Connect with us

Hukrim

Pasutri Tipu Warga Bali, Modus Jual Masker Rp 600 Juta

Diterbitkan

||

Pasutri Tipu Warga Bali, Janjikan 1,2 Juta Masker
Korban (tengah) saat melapor ke Polres Batu didampingi pengacara. (Foto : Arul)

KABARMALANG.COM – Pasutri asal Desa Tlekung, Batu dilaporkan ke Polres Batu. Pria berinisial TAS, dan istrinya DB, menipu warga Bali.

Pasutri itu menjanjikan mampu menyediakan 1,2 juta lembar masker. Tapi, barang tak kunjung dikirim ke Bali.

Akibatnya, korban merugi sampai Rp 667 juta. Korban, mendatangi Polres Batu, Jumat siang (16/10).

“Waktu itu saya mendapatkan kontak DB dari teman saya. Dia mengaku suaminya, TAS, manager perusahaan masker Sensi Jakarta,” jelas I Gusti Ayu Lia Maheswari, korban, kepada awak media, didampingi kuasa hukumnya.

Negosiasi untuk beli masker pun terjadi Februari lalu. Ayu mengaku tidak melihat gelagat mencurigakan dari tersangka.

Karena pasutri itu tidak buru-buru meminta uang. Bahkan mengajak bertemu di kantor milik TAS.

Saat datang ke Batu, Ayu tidak dibawa ke kantor. Namun, dibawa ke homestay di kawasan Oro-oro Ombo.

Dalam pertemuan itu jadi korban penipuan. Sampai akhirnya ia mentransfer uang, pada 7 Februari.

Pelaku penipuan itu menjanjikan masker datang 10 Februari.

“Namun ketika waktunya tiba pengiriman, ia menelepon. Katanya Sensi tengah kehabisan bahan baku,” cerita korban.

“Masker akan dikirim pada 7 Maret. Saya belum sadar kalau jadi korban penipuan. Karena saat itu pemberitaan di televisi juga mengatakan begitu,” imbuhnya.

Masker yang dijanjikan tak kunjung datang. Sadarlah Ayu bahwa dia sudah menjadi korban penipuan.

Pada 1 September, Ayu melaporkan penipuan ke polisi.(arl/yds)

Klik untuk mengirimkan komentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Edukasi

PKPA FH UMM Lahirkan Advokat Humanis

Diterbitkan

||

FH UMM mengapresiasi Ketua MK Anwar Usman sebagai narasumber PKPA DPC Peradi Malang Raya. (Foto : Istimewa)

KABARMALANG.COM – Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) diharap melahirkan advokat humanis. Ini doa Dr Tongat SH MHum, Dekan FH UMM.

Tongat menyampaikan harapannya, saat menutup PKPA Peradi Malang Raya. PKPA ini bekerjasama dengan FH UMM.

“Hukum itu harus hadir untuk manusia. Bukan untuk dirinya sendiri. Maka jadilah advokat humanis, yang membela manusia,” kata Tongat, di GKB IV lantai 9 UMM, Sabtu (24/10).

Menurutnya, karakter humanis advokat sejalan dengan visi FH UMM. Yaitu profesional, humanis, dan religius.

Harapannya, advokat DPC Peradi Malang Raya menjadi pengacara humanis.

Untuk menghasilkan advokat humanis, PKPA dihelat dua bulan. Sejumlah 50 calon pengacara Peradi, digembleng narasumber berkompeten.

Contohnya, Ketua Mahkamah Konstitusi RI. Yakni, Dr H Anwar Usman SH MH.

Jumat (23/10), Anwar menyampaikan materi hukum acara mahkamah konstitusi.

Anwar tidak hanya menyampaikan teori hukum acara. Dia mengulas praktik hukum dalam kasus nyata di Indonesia.

“Fakta yang disampaikan advokat akan memengaruhi keputusan hakim. Kita menyajikan fakta secara jujur. Namun hakim tetap salah memutuskan. Itu dikembalikan ke hati nurani si hakim,” ujar Anwar.

Ketua MK sengaja dihadirkan oleh DPC Peradi Malang Raya. Tujuannya, peserta PKPA bisa memperoleh ilmu dan pengalaman pakar.

Ketua DPC Peradi Malang Raya Iwan Kuswardi SH MH mengamininya.

“Kredibilitas beliau, kan, tidak diragukan lagi. Dengan ilmu yang diberikan, kami berharap besar pada peserta PKPA ini. Kami harap mereka menjadi advokat yang kredibel,” tutupnya.(carep-05/yds)

Lanjutkan Membaca

Hukrim

Pastikan Identitas Balita Bululawang, Labfor Polda Turun Tangan

Diterbitkan

||

Evakuasi jenazah balita di saluran irigasi Bululawang, Kamis (22/10) lalu. (Foto : istimewa)

KABARMALANG.COM – Jenazah bocah ditemukan di saluran irigasi Bululawang, Kamis (22/10). Walau demikian, kasus balita hilang Bululawang masih bergulir.

Ini karena keluarga Bagus Setya Ramadhan, 1,5, sangsi. Mereka ragu jenazah itu adalah Bagus yang hilang.

Polsek Bululawang pun mengakui adanya keraguan ini. Karena, tubuh korban sudah rusak saat divisum.

“Saat divisum di RSSA, sidik jari tak terdeteksi. Itu karena kaki dan tangan korban sudah rusak. Jadi tidak bisa diambil kesimpulan,” ungkap Kapolsek Bululawang, Kompol Pujiyono saat dihubungi Kabarmalang.com, Sabtu (24/10).

Praktis, identitas jenazah belum diketahui. Plus, keluarga Bagus juga ragu.

Sehingga, polisi melaksanakan prosedur selanjutnya. Yakni, menggelar tes DNA.

Polsek Bululawang bakal melibatkan Laboratorium Forensik Polda Jatim.

“Nanti akan kita akan ambil sample dari keluarga. Kemudian dikirim ke Laboratorium Forensik Polda Jatim untuk pencocokan,” ujarnya.

Jenazah balita yang ditemukan, masih berada di KM RSSA. Jenazah akan disemayamkan sementara di situ. Sembari menunggu hasil tes DNA.

“Pengambilan sample masih sedang kita koordinasikan dengan keluarga,” tutup Pujiyono.(im/yds)

Lanjutkan Membaca

Hukrim

Keluarga Gus Nur Anggap Cara Penangkapan Polisi Berlebihan

Diterbitkan

||

Kediaman Gus Nur dari pantauan Kabarmalang.com, Sabtu siang (24/10). (Foto : rjs)

KABARMALANG.COM – Gus Nur ditangkap Bareskrim Polri karena tuduhan ujaran kebencian. Keluarga Gus Nur, menganggap metode penangkapannya terlalu berlebihan.

Cara berlebihan yang dimaksud adalah kehadiran polisi tengah malam. Jumlah polisinya pun, banyak. Yakni, puluhan orang. Padahal, keluarga Gus Nur tengah beristirahat.

“Cuma tetap ada sifat berlebih-lebihan dalam menjalankan tugas. Tengah malam (penangkapan). Langsung 5  mobil, kurang lebih 30 orang,” ujar Muhammad Mujiat, putra kedua Gus Nur kepada Kabarmalang.com, Sabtu (24/10).

Saat penangkapan, keluarga Gus Nur sedang di dalam rumah. Hanya Gus Nur yang terjaga karena minta bekam. Dia baru saja pulang dari pengajian.

Baca juga : Gus Nur Ditangkap Saat Terapi Bekam

Begitu pintu rumah diketuk, Gus Nur berhenti bekam. Datanglah 5 mobil ke rumah Jalan Cucak Rawun, Sekarpuro Pakis.

Sejumlah 30 polisi turun dari mobil. Gus Nur menemui para polisi yang mengaku Bareskrim itu.

Surat penangkapan ditunjukkan kepada keluarga. Rumah Gus Nur pun langsung digeledah.

Polisi menyita beberapa barang. Misalnya, laptop, hard disk dan baju.

Baju yang diminta, adalah yang dipakai syuting YouTube.

“Jadi langsung masuk geledah. Barang bukti milik sini semua,” tambahnya.

Setelah digeledah, Gus Nur dimasukkan mobil. Rombongan polisi langsung meninggalkan lokasi.

Seperti diberitakan sebelumnya, Gus Nur ditangkap polisi. Dia dituding menyebar ujaran kebencian via internet.

Dia dijerat pasal UU ITE oleh Bareskrim Polri.(carep-04/yds)

Lanjutkan Membaca
Advertisement Iklan Sosialisasi Perwali Kota Batu
Advertisement Iklan cukai Pemkot Batu

Terpopuler

WeCreativez WhatsApp Support
Marketing Kabarmalang.Com