Connect with us

Edukasi

Direktur RSUB Jadi Guru Besar UB Bidang Kesehatan Masyarakat

Diterbitkan

,

Direktur RSUB Jadi Guru Besar UB Bidang Kesehatan Masyarakat
Foto: Prof. Dr.dr. Sri Andarini, M.Kes menyampaikan orasi ilmiah saat agenda pengukuhan guru besar UB (potongan layar).

 

KABARMALANG.COM – Universitas Brawijaya (UB) kembali mengukuhkan dua profesor baru di Gedung Widyaloka, UB, Kota Malang dengan protokol kesehatan covid-19.

Pertama adalah Prof. Ir. Puguh Surjowardojo, MP di bidang Ilmu Manajemen Ternak Perah dari Fakultas Peternakan (Fapet).

Ia merupakan profesor aktif ke 19 di Fapet dan profesor aktif ke 195 di UB serta menjadi profesor ke 279 dari keseluruhan profesor yang dihasilkan UB.

Kedua, Prof. Dr.dr. Sri Andarini, M.Kes di bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat dari Fakultas Kedokteran (FK).

Ia merupakan profesor aktif ke 17 dari FK dan profesor aktif ke-196 di UB serta menjadi profesor ke 280 dari keseluruhan profesor yang dihasilkan UB.

Sri Andarini saat ini menjabat sebagai Direktur Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB) sekaligus dosen di FK UB.

Kepala Humas UB, Kotok Gurito membenarkan. “Benar, baru saja ada pengukuhan guru besar Sabtu (8/5),” ujar Kotok kepada Kabarmalang.com, Senin (10/5).

Dalam agenda pengukuhan itu Sri Andarini menyampaikan orasi ilmiahnya berjudul Penatalaksanaan Obesitas secara Holistik dengan Pendekatan Kedokteran Keluarga.

Ia menerangkan obesitas merupakan penyakit kronis dengan prevalensi yang terus meningkat di seluruh dunia. Termasuk Indonesia dan akan meningkatkan beban ekonomi bagi masyarakat yang cukup besar.

“Survei Riset Kesehatan Dasar (RKD/Riskesdas) menunjukkan setiap tahun terjadi peningkatan prevalensi obesitas dari 10,5 persen pada tahun 2007. Menjadi 14,8 persen pada tahun 2013 dan menjadi 21,8 persen di 2018,” ujar Sri Andarini melalui kanal youtube Universitas Brawijaya.

Kabar Lainnya : 75 Warga UB Positif Covid-19.

“Obesitas sentral juga mengalami peningkatan cukup tinggi dari 18,8% pada 2007, 26,6% pada 2013, dan menjadi 31% pada 2018,” sambung mantan Dekan FK UB itu.

Menurutnya, penyelesaian masalah obesitas dapat terlaksana dengan pendekatan kedokteran keluarga.

Yakni melalui prinsip-prinsip holistik komprehensif, bersinambung, kordinasi dan kolaborasi, berorientasi pada pencegahan, dalam tatanan individu, keluarga dan komunitas.

“Prinsip holistik, artinya penyelesaian masalah tidak hanya peninjauannya dari faktor biologi. Tetapi juga peninjauan dari dimensi psikologis, sosial, lingkungan serta berorientasi pada keluarga dan komunitasnya,” jelasnya.

Sri Andarini mengatakan untuk memaksimalkan peran dokter keluarga perlu adanya modul-modul penatalaksanaan obesitas menggunakan pendekatan kedokteran keluarga.

“Tujuannya untuk memudahkan dokter, penderita obesitas dan masyarakat memahami dan melaksanakan program intervensi obesitas,” terangnya.

Sri Andarini menunturkan setelah menjadi guru besar bidang kesehatan masyarakat, ia akan terus mengabdi untuk kebermanfaatan masyarakat.

“Saya akan berupaya untuk meningkatkan kemampuan saya dalam bidang kesehatan masyarakat. Terutama kedokteran keluarga, ini untuk kemaslahatan bangsa dan negara,” ucapnya kepada Kabarmalang.com, Senin (10/5).

Tak lupa, ia juga berpesan kepada masyarakat untuk selalu mentaati protokol kesehatan Covid-19 di masa pandemi ini.

“Harus menjaga prokes, jaga jarak, pakai masker, cuci tangan, dan jangan berkerumun, itu yang penting,” katanya.

“Kemudian meningkatkan daya tahan tubuh dengan berolahraga dan mengonsumsi vitamin. Lalu happy-happy jangan sampai stress. Utamanya juga terus berdoa ke yang kuasa, kuncinya di situ,” akhirnya.(fat/yds)

Iklan

Terpopuler