Connect with us

Kabar Batu

Peringatan Hari Bahasa Isyarat Internasional, Shining Tuli Gelar Outdoor Camping di Batu

Diterbitkan

,

IMG 20220928 075647
Memperingati Hari Bahasa Isyarat Internasional, Shining Tuli menyelenggarakan Outdoor Camping. (foto istimewa)

 

KABARBATU.COM – Memperingati Hari Bahasa Isyarat Internasional, Shining Tuli menyelenggarakan Outdoor Camping.

Kegiatan tersebut, di laksanakan di area Modal Konservasi dan Edukasi (AMKE) Kelompok Tani Hutan (KTH) Panderman, Oro-Oro Ombo, Kota Batu.

Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko turut hadir dalam acara pagi hari tersebut dan mengikuti senam bersama.

“Semoga kegiatan seperti ini terus di laksanakan agar dapat memberi kesempatan dan memenuhi hak penyandang disabilitas,” ujarnya.

“Mudah-mudahan anak-anak shining tuli bisa terus bersemangat, bisa terus belajar setinggi-tingginya dan mencapai cita-cita dan menjadi yang di inginkan,” sambung Dewanti.

Tuli, melalui organisasi shining tuli turut serta membangun jaringan pergerakan untuk mengawal peran aktif tuli dan pemenuhan hak penyandang disabilitas sebagai warga negara.

Ketua Shining Tuli Kota Batu, Khoirun Rizky mengatakan fokus pergerakan saat ini di antaranya adalah persoalan aksesibilitas pendidikan, ketenagakerjaan dan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo).

Untuk itu, komunitas tuli ini secara intens mengadakan pertemuan dengan walikota dan DPRD serta bekerjasama dengan beberapa organisasi kemasyarakatan.

Gerakan, mengawal aksesibilitas difabel di kota wisata Batu secara inklusif memerlukan dukungan semua pihak.

Untuk itu, kata Rizky pihaknya tak segan bekerjasama dengan semua pihak. Hari ini, 23 September, merupakan Hari Bahasa Isyarat Internasional.

Tanggal 23 September, di peringati setiap tahun di seluruh dunia sebagai pelestarian bahasa isyarat bagi kalangan tuna rungu atau tuli guna mewujudkan hak asasi mereka.

Mengutip, laman Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), peringatan ini mengacu pada hari pembentukan World Federation of The Deaf, yakni perserikatan dari 135 asosiasi tuna rungu atau tuli.

Federasi, yang di bentuk pada 23 September 1951 ini mewakili 70 juta hak asasi tuna rungu atau tuli di seluruh dunia.

Saat ini, di ketahui ada kurang lebih 300 bahasa isyarat berbeda di seluruh dunia.

Di Indonesia, terdapat dua jenis bahasa isyarat yang paling umum di gunakan untuk berkomunikasi, yakni Sistem Bahasa Isyarat Indonesia (SIBI) dan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo). (tik/fir)

Advertisement

Terpopuler