Connect with us

Edukasi

Omnibus Law Bertentangan Dengan Sistem Hukum Indonesia

Diterbitkan

||

Sholahuddin Al Fatih, Dosen Hukum Tata Negara UMM. ( Foto: Istimewa)

KABARMALANG.COM – Ominbus Law bertentangan dengan sistem hukum Indonesia. Ini pendapat Sholahuddin Al Fatih, akademisi Hukum Tata Negara UMM.

Dari perspektif teori, omnibus law kurang pas diaplikasikan di Indonesia.

“Omnibus law atau omnibus bill itu model penyusunan undang-undang,” ujar Sholahuddin kepada Kabarmalang.com, Selasa (13/10).

Omnibus law berkembang di negara bersistem hukum common law. Sehingga, dasar hukum utamanya adalah yurisprudensi atau putusan hakim.

“Modelnya menggabungkan banyak UU jadi 1 UU saja. Nah, Indonesia ini sistem hukumnya civil law. Dasar hukumnya pada hukum tertulis yakni undang-undang,” katanya.

Sholahuddin pun mengkritisi perencanaan hingga pengesahan UU Cipta Kerja. Dia menganggap pembuatannya tergesa-gesa dan perlu dipertanyakan.

“Ada 5 tahap pembentukan UU. Mulai dari perencanaan, penyusunan, pembahasan, pengesahan hingga pengundangan. Sekarang masih tahap pengesahan,” terangnya.

Menurutnya, pembuatan UU Cipta Kerja dianggap tergesa-gesa. Karena, ada keinginan untuk segera merealisasikan flexible market. Ini bertujuan membuka lapangan pekerjaan.

Yang perlu dipertanyakan adalah keterlibatan masyarakat dalam proses pembuatannya.

“Selama ini kan bilangnya melibatkan masyarakat, terbuka dan sebagainya,” tambah Sholahuddin.

Tapi, faktanya tidak ada aspirasi masyarakat. Serta, elemen masyarakat yang diakomodasi dalam UU Ciptaker.

“DPR hanya menyiarkan secara satu arah. Itupun melalui TV parlemen. Padahal harusnya ada model partisipasi dua arah,” pungkasnya.(fat/yds)

Klik untuk mengirimkan komentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

COVID-19

Robot Sterilisasi COVID-19 Buatan UB Juara 1 Asia

Diterbitkan

||

Tim mahasiswa UB pencipta robot sterilisasi juara 1 Asia. (Foto : istimewa)

KABARMALANG.COM – Robot Sterilisasi Virus COVID-19 karya mahasiswa UB berprestasi. Karya tim Apatte62 Brawijaya juara 1 tingkat Asia.

Yakni, kompetisi Spirit of Shell Eco-Marathon (SEM) Asia 2020. Pengumuman juara ini dilansir Senin, (27/10).

Robot ini hasil kolaborasi UB-Tech dan Satgas Covid-19 UB. Karya ini dibuat sejak April 2020.

Robot itu dikendalikan dari jarak jauh. Sehingga, menghindari kontak langsung dengan operator robotnya.

“Semoga awal yang baik ini bisa meningkatkan semangat tim. Untuk mengembangkan teknologi kendaraan. Dan bisa membawa nama UB juara di kompetisi kedepannya,” ujar Biaggi Rahmat M, General Manager Tim Apatte 62.

Tim ini gabungan mahasiswa teknik mesin dan teknik elektro. Tim Apatte 62, mampu mengalahkan berbagai rival hebat.

Misalnya, tim Sapuangin ITS dan tim Semeru UM. Serta tim dari Korea, Filipina, dan Singapura.

Akibat pandemi covid-19, Spirit of SEM menjadi kategori baru. Regional lomba terbagi menjadi tiga. Yaitu Amerika, Eropa, dan Asia.

“Penilaian kategori ini berfokus pada empat kriteria. Meliputi kegigihan, entusiasme, empati, dan inovasi pengembangan teknologi pandemi,” terang Biaggi.

Tim Apatte 62 berharap inovasinya bisa diproduksi massal. Juga, bermanfaat untuk masyarakat di tengah pandemi Covid-19.

Kemenangan ini mendongkrak motivasi tim Apatte 62. Dalam waktu dekat, mereka akan berkompetisi lagi.

Kali ini, Kompetisi Mobil Hemat Energi (KMHE) 2020. Serta, Shell Eco Marathon (SEM) 2021 mendatang.(carep-05/yds)

Lanjutkan Membaca

Edukasi

Alissa Wahid : Buku KH Oesman Mansoer Relevan

Diterbitkan

||

Alissa Wahid, Koordinator Gusdurian Nasional saat membedah buku KH Oesman secara daring. (Foto : istimewa)

KABARMALANG.COM – Alissa Wahid, Koordinator Nasional Gusdurian menegaskan buku KH Oesman Mansoer relevan. Yakni, buku berjudul Islam dan Kemerdekaan Beragama.

Buku itu dicetak 1968 dan sudah berusia 52 tahun. Namun, putri Gus Dur tetap mengapresiasinya.

Bahkan, dia merekomendasikan buku itu diterbitkan ulang. Rekomendasi ini muncul saat bedah buku di Pascasarjana Unisma, Senin (26/10).

Buku itu disebut relevan dengan kondisi negara. Fenomena sosial politik dan identitas Indonesia masih sama.

Yaitu berkaitan dengan isu agama.

“Bangsa ini mengalami langkah mundur dalam konteks kemerdekaan beragama. Saat kita mundur, di ujung belakang ada buku ini,” kata Alissa.

Alissa Wahid menambahkan, masalah Indonesia saat ini adalah demokrasi. Terdapat kecenderungan mayoritarianisme berbasis agama.

Praktik beragama menjadi eksklusif atau superioritas yang menguat.

“Semangat buku ini mengingatkan kita. Untuk menyelami muslim Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika,” ujar Alissa.

Alissa juga mengutip isi buku KH Oesman. Muslim di Indonesia harus menjaga ruang hidup beragama.

Sesama warga negara harus menjunjung tinggi toleransi. Sehingga bisa menjadi bekal panduan umat beragama, khususnya muslim.

Agar, bisa lebih tepat membangun kehidupan berbangsa bernegara.

KH Oesman Rektor Pertama Unisma

Dalam bedah buku tersebut hadir narasumber lainnya.

Yaitu Airlangga Pribadi, Ph.D. Dia CEO the Intiative Intitute. Sekaligus pengajar di Departemen Politik, FISIP, Universitas Airlangga.

Prof. Dr. Zainuddin, Ahli Sosiologi Agama. Yang juga Wakil Rektor UIN Malang.

Kemudian, Pdt. Chrysta Andrea. Dia pengajar di Institusi Pendidikan Teologi Balewiyata, GKJW Malang.

Serta Irham Thoriq Aly, CEO Tugumalang.id. Juga Direktur Penerbit Kota Tua selaku moderator.

Suasana usai bedah buku KH Oesman

Suasana usai bedah buku KH Oesman

Menurut Zainuddin, persoalan agama di Indonesia masih sangat krusial. Agama mudah untuk dijadikan isu.

Hal tersebut bisa menimbulkan kekacauan. Apabila tidak dikontrol dengan baik.

NU dan Muhammadiyah harus dikuatkan. Karena, keduanya adalah organisasi islam pilar negara.

“Saya memotret KH Oesman sosok inklusif moderat. Sejajar dengan Gus Dur dan Cak Nur. Beliau dari daerah tapi pemikirannya bagus sekali,” ucap Zainuddin.

Latar belakang KH Oesman dipengaruhi tiga tradisi. Yakni tradisi akademik, pesantren hingga militer.

Ditambah, pengalamannya yang banyak. Sehingga, KH Oesman dikenal moderat, pruralisme dan humble.

KH Oesman sendiri merupakan salah satu pendiri kampus Unisma. Dia juga rektor pertama di kampus tersebut.(carep-05/yds)

Lanjutkan Membaca

Edukasi

Diplomasi Budaya Nusantara Sarana Anak Muda Salurkan Aspirasi

Diterbitkan

||

Penyampaian seniman muda dalam Diplomasi Budaya Nusantara dengan semangat Sumpah Pemuda perangi Covid-19 di DPRD Kota Malang, Senin (26/10/2020)

KABARMALANG.COM– Gedung DPRD Kota Malang benar-benar menjadi wadah bagi seluruh elemen masyarakat untuk menyalurkan kreatifitasnya.

Seperti pagelaran seni budaya bertajuk Diplomasi Budaya Nusantara yang digelar oleh anak-anak muda dari berbagai latar belakang.

Kegiatan itu digelar di Hall Loby Gedung DPRD Kota Malang, dengan menerapkan protokol kesehatan ketat, Senin (26/10/2020).

Kegiatan ini, sekaligus memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober 2020.

Unsur pimpinan DPRD Kota Malang hadir dalam kegiatan itu, termasuk Wali Kota Malang Sutiaji, Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko dan Sekretaris Daerah Wasto.

Mereka menyaksikan keahlihan anak-anak muda dalam memperagakan seni tari tradisional dari berbagai daerah.

Seperti menarikan Tari Topeng Malang dan Tari-tarian adat Bali. Kegiatan ini digelar dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Sebagai wujud, generasi muda merupakan garda terdepan dalam pencegahan Covid-19.

Para seniman muda dari berbagai organisasi daerah di Tanah Air itu mengenakan face shield dan masker saat pertunjukan sebagai langkah menerapkan protokol kesehatan.

Beberapa budaya yang ditonjolkan dalam pagelaran ini, ialah adat budaya Jawa, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan dan Medan.

Kehadiran kelompok paduan suara dari penyandang disabilitas membuat takjub dengan kemampuan mereka menyumbangkan suara emasnya.

Berpakaian hitam putih, tim ini kompak dan semangat tatkala membawakan beberapa lagu, salah satunya lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Mereka pun mendapatkan apresiasi dari Ketua DPRD Kota Malang I Made Riandiana Kartika, Wali Kota Malang Sutiaji, dan Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko yang ikut hadir dalam kegiatan itu.

Seniman muda saat membawakan tarian tradisional dalam gelaran Diplomasi Budaya Nusantara di gedung DPRD Kota Malang, Senin (26/10/2020)

Seniman muda saat membawakan tarian tradisional dalam gelaran Diplomasi Budaya Nusantara di gedung DPRD Kota Malang, Senin (26/10/2020).

Ketua DPRD Kota Malang I Made Riandiana Kartika menyatakan, bahwa gedung DPRD Kota Malang bisa menjadi sarana dan tempat bagi siapapun dalam menyalurkan kreatifitasnya.

“Kami membuka gedung ini untuk kegiatan positif. Apalagi dilakukan jelang Sumpah Pemuda seperti ini (Diplomasi Budaya Nusantara),” ujar Made dalam sambutannya.

“Anak muda harus diberi ruang sekaligus mengkampanyekan protokol kesehatan mencegah penyebaran virus Covid-19,” sambung Made.

Menurut Made, dengan pemberian ruang kreasi, muda-mudi dapat menyalurkan pendapat dan aspirasi serta minat bakatnya dengan cara yang terbaik.

“Jadikan gedung DPRD ini, untuk menyalurkan minat bakat yang dimiliki. Daripada menggelar demontrasi diluar dibawah terik matahari,” tutur Made.

Made mengaku dibuat takjub dengan penampilan penyandang disabilitas dalam grup paduan suara saat menyanyikan beberapa lagu termasuk lagu kebangsaan.

“Kami juga diberikan surprise oleh penampilan penyandang disabilitas yang ikut meramaikan kegiatan ini. Kami sangat mengapresiasi kemahiran mereka dalam membawakan lagu kebangsaan,” ujar Made.

Ketua DPRD Kota Malang I Made Riandiana Kartika saat memberikan sambutan di gelaran Diplomasi Budaya Nusantara digelar di Hall Loby DPRD Kota Malang, Senin (26/10/2020)

Ketua DPRD Kota Malang I Made Riandiana Kartika saat memberikan sambutan di gelaran Diplomasi Budaya Nusantara digelar di Hall Loby DPRD Kota Malang, Senin (26/10/2020).

Made berharap, kedepan gedung DPRD Kota Malang semakin dipenuhi kegiatan-kegiatan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat di Kota Malang, agar bisa menjadi sarana pemersatu semua kalangan.

Terlebih saat ini merupakan momentum Sumpah Pemuda. “Semoga momen sumpah pemuda hari ini menyadarkan kita bahwa hanya dengan bersatu bisa membangun Kota Malang ini,”.

“Kedepan kami juga berharap gedung DPRD ini bisa menjadi tempat diskusi dan segala kegiatan positif seluruh elemen masyarakat di Kota Malang,” tegas Made.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Malang Ir Sofyan Edi Jarwoko menegaskan jika Sumpah Pemuda menjadi momen terbaik pemersatu bangsa.

“Melalui momen ini (Sumpah Pemuda) akan menjadi momen pemersatu, bersatu kembali. Untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi bangsa saat ini, salah satunya pandemi Covid-19,” ujar Sofyan Edi Jarwoko terpisah.

Wawali menjelaskan, bahwa Malang merupakan pelopor budaya nusantara. Pemuda pemudi juga merupakan pelaku seni budaya yang memiliki peran penting.

Dalam menggerakkan sektor seni budaya maupun wisata di Kota Malang, usai keluar dari masa pandemi nanti.

“Tantangan pemuda di jaman digital ini, kita bicara, kita punya ide gagasan itu sudah bisa langsung tersampaikan ke publik dan itu kesempatan yang luar biasa. Maka bercita-citalah setinggi langit, raih cita-citamu supaya hidup bermanfaat,” ucap Sofyan Edi memberi semangat.

Unsur pimpinan DPRD Kota Malang hadir dalam kegiatan itu, termasuk Wali Kota Malang Sutiaji, Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko dan Sekretaris Daerah Wasto hadir dalam gelaran Diplomasi Budaya Nusantara di Hall Loby DPRD Kota Malang, Senin (26/10/2020).

Unsur pimpinan DPRD Kota Malang hadir dalam kegiatan itu, termasuk Wali Kota Malang Sutiaji, Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko dan Sekretaris Daerah Wasto hadir dalam gelaran Diplomasi Budaya Nusantara di Hall Loby DPRD Kota Malang, Senin (26/10/2020).

Wawali juga mengapresiasi semangat anak-anak muda dalam pencegahan virus Covid-19. Sehingga dapat mendorong penurunan angka kasus dan kegiatan belajar mengajar kembali seperti semula.

Mahasiswa juga dapat kembali ke Kota Malang untuk menimba ilmu.

“Tetap semua mengenakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak,” tandas Sofyan Edi.

Pramudito, panitia kegiatan Diplomasi Budaya Nusantara bahwa tujuan kegiatan ini untuk menyalurkan ekspresi dan aspirasi melalui seni budaya yang disajikan oleh muda-mudi.

Tujuannya, menyampaikan aspirasi dengan acara yang berbeda.

“Kami muda-mudi ingin menunjukan dukungan pada pemerintah juga warga Kota Malang. Dengan seni kita bisa mengekspresikan diri. Sekaligus memberi kesan mahasiswa juga bisa menyampaikan aspirasi secara damai kepada DPRD,” ungkap Pramudito.

Kegiatan Diplomasi Budaya Nusantara ini bekerjasama dengan Dewan Kesenian Malang, kelompok disabilitas, hingga mahasiswa-mahasiswi dari Universitas Merdeka Malang (Unmer), Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Negeri Malang (UM). (rjs/fir)

Lanjutkan Membaca
Advertisement Iklan Debat Publik KPU Kabupaten Malang
Advertisement Iklan Sosialisasi Perwali Kota Batu
Advertisement Iklan cukai Pemkot Batu

Terpopuler

WeCreativez WhatsApp Support
Marketing Kabarmalang.Com