Connect with us

Edukasi

Tak Ingin Kecolongan, Ibu Hamil Wajib Ikuti Rapid Test

Diterbitkan

||

KABARMALANG.COM – Dinkes Kota Batu mewajibkan ibu hamil untuk melakukan rapid test ketika kandungan memasuki usia 37 – 38 Minggu. Hal ini merupakan tindakan preventif dari Dinkes mengingat ibu hamil adalah salah satu kelompok rentan terpapar virus selain lansia dan balita.

“Jadi sebelum masa kelahiran atau hamil tua, mereka harus melakukan rapid test di puskesmas masing-masing,” ujar Hayati Kabid Tenaga Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Batu, Senin (22/06/2020).

Ia juga menambahkan rapid test ini nantinya akan diberikan secara gratis terhadap semua kalangan.

Lebih lanjut, Hayati menjelaskan bahwa pada bulan Mei lalu pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada puskesmas, rumah sakit, dan bidan praktek di Kota Batu agar nantinya bisa disuplai rapid test sesuai dengan permintaan dan jumlah ibu hamil di masing-masing wilayah.

“Beruntung di masa pandemi tidak terjadi baby booming. Mungkin juga karena takut hamil sehingga korelasi antara masa pandemi membuat angka ibu hamil meningkat itu tidak ada,” tegasnya.

Hal ini dibuktikan dengan seimbangnya angka kehamilan sejak masa pandemi pada bulan Maret yang mencapai 260 orang dan meningkat pada bulan April menjadi 283 orang, dan kembali menurun pada bulan Mei dengan jumlah ibu hamil di angka 260 orang. (arl/fir)

Edukasi

Museum Batu Mulia Intip Peninggalan Purba

Diterbitkan

||

Museum Batu Mulia Universitas Brawijaya (Foto : Fathi)

KABARMALANG.COM – Destinasi wisata museum bertumbuh di Kota Malang. Satu di antaranya Museum Batu Mulia Universitas Brawijaya (UB).

Pengunjung diajak mengintip sekelumit peninggalan zaman purbakala. Museum Batu Mulia terletak di lantai dasar rektorat UB.

Anda bisa mengunjunginya tanpa dikenakan tarif. Ada 140 koleksi batu terpajang di situ.

Batuan diletakkan di dalam dua lemari kaca besar. Tampak bongkahan pra sejarah terpajang, lengkap dengan keterangan.

“Museum ini mengulas batu akik didapat dari batu-batuan purbakala. Akik itu batu yang berkembang lama,” ujar Kotok Gurito, Kepala Humas Universitas Brawijaya kepada Kabarmalang.com, Rabu (21/10).

Menurut Kotok, batu-batunya kuno dan menyiratkan kebudayaaan.

Ada batuan dari kayu yang terpendam lama. Lalu menjadi batu. Proses pembatuan dari kerangka binatang juga ada.

“Melihat itu, bayangan kita dibawa ke masa lalu. Ini untuk menggambarkan zaman purba seperti apa. Ya dari bebatuan-bebatuan ini,” jelasnya.

Ia menambahkan, museum diresmikan pada tahun 2016.

“Bagi sebagian orang, batu kuno adalah koleksi dan hobi,” tutupnya.(fat/yds)

Lanjutkan Membaca

Edukasi

Kota Malang Bersiap Jalankan Sekolah Tatap Muka

Diterbitkan

||

Walikota Malang Drs Sutiaji saat meninjau penyediaan wifi gratis di Kelurahan Bandulan

KABARMALANG.COM– Pemerintah Kota Malang tengah memikirkan digelarnya proses belajar mengajar tatap muka ditengah pandemi.

Dalam jajak pendapat, hampir 70 persen lebih orang tua menginginkan sekolah daring berhenti. Sekolah pun diakui telah siap, tinggal menunggu kapan proses tersebut dimulai.

“Jajak pendapat 70 persen orang tua menghendaki untuk sekolah tatap muka. Sekolah sendiri sudah siap untuk memulai tatap muka,” terang Walikota Malang Drs H Sutiaji, Rabu (21/10/2020).

Meski demikian, Sutiaji belum dapat memastikan kapan sekolah tatap muka akan diterapkan. Pemerintah Kota Malang hanya bisa bergantung pada masyarakat.

Untuk bagaimana bisa menjaga kedisiplinan dalam menjalankan protokol kesehatan Covid-19.

“Ketika nanti masyarakat saling mengerti dan patuh, tidak menutup kemungkinan kami buka tatap muka (untuk sekolah),” terang Sutiaji.

Baca juga : Walikota Sutiaji Waspadai Lonjakan Covid-19 Saat Libur Panjang

Sutiaji menambahkan, sekolah tatap muka tentunya tidak dijalankan 100 persen, melainkan diatur bagaimana prosentase siswa yang masuk.

Untuk menghindari kerumunan, tetap bisa menjaga jarak ketika berada di sekolah.

“Pastinya tidak 100 persen, bisa 50 banding 50 atau 60 persen banding 40 persen, untuk jumlah siswa yang masuk bergiliran,” imbuh politisi Partai Demokrat ini.

Sutiaji mengatakan, saat ini Kota Malang sudah berada di zona oranye dalam penanganan kasus Covid-19. Oleh sebab itu, pihaknya mendorong seluruh komponen masyarakat dapat mempertahankan Kota Malang pada zona tersebut.

Baca juga : Bulan Ini, Dinas Pendidikan Jatim Evaluasi Uji Coba Sekolah Tatap Muka

Terlebih, lanjut Sutiaji, pihaknya menargetkan pekan depan Kota Malang bisa berubah masuk ke zona kuning untuk penanganan kasus Covid-19.

“Kita harus duduk bersama mempertahankan Kota Malang di zona orange dan diharapkan bisa meningkat menjadi zona kuning. Pekan depan, kita target masuk zona kuning,” bebernya.

Sutiaji mengaku, permintaan orang tua untuk dijalankan sekolah tatap muka cukup besar.

Diharapkan ada perubahan zona dari orange menuju zona kuning dengan memperkuat kesadaran serta kedisiplinan masyarakat menjalankan protokol kesehatan Covid-19.

“Insya Allah, jika sudah masuk zona kuning. Maka sekolah tatap muka kemungkinan akan dijalankan. Jadi pembukaan sekolah nanti, tidak harus menunggu zona hijau,” sambung Sutiaji. (rjs/yds)

 

 

 

 

Lanjutkan Membaca

Edukasi

Kampung Topeng Sarana Pemberdayaan Ekonomi Warga Kurang Mampu

Diterbitkan

||

Kampung Topeng wisata edukasi sejarah topeng malangan (Foto - Muhammad Fathi Djunaedy)
Kampung Topeng, sarana pemberdayaan ekonomi warga kurang beruntung (Foto - Muhammad Fathi Djuanedy)

 

KABARMALANG.COM – Selain menjadi destinasi wisata edukasi, Kampung Topeng juga tempat tinggal warga kurang beruntung. Disana, mereka diberi pelatihan kemandirian ekonomi. Dengan harapan setelah memiliki keterampilan, mereka mampu mandiri secara ekonomi tanpa kembali lagi ke jalanan

Kampung Topeng berada Kelurahan Tlogowaru, Kecamatan Kedungkadang, Kota Malang. Berdiri diatas lahan seluas lima ribu meter persegi milik Pemerintah Kota Malang.

Pemerintah mendirikan kampung ini, dari program Desaku Menanti melalui Kementerian Sosial pada 2016 silam. Sebanyak 40 unit rumah dibangun untuk 40 kepala keluarga. Sebagian besar yang menetap disana adalah warga kurang beruntung, seperti gelandangan, pengemis dan pemulung.

Gustiari (52), adalah salah satu warga yang tinggal di Kampung Topeng. Dia membuka toko sembako. Gustiari dulunya merupakan warga Sukun, Kota Malang, kesehariannya adalah meminta-minta di jalan. Setelah ada program Kementerian Sosial dengan mendirikan Desaku Menanti,dia lalu mendapatkan rumah sendiri di Kampung Topeng.

Pada awal kepindahan, Gustiari masih sering mendapat bantuan dari Pemkot Malang dan pendampingan dari Dinas Sosial serta Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS). “Awalnya kita diberi pelatihan bagaimana mengelola usaha. Sampai akhirnya saya membuka toko sembako ini,” ujar Gustiari ditemui Kabarmalang.com, Sabtu (17/10/2020).

Gustiari membuka warung kecil di rumah untuk berjualan sembako, dan aneka minuman untuk melayani pengunjung yang datang ke Kampung Topeng. Rumahnya bersebelahan dengan taman Kampung Topeng, sehingga pengunjung yang datang ke taman, bisa langsung memesan di warungnya.

“Keuntungan jualannya, buat jajan anak-anak dan biaya hidup sehari-hari. Selain itu juga bisa menyediakan kebutuhan sembako tetangga sekitar,” pungkasnya. (fat/rjs)

Lanjutkan Membaca
Advertisement Iklan Sosialisasi Perwali Kota Batu
Advertisement Iklan cukai Pemkot Batu

Terpopuler

WeCreativez WhatsApp Support
Marketing Kabarmalang.Com