostum yang ada di museum.

Menurut Didan salah peserta seminar mengungkapkan kegembiraannya. “Belajar seperti ini sangat efektif, tidak hanya melihat saja tetapi kita dapat mencoba senjata-senjata dan kostum yang digunakan oleh para pejuang,” ujarnya.

“Hal ini adalah pengalaman baru bagi saya,” sambungnya.

Dalam setiap penjelasan yang Eko sampaikan, menyajikan informasi tentang konteks sejarah, pengaruh dalam pertempuran dan cerita di balik penggunaannya.

Napak tilas tersebut dapat dijadikan sarana pengenalan sejarah oleh museum reenactor untuk memperkenalkan sejarah ke masyarakat lebih luas.

Dengan display senjata replika yang bisa di coba dan di pegang merupakan pembeda dari museum lainnya sehingga itu merupakan Unique Selling Point (USP) yang disuguhkan oleh Museum Reenactor. (*)

 

Iklan

Terpopuler