Connect with us

Serba Serbi

Raih Juara I di Kejurnas Karate Malang Open X, Shofi Hijrah ke Brunai Darussalam

Published

on

Fotor 15749056193683

KABARMALANG.COM – Meraih juara I di Kejurnas Karate Malang Open X 2019 di GOR Ken Arok. Karateka asal Kota Malang Shofiyah Nur Yustina mendapat tawaran untuk hijrah ke Brunai Darussalam.

Terkait tawaran ke Brunai, Shofi menceritakan bahwa itu datang usai ia berhasil mengalahkan karateka dari Brunai Darussalam saat diajang Kejurnas Karate Malang Open X 2019 di GOR Ken Arok, beberapa waktu lalu. Kesekian kalinya, Shofi berhasil menjadi juara I.

“Tawaran itu datang dari pelatih Brunei, setelah saya berhasil memenangkan pertandingan,” kata Shofi sapaan akrabnya, Kamis (28/11/2019) kepada KABARMALANG.COM

Lebih lanjut, Dia juga menyampaikan ketertarikannya untuk untuk mengembangkan ilmu karate di sana. Apalagi, banyak event-event karate yang bakal bisa diikutinya. Dia mengaku masih mempertimbangkan tawaran itu karena saat ini masih kuliah di Universitas Kanjuruhan Malang.

“Saya pertimbangkan dulu tawaran itu, soalnya, Saya masih kuliah,” ungkap mahasiswa Universitas Kanjuruhan ini.

Prestasi gadis cantik yang juga pernah kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang ini sudah segudang. Sekitar 200 lebih medali emas, perak dan perunggu yang didapat. Termasuk kejuaraan di Italia, mengikuti event Shotokan International Cup. Menjadi juara I kelas nasional.

IMG20191126190058

Karateka asal Kota Malang, Shofiyah Nur Yustina dengan segudang prestasi.

“Padahal sebelumnya, ia sempat deg-degan ketika sama-sama latihan sebelum bertanding,” cerita Shofi.

Di event Shotokan International Cup Italia tahun 2018, ia meraih tiga emas di kelas sabuk berwarna untuk pemula hingga junior serta sabuk hitam usia junior dan senior. Berlanjut di tahun 2019, di event yang sama, Shofi mendapat emas di kelas senior setelah mengalahkan karateka asal Jepang.

“Italia mengundang saya ikut Shotokan International Cup karena memang mencari siapa saja juara-juara karate di Indonesia. Tahun 2020 nanti diundang lagi,” ujarnya.

Mereka cukup surprise saat melihat kontingen Indonesia melakukan latihan. Saat itu, dari Malang hanya saya sendiri, sedangkan enam orang dari Surabaya dan dua lagi dari Sidoarjo yang ikut Shotokan International Cup yang diikuti 29 negara.

“Rata-rata yang ikut pertandingan ini adalah tim pelatnas,” katanya. Saat ini, ia kembali untuk mencari sponsor agar dapat ikut event itu.

“Sebab, sekali ikut Shotokan International Cup di Italia, setidaknya harus mengeluarkan biaya sampai Rp 60 juta. Dulu ada orang Belanda, namanya Hanz Nieuwenhuyzen yang mensponsori ke sana,” pungkasnya.

Shofi berharap ke depan memiliki akses ke Kementerian Olahraga untuk mensponsorinya. (ary/fir)

Advertisement

Terpopuler