Serba Serbi
Kurs Rupiah Tembus Rp17.614 per Dolar AS: Mata Uang Garuda Sentuh Rekor Terendah Sepanjang Sejarah

KABARMALANG.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terperosok ke kisaran Rp17.592 hingga Rp17.614 per dolar AS pada penutupan pekan perdagangan pertengahan Mei 2026, yang resmi menjadi titik terendah sepanjang sejarah (all-time low).
Pelemahan tajam mata uang Garuda di pasar spot internasional ini dipicu oleh guncangan eksternal berupa eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah, lonjakan harga minyak mentah dunia, serta kebijakan suku bunga tinggi dari bank sentral AS (The Fed) yang memicu aliran modal keluar (capital outflow) secara masif.
Untuk meredam dampak inflasi impor tersebut, Bank Indonesia (BI) bersama Kementerian Keuangan di bawah Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa langsung meluncurkan tujuh strategi intervensi pasar.
Termasuk menstabilkan yield Surat Berharga Negara (SBN) demi menjaga fundamental APBN 2026 agar tetap aman terkendali sebagaimana ditegaskan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Kondisi Terkini Nilai Tukar Rupiah & Mata Uang Asing (Valas)
​Bagi para pelaku bisnis ekspor-impor dan pelaku pasar modal, berikut adalah rangkuman pergerakan nilai tukar rupiah terhadap beberapa mata uang asing utama:
Mata Uang Asing | Simbol | Kisaran Nilai Tukar Ritel / Spot | Sumber Acuan Pasar |
|---|---|---|---|
Dolar Amerika Serikat | USD | Rp17.592 – Rp17.614 | Kurs Spot Wise / Internasional |
Euro Eropa | EUR | Rp20.452 | Transaksi Pasar Spot Global |
Ringgit Malaysia | MYR | Rp4.452 | Kurs Regional ASEAN |
Acuan Kurs Perbankan Komersial (Informasi Valas BNI)
​Bagi nasabah yang ingin melakukan transaksi penukaran uang tunai asing (Bank Notes) di perbankan domestik, berikut adalah tarif acuan resmi dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk:
​Kurs Beli USD: Rp17.330 (Bank menerima dolar dari nasabah)
​Kurs Jual USD: Rp17.630 (Bank menjual dolar ke nasabah)
Faktor Utama Pemicu Anjloknya Nilai Tukar Rupiah
​Pengamat ekonomi membedah tiga kombinasi faktor makro yang memberikan tekanan luar biasa pada stabilitas ekonomi nasional:
​Tensi Geopolitik Global: Konflik bersenjata yang meluas di kawasan Timur Tengah memicu ketakutan global, sehingga para investor dunia memindahkan aset mereka ke mata uang lindung nilai (safe-haven) seperti Dolar AS.
​Lonjakan Impor Energi: Kenaikan harga minyak mentah dunia memaksa Indonesia merogoh kocek lebih dalam untuk membiayai impor bahan bakar minyak (BBM), yang berimbas pada defisit neraca perdagangan.
​Kebijakan Siklus The Fed: Sikap bank sentral Amerika Serikat yang mempertahankan suku bunga tinggi membuat investasi di AS jauh lebih menarik, memicu penarikan dana besar-besaran dari pasar keuangan domestik.
Serba Serbi3 minggu yang laluDaftar Tarif Listrik PLN Agustus 2026 Resmi Tidak Naik: Rincian Lengkap Rumah Tangga dan Bisnis
Peristiwa3 minggu yang laluKota Padang Dilanda Banjir Besar di 15 Titik Hari Ini 3 Agustus 2026: Fasilitas Kesehatan Terendam, BPBD Terjunkan Perahu Karet
Pemerintahan3 minggu yang laluPembukaan Pusdiklat Paskibraka Kota Malang 2026: Wali Kota Wahyu Hidayat Gembleng 78 Pelajar Terbaik
Hukrim2 minggu yang laluPelaku Penganiayaan di Gedangan Malang Berhasil Ditangkap Polres Malang Usai Sempat Buron
Serba Serbi4 minggu yang laluDaftar Lengkap Hari Libur Nasional 2026: Cek Sisa Tanggal Merah dan Kalender yang Sudah Lewat
Olahraga4 minggu yang laluTundukkan Blueblood FC 2-0, SSB Porma FC U-15 Tembus Semifinal Piala Soeratin U-15 2026 Zona Malang
Peristiwa4 minggu yang laluFenomena Gerhana Matahari: Pengertian, Jenis, Jadwal 2026–2027, dan Cara Aman Mengamatinya
Serba Serbi2 minggu yang laluGerakan SEHATI Kelompok 99 KKN MAs Dorong Kesehatan Lansia dan Balita di Desa Tawangsari




































