Serba Serbi
Anita FN Sunardi, Novelis Penyandang Disabilitas

KABARMALANG.COM – Menulis adalah proses berkarya tanpa batas. Semua orang bisa menulis.
Itu dibuktikan oleh Syamsu Anita Fitrianingsih, 43. Dia penyandang disabilitas tuna daksa yang juga novelis.
Dia memiliki nama pena Anita FN Sunardi. Hingga kini Anita menelurkan banyak karya tulisan. Baik novel, antologi cerpen maupun puisi.
Meski menyandang disabilitas, warga Purwantoro itu mampu berkarya. Bahkan, produktivitasnya menulis melebihi orang-orang yang dianggap ‘normal’.
“Sejauh ini saya sudah menulis 11 buku. Buku pertama saya adalah antologi buku puisi solo. Judulnya Bulir-Bulir Puisi, terbit tahun 2018,” ujar Anita kepada Kabarmalang.com, saat ditemui di rumahnya, Kamis (3/12).
Anita juga menerbitkan novel. Misalnya, novel Ketika Cinta Itu Kudamba
dan Aura Lesta. Lalu, ada 4 empat buku antologi puisi solo karyanya.
“Antara lain Jingga Rindu Berserakan, Bulir-bulir Berpuisi. Lalu, Serpihan Rasa dan Penggalan Kisah,” terangnya.
Dia juga bekerjasama dengan penulis lain untuk antologi puisi. Yaitu Halaman Puisi, Jomlo dan Sajak Untuk Mawar Hitam.
Dia juga terlibat dalam dua buku antologi cerpen gabungan. Yakni 25 Kisah Sahabat Nabi, dan Super Daster.
Anita menyebut semua bukunya berkesan. Karena setiap buku sudah melalui prosesnya masing-masing. “Tapi yang mungkin berbeda adalah ketika menulis novel pertama,” ungkapnya.
Buku itu berjudul Ketika Cinta Itu Kudamba. Bagi Anita, ia tak mudah menyelesaikan novel tersebut.
“Mungkin karena itu novel pertama. Jadi saya sering kehilangan alur cerita saat menulis,” tuturnya.
Dia membutuhkan delapan bulan menulis novel tersebut hingga terbit. Novel ini tentang dua orang gadis difabel tuna daksa. “Mereka saling bersahabat dalam meraih cita dan cintanya,” jelasnya.

Buku novel, cerpen, dan puisi karya Anita FN Sunardi.
Cinta Literasi Sejak di Bangku SLB
Anita mengaku menyukai dunia literasi sejak sekolah dasar. Dia menemukan kecintaannya pada literasi di SLB/D YPAC Malang. Rasa cinta itu berlanjut hingga sekarang.
“Ada beberapa penulis yang saya jadikan panutan. Yakni almarhumah Mbak Ratna Swari Ibrahim. Beliau seorang penulis difabel dari Malang. Lalu Bunda Asma Nadia dan Chairil Anwar,” terangnya.
Perempuan berkacamata ini menuturkan proses menulisnya kurang lebih sama dengan penulis pada umumnya.
Dia mempersiapkan bahan tulisan dalam bentuk kerangka karangan. Mulai dari tema sampai profil tokoh yang ingin dibuat.
Inspirasi menulis Anita berasal dari buku yang pernah dibaca. Dia juga observasi lingkungan sekitar dan dari pengalaman sehari-hari.
Anita produktif menulis karena ingin melawan diskriminasi penyandang disabilitas. Dia ingin mengubah persepsi masyarakat tentang penyandang disabilitas.
“Kadang sering dipandang sebelah mata. Tanpa memberi kesempatan untuk berkembang dan maju,” curhatnya.
Anita berharap tulisannya mendorong penyandang disabilitas untuk terus berkarya.
“Tetap semangat belajar dan berkarya. Lakukan yang terbaik dalam setiap karya. Suatu saat, dunia akan melihatmu,” tutup Anita.(fat/yds)
Olahraga4 minggu yang laluJalan Sehat Desa Tirtomoyo Kabupaten Malang Berlangsung Meriah Dihadiri Ratusan Warga
Serba Serbi4 minggu yang laluBakti Sosial Peduli Veteran Malang Raya 2026 Sukses Dikelola Berkat Sinergi Donatur
Pemerintahan4 minggu yang laluDinsos P3AP2KB Kota Malang Catat Tren Kasus KDRT Tembus 121 Kasus Hingga Agustus 2026
Serba Serbi3 minggu yang laluSusu Formula AceKid Perluas Jangkauan Pasar Surabaya Lewat Ajang WILBEX 2026
Pemerintahan3 minggu yang laluGandeng Masyarakat Gencarkan Gempur Rokok Ilegal
Peristiwa3 minggu yang laluBapanas dan Satgas Pangan Polres Malang Pantau Stok Beras SPHP Pasar Kepanjen
Peristiwa3 minggu yang laluBeredar Isu Kota Malang Sepakat Hentikan MBG, Wakil Ketua DPRD Tegaskan Isu Tidak Benar
Peristiwa2 minggu yang laluSatreskrim Polres Malang Raih Dua Penghargaan Polda Jatim Berkat Ungkap 3C dan Selesaikan 957 Perkara






























