Connect with us

Serba Serbi

Tradisi Nyekar Saat Idul Fitri Berpotensi Klaster, Ini Kata Kemenag

Diterbitkan

,

Tradisi Nyekar Saat Idul Fitri Berpotensi Klaster, Ini Kata Kemenag
Tradisi nyekar oleh umat Islam di salah satu tempat pemakaman di Kota Malang (Foto: istimewa)

 

KABARMALANG.COM – Sebagian umat Islam di Indonesia melaksanakan tradisi nyekar atau berziarah ke makam keluarga maupun leluhur.

Kegiatan nyekar sudah menjadi tradisi saat bulan ramadan dan hari raya Idul Fitri. Biasanya masyarakat akan berbondong-bondong menuju pemakaman.

Nyekar adalah kegiatan untuk menziarahi makam leluhur dan mendoakan mereka sembari menabur bunga. Termasuk juga untuk mengingat kematian.

Namun, karena tahun ini masih dalam suasana pandemi covid-19.,beberapa kalangan mengimbau agar masyarakat tak perlu melakukan nyekar makam saat hari raya idul fitri.

Moh Rosyad, Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kantor Kementerian Agama Kota Malang mengatakan kegiatan nyekar ketika momen Idul Fitri berpotensi membuat kerumunan.

“Nyekar kan tidak mungkin untuk hari-hari terakhir ini, pemerintah berhati-hati mencegah penyebaran covid-19. Juga mencegah kerumunan yang memungkinkan terjadinya klaster penyebaran Covid-19,” ujar Rosyad kepada Kabarmalang.com.

Rosyad mengatakan ada kegiatan nyekar sebelum hari raya Idul Fitri atau di akhir Ramadan. Ada pula masyarakat yang setelah salat ied langsung berziarah ke makam.

“Sesudah salat Idul Fitri itu banyak dari jamaah  yang nyekar ke kuburan leluhur, jadi tidak harus sebelum, banyak juga yang sesudah,” terangnya.

Ia menuturkan bahwa berziarah ke makam itu ada syariatnya, tapi hal tersebut tidak wajib hukumnya. Malah lebih wajib untuk menjaga dan melindungi diri kita dari Covid-19.

“Di Jakarta ada larangan loh untuk nyekar. Bukan kita melarang orang berbuat baik, tetapi berbuat baik itu harus melihat dulu manfaat dan kerugiannya,” akhirnya.(fat/yds)

Iklan

Terpopuler