Connect with us

Hukrim

Mantan Narapidana Pencabulan Tewas Gantung Diri

Diterbitkan

||

Mantan Narapidana Pencabulan Tewas Gantung Diri
Petugas saat menangani jenazah korban gantung diri Prangas Sumbermanjing Wetan. (Foto : Istimewa)

 

KABARMALANG.COM Mantan narapidana gantung diri di Prangas, Klepu, Sumbermanjing Wetan. Pria itu bernama Siswanto, 44. Dia warga Sumbersuko Dampit.

Dia ditemukan gantung diri di perbukitan Prangas Rabu (25/11). Lehernya tergantung di pohon jati dengan selendang merah.

Aksi gantung diri diduga akibat depresi. Siswanto adalah mantan narapidana pencabulan.

“Kemungkinan besar korban depresi. Dia stres dari kasus yang menjeratnya. Yakni pencabulan anak usia dini,” terang Kasubag Humas Polres Malang, Iptu Bagus Wijanarko, Kamis (26/11).

Sebelumnya, Siswanto sudah menyelesaikan masa tahanan. Duda itu keluar dari LP Lowokwaru 5 bulan lalu.

Siswanto telah menjalani hukuman akibat pencabulan anak usia dini. Namun, sanksi sosial tampaknya masih mengikutinya di luar penjara.

“Orang sekitarnya mungkin masih memberi sanksi sosial. Sehingga, korban depresi,” ujar Bagus.

Korban gantung diri Siswanto

Aksi gantung diri tersebut bermula saat korban berpamitan pergi. Dia pamit kepada tetangganya untuk mencari bunga di hutan Prangas.

Dia pergi pada Minggu (22/11) sekitar pukul 13.00. Tapi, Siswanto tak kunjung pulang.

Warga yang peduli mencarinya selama 2 hari. Namun, mantan narapidana ini tak ditemukan.

Tahu-tahu, warga yang peduli, mendengar Siswanto gantung diri.

“Jenazahnya ditemukan Rabu kemarin pukul 15.30 WIB,” sambungnya. Jajaran Polsek Sumbermanjing Wetan pun menurunkan tubuhnya dari pohon.

Jenazahnya dipulangkan ke rumah duka di Desa Sumbersuko, Dampit.

 

Korban Menghuni Lapas Selama 10 Tahun

Kalapas Lowokwaru, Anak Agung Gde Krisna membenarkan identitas Siswanto. Menurut Agung, Siswanto mantan narapidana Lapas.

Kasus pencabulannya terungkap tahun 2010. Dia diadili dan divonis tahun berikutnya.

“Dia diputus tahun 2011. Kena pasal UU Perlindungan Anak. Hukumannya 10 tahun,” kata Agung kepada Kabarmalang.com, Kamis siang (26/11).

Agung mengaku menyesalkan kematian korban gantung diri. Karena, Siswanto berperilaku baik selama di Lapas.

“Tentu kami menyesal. Dia baik selama di Lapas. Setiap tahun hampir selalu dapat remisi karena kelakuan baiknya,” tambah Agung.

Menurutnya, korban gantung diri tak kuat menahan stigma masyarakat. Karena, kasusnya berkaitan dengan pencabulan.

“Kami tidak mau ada Siswanto-Siswanto berikutnya. Tolong dihentikan labeling pada mantan narapidana. Karena, kalau dilabeling terus, pilihannya hanya dua. Berbuat jahat lagi atau gantung diri,” terangnya.

Karena itu, Agung semakin terdorong untuk meningkatkan program asimilasi. Dia membangkitkan program-program adaptasi bagi narapidana.

Lapas Lowokwaru getol membikin pengajian. Kegiatan peribadatan untuk non muslim juga didorong penuh.

Pelatihan dan pembekalan pun diberikan kepada warga binaannya. Supaya, mereka bisa cepat beradaptasi begitu keluar dari Lapas.

“Kami jor-joran bikin kegiatan di luar lapas. Bikin SAE L’Sima. Bikin car free day. Tujuannya untuk sosialisasi asimilasi, kepada warga binaan dan masyarakat,” terang pria berdarah biru bangsawan Bali itu.

“Banyak yang tanya, apa tidak berisiko bawa keluar napi? Ya risiko. Tapi kami harus melakukannya. Supaya tak ada Siswanto-Siswanto lainnya,” tutupnya.(im/carep-04/yds)

Advertisement
Klik untuk mengirimkan komentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement HUT PDIP ke 48

Terpopuler

WeCreativez WhatsApp Support
Marketing Kabarmalang.Com