Connect with us

Serba Serbi

Kurs Rupiah Hari Ini Senin 18 Mei 2026: Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah, Dolar AS di Perbankan Tembus Rp17.775

Published

on

IMG 20260518 153128
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali terperosok ke kisaran Rp17.648 hingga Rp17.670 per dolar AS di pasar spot pada perdagangan Senin siang, 18 Mei 2026 (istimewa)

KABARMALANG.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali terperosok ke kisaran Rp17.648 hingga Rp17.670 per dolar AS di pasar spot pada perdagangan Senin siang, 18 Mei 2026, yang resmi mencatatkan rekor pelemahan terdalam sepanjang sejarah Indonesia.

Tekanan luar biasa pada mata uang Garuda ini dipicu oleh sentimen eksternal berupa lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, kenaikan harga minyak dunia.

Serta ketegangan geopolitik global yang memicu aliran modal keluar (capital outflow) besar-besaran dari pasar berkembang.

Guna meredam kepanikan publik akibat harga jual dolar di tingkat perbankan komersial yang telah menembus level Rp17.775, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa langsung menegaskan bahwa fundamental ekonomi nasional tetap bertumbuh kuat.

Dan meminta para pelaku pasar tidak panik karena situasi ini murni akibat sentimen jangka pendek.

Perbandingan Kurs Rupiah di Berbagai Bank Terkemuka (Siang Ini)

​Bagi para pelaku bisnis ekspor-impor, investor, maupun masyarakat yang ingin melakukan transaksi valuta asing, berikut adalah rincian nilai tukar rupiah (Beli/Jual) per siang hari ini:

Nama Perbankan

Jenis Kurs / Acuan

Kurs Dolar AS (USD)

Kurs Euro (EUR)

Kurs Dolar Singapura (SGD)

PT Bank Central Asia Tbk (BCA)

e-Rate

Rp17.661 / Rp17.681

Rp20.509 / Rp20.571

Rp13.770 / Rp13.816

Maybank Indonesia

e-Rate

Rp17.652 / Rp17.668

Rp20.513 / Rp20.582

Tidak Disebutkan

PT Bank Negara Indonesia (BNI)

Bank Notes

Rp17.330 / Rp17.630

Tidak Disebutkan

Tidak Disebutkan

Faktor Utama Penyebab Amblesnya Nilai Tukar Rupiah

​Para analis keuangan membedah tiga akumulasi sentimen makro global yang menjepit stabilitas mata uang domestik pada pertengahan Mei 2026:

​Lonjakan Imbal Hasil Obligasi AS: Tingginya yield obligasi pemerintah Amerika Serikat membuat para investor global berbondong-bondong menarik modal mereka dari pasar negara berkembang (capital outflow) untuk dialihkan kembali ke pasar keuangan AS.

​Kenaikan Harga Minyak Dunia: Sebagai negara net-importer minyak, meroketnya harga komoditas minyak mentah internasional memberikan tekanan ganda yang memperlebar defisit transaksi berjalan Indonesia.

​Ketegangan Geopolitik Global: Konflik internasional yang belum mereda memicu penguatan indeks dolar AS (DXY) secara masif karena sifatnya yang dinilai sebagai aset aman (safe haven) di masa krisis.

Advertisement

Terpopuler