Connect with us

Hukrim

Melawan Dengan Clurit, Dua Curanmor Ditembak Mati

Diterbitkan

||

KABARMALANG.COM – Dua pelaku curanmor tewas setelah ditembus peluru petugas kepolisian. Mereka ditembak, karena melawan saat akan ditangkap. Hasil identifikasi kedua pelaku berinisial E (30) dan MS (21) yang merupakan warga Pasuruan.

Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander mengatakan, kedua pelaku merupakan pelaku curanmor yang seringkali melakukan aksinya di wilayah Kota Malang. Penyelidikan mengungkap, keduanya pernah mencuri kendaraan bermotor setidaknya di 50 TKP.

Penangkapan sendiri bermula dari pengintaian petugas. Ketika kepergok akan beraksi di Jalan Tlogojoyo, Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, keduanya justru melawan petugas.

“Saat ditangkap melawan, satu bawa pisau kemudian satu pelaku lain membawa clurit. Hingga akhirnya dilakukan tegas dan terukur terhadap keduanya,” kata Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander, Selasa (8/10).

Dijelaskan, tim khusus yang telah lama mengintai gerak-gerik pelaku akhirnya melarikan keduanya ke rumah sakit. Tapi, dalam perjalanan keduanya meninggal dunia.

“Dua pelaku itu adalah inisial E (30) dan MS (21), yang sama-sama warga Wonorejo, Pasuruan. Meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Dari penyidikan kami, ada 50 TKP lebih, dan 34 merupakan TKP wilayah hukum Polsek Klojen,” jelas Dony.

Bersamaan Polres Malang Kota mengamankan satu pelaku lain berinisial DH yang tertangkap setelah mencuri satu unit motor di Jalan Sarangan, Kota Malang, akhir September 2019 lalu.

“Untuk tersangkan inisial DH ini mencuri motor dengan menggunakan kunci T. Masih kita dalami apakah satu komplotan dengan tersangka sebelumnya,” tandas Dony. Pihaknya menghimbau kepada masyarakat agar hati-hati dalam memarkir kendaraannya, demi keamanan warga dihimbau untuk menggunakan kunci ganda.

“Bagi masyarakat, kami terus himbau agar menggunakan kunci ganda. Dan kami terus melakukan upaya preventif dan refresif guna meminimalisir terjadinya kasus pencurian motor di wilayah hukum Polres Malang Kota,” tutupnya. (rjs/fir)

Klik untuk mengirimkan komentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Pelaku Pembunuhan Kakek Ternyata Penebang Liar

Diterbitkan

||

Oleh

Pelaku Pembunuhan Kakek Ternyata Penebang Liar
Dua penebang liar pelaku pembunuhan, dikenal biang onar. (Carep-04)

KABARMALANG.COM – Pelaku pembunuhan kakek di Tirtoyudo, punya profesi ilegal. Mereka ternyata penebang liar.

Yaitu, pria inisial SML, 60, dan SMR, 36. Yang warga Desa Kepatihan, Kecamatan Tirtoyudo itu.

“Saat kejadian, mereka sedang melakukan menebangi pohon kopi. Mereka penebang liar,” ujar Kapolres Malang, AKBP Hendri Umar kepada wartawan, di Polres Malang, Rabu (21/10).

Pelaku pembunuhan memakai modus ini untuk menghabisi Juanto, 70. Yang warga Dusun Tumpaklengkong, Sumbertangkil Tirtoyudo ini.

Baca juga : Dibunuh Teman, Kakek Tirtoyudo Dibuang ke Sungai.

Keduanya, menjadi penebang liar di kebun kopi Sumbertangkil.  Saat kejadian, 11 Oktober malam, mereka mengajak Juanto.

Setibanya di lokasi penebangan, mereka mulai bekerja. Saat sedang menebang, Juanto banyak bicara. Dua pelaku pembunuhan kesal.

Selain itu, dua penebang liar ini menumpuk rasa benci. Emosi mereka meluap ketika Juanto banyak bacot.

Di situlah, dua penebang liar menghabisi Juanto. Kepala korban dihantam kayu.

Setelah itu, dua penebang liar membuang Juanto ke sungai. Mereka juga mendatangi dua orang.

Yakni, saksi inisial TR dan M. pelaku pembunuhan mengkondisikan dua saksi untuk beralibi.

Sehingga, aksi pembunuhan dua penebang liar tidak ketahuan. Namun, mayat korban ditemukan Satreskrim Polres Malang.

Dari situ, penyidik menemukan kejanggalan. Dua penebang liar pun dilacak dan ditangkap.

Ada sejumlah barang bukti diamankan. Misalnya, dua gergaji yang dipakai penebang liar.

Satu buah handphone korban pembunuhan. Satu batang kayu yang dipukulkan kepada kepala korban.

Serta, satu buah motor yang digunakan penebang liar. Kapolres Malang masih menunggu laporan warga.

Yakni, pemilik kebun kopi yang digasak penebang liar. Dia siap menerima laporan warga atas pengerusakan kebun kopi.

“Masih kami tunggu laporan dari warga,” tambah Hendri.

Hendri menyebut, dua penebang liar ini biang onar. Bukan cuma kebun kopi itu saja yang ditebangi. Ada 7 kebun lain yang dirusak.

“Ada tujuan dua penebang liar ini merusak. Karena, mereka tidak suka dengan Pemdes Sumbertangkil,” tutup Hendri.

Dua penebang liar dikenakan tiga pasal. Yakni, pasal 388 KUHP, 340 KUHP dan 351 KUHP.

Dua penebang liar terancam hukuman 20 tahun. Namun, penyidikan masih bisa berkembang. Terutama, jika ditemukan unsur perencanaan dalam pembunuhan.

Jika ini benar, dua penebang liar dikenai 340 KUHP. Ancaman hukumannya seumur hidup.(im/carep-04/yds)

Lanjutkan Membaca

Hukrim

Korban Suka Tebang Pohon Sambil Bugil

Diterbitkan

||

Korban Suka Tebang Pohon Sambil Bugil
Tersangka kasus pembunuhan saat digelandang di Polres Malang, Rabu (21/10). (Foto: Imron Haqiqi).

KABARMALANG.COM – Korban pembunuhan Juarto, 70, ditemukan dalam kondisi bugil. Warga Sumbertangkil Tirtoyudo itu ternyata telanjang saat dibunuh.

“Fakta itu kita ketahui setelah melakukan penyelidikan. Saat ditemukan di sungai pun, korban tidak menggunakan busana,” tutur Kapolres Malang, AKBP Hendri Umar, Rabu (21/10).

Setiap menebang pohon, Juarto selalu telanjang. Hendri juga membenarkan hal ini.

Hanya saja Hendri mengaku tidak alasannya. Juarto telanjang saat menebang pohon dibenarkan tersangka.
Yakni, MSL, 60 dan SMR, 36.

Apakah itu ritual saat memotong pohon? Dua tersangka mengaku tidak tahu.

Tapi, bugil saat menebang sudah jadi kebiasaan Juarto.

Seperti diketahui, 11 Oktober 2020, Juarto dibunuh.

Alasannya, kedua tersangka tidak suka dengan korban. Juarto dinilai terlalu banyak bicara.

Baca juga : Dibunuh Teman, Kakek Tirtoyudo Dibuang ke Sungai

Sehingga membuat kedua tersangka kesal. Batang kopi berdiameter 10 centimeter adalah alat pembunuhannya.

“Kala itu, tersangka MSL memukulkan kayu ke punggung korban. Hingga korban tersungkur dan tidak bergerak,” sambung Hendri.

“Beberapa saat, dia ditunggu dan dipastikan tidak bernyawa. Kedua tersangka akhirnya membuang korban ke sungai. Lokasinya tidak jauh dari lokasi kejadian,” tuturnya.

Tanggal 16 Oktober, mayat telanjang Juarto ditemukan Polres Malang. Awalnya, penyidik mengira mayat tersebut meninggal secara wajar.

“Namun setelah dievakuasi ke RSSA Malang, ditemukan kejanggalan. Ditemukan bekas pukulan benda tumpul. Dan tikaman-tikaman senjata tajam tak beraturan. Dari situlah kami berasumsi bahwa korban tewas karena dibunuh,” tutur Hendri.

“Setelah melakukan penyelidikan ternyata benar. Akhirnya ditemukanlah dua tersangka ini yang melakukan pembunuhan,” sambungnya.

Akibat perbuatannya itu, kedua tersangka itu dijebloskan ke penjara. Tuntutannya adalah pembunuhan sebagaimana pasal 388 KUHP.

Namun pihak kepolisian masih mendalami kejadian tersebut. Terutama, menyidik unsur perencanaan pembunuhan terhadap korban.

Jika benar, keduanya terancam pasal 340 KUHP. Sampai saat ini, kedua tersangka sedang diperiksa intensif.

“Kalau pasal KUHP 388 tersangka terancam hukuman 20 tahun. Jika penyelidikan kami terbukti, tersangka dikenakan pasal 340 KUHP. Tersangka bisa terancam hukuman seumur hidup,” tutup Hendri.(im/yds)

Lanjutkan Membaca

Hukrim

Dibunuh Teman, Kakek Tirtoyudo Dibuang ke Sungai

Diterbitkan

||

Dibunuh Teman, Kakek Tirtoyudo Dibuang ke Sungai
Kapolres Malang saat menggela konferensi pers kasus pembunuhan, Rabu (21/10). (Foto: Imron Haqiqi)

KABARMALANG.COM – Seorang kakek dibunuh teman sendiri di Tirtoyudo. Korban bernama Juarto, 70. Dia warga Dusun Tumpaklengkong, Desa Sumbertangkil, Kecamatan Tirtoyudo.

Dia dibunuh MSL, 60 dan SMR, 36. Dua pelaku berasal dari Desa Kepatihan, Tirtoyudo.

Juarto dibunuh pada 11 Oktober 2020, sekitar pukul 22.00.

Insiden itu bermula ketika si kakek didatangi dua pelaku. Korban diajak menebang pohon kopi milik warga Desa Sumbertangkil.

“Awalnya SMR dan MSL berangkat ke kebun kopi. Setibanya di sana, MSL lanjut menjemput si kakek. Sedangkan SMR menunggu di kebun kopi,” terang Kapolres Malang, AKBP Hendri Umar saat konferensi pers, Rabu (21/10).

Setibanya di kebun kopi tersebut. Mereka memulai penebangan. Si kakek dan dua pelaku menggunakan gergaji.

“Saat penebangan, tersangka menilai korban banyak bicara. Hingga membuat kedua tersangka kesal. Lantas saat istirahat korban dibunuh,” ujar perwira kelahiran Solok, Sumatera Barat.

Diduga kuat, tersangka sudah lama dendam. Emosi terhadap korban menumpuk. Hari pembunuhan itu diduga momen puncak emosi kedua tersangka.

Pembunuhan si kakek dilakukan dengan menggunakan batang kayu kopi. Ukuran diameter kayu 10 centimeter.

“Tersangka MSL memukulkan batang kayu ke arah punggung korban. Korban tersungkur dan tidak bergerak. Setelah dibunuh dan dipastikan meninggal, korban dibuang ke sungai,” tuturnya.

Baca juga : Sidang Pelaku Mutilasi Pasar Besar, Saksi Keluar Takut Dibunuh

Tanggal 16 Oktober lalu, mayat korban ditemukan. Satreskrim Polres Malang awalnya mengira mayat tersebut meninggal wajar.

“Namun setelah dievakuasi ke RSSA Malang, ada kejanggalan. Ditemukan bekas kekerasan. Berupa, pukulan benda tumpul dan tikaman sajam tak beraturan. Dari situlah kami berasumsi bahwa korban tewas karena dibunuh,” tutur Hendri.

“Setelah melakukan penyelidikan akhirnya ditemukanlah dua tersangka ini. Kakek itu diduga dibunuh oleh dua tersangka,” sambungnya.

Akibat pembunuhan si kakek, tersangka dikenakan tiga pasal. Yakni, pasal 388 KUHP, junto 340 KUHP.

Serta, pasal 351 KUHP. Yakni, penganiayaan berat yang menyebabkan kematian.

“Kalau pasal KUHP 388 tersangka terancam hukuman 20 tahun. Tergantung penyidikan. Apakah korban dihabisi dengan perencanaan,” tambahnya.

“Jika iya, tersangka dikenakan 340 KUHP. Tersangka bisa terancam hukuman seumur hidup,” tutup Hendri.(im/yds)

Lanjutkan Membaca
Advertisement Iklan Sosialisasi Perwali Kota Batu
Advertisement Iklan cukai Pemkot Batu

Terpopuler

WeCreativez WhatsApp Support
Marketing Kabarmalang.Com