Connect with us

Edukasi

Beri Pengenalan Bencana Sejak Dini, BPBD Gelar Sekolah Pena

Diterbitkan

||

Sekolah Pena yang digelar BPBD Kabupaten Malang

Kabarmalang.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang membuka program Sekolah Pena. Pena yang berarti Penanggulangan Bencana itu diharapkan mampu memberikan pendidikan dini terhadap kebencanaan. Sasarannya adalah, pelajar mulai tingkat sekolah dasar hingga menengah atas. Kepala BPBD Kabupaten Malang Bambang Istiawan menyatakan, program sekolah Pena menjadi hal penting, tentang bagaimana memahami bahaya bencana.

“Kami telah menjalankan program sekolah Pena (penanggulangan bencana) di ratusan sekolah di 33 kecamatan. Upaya ini perlu untuk pengenalan, antisipasi dan pencegahan manakala terjadi bencana,” tegas Bambang Istiawan, Selasa (27/8). Ia menjelaskan, Kabupaten Malang merupakan wilayah yang luas dengan memiliki 378 desa, 12 kelurahan dan 33 kecamatan.

Tidak kurang ada sebanyak 1000 sekolah dasar, puluhan SMP dan SMA, yang butuh pengenalan pencegahan dan antisipasi jika terjadi bencana. Program Sekolah Pena dijalankan menyesuaikan kondisi geografis dan alam sekitar lokasi sekolah tersebut. Yang artinya, jika sebuah sekolah berada di daerah pegunungan, maka akan diajarkan di Sekolah Pena tentang cara penyelamatan dari bahaya gunung meletus.

Apabila berada di pesisir pantai, maka diajarkan cara pengamanan dari bencana tsunami dan banjir rob. Termasuk juga apabila sekolah tersebut berada di daerah perbukitan, maka akan diberikan edukasi bagaimana cara penyelamatan dari bahaya tanah longsor. “Program ini membutuhkan kesinambungan dan waktu yang berkelanjutan. Hal ini karena mengingat luasnya dan banyaknya sekolah di Kabupaten Malang,” ulas Bambang membeberkan.

Ia menambahkan, pihaknya telah menjalankan program sekolah Pena pada semua kecamatan dan terakhir dijalankan di sekolah SD di Kecamatan Poncokusumo. “Meski wilayah kabupaten luas dan banyak sekolah, namun kami optimis dan berupaya menjalin sinergi agar program Sekolah Pena ini berjalan sesuai target,” pungkas Bambang.

 

 

 

Penulis : Rajendra Sulaiman

 

Klik untuk mengirimkan komentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Edukasi

Ospek Daring Program Pendidikan Vokasi UB Ramah Difabel

Diterbitkan

||

Oleh

Ketua Pelaksana PKKMB Program Pendidikan Vokasi UB 2020, Harnan Maliki Abdullah

 

KABARMALANG.COM – Ospek di Kampus Universitas Brawijaya dikenal dengan istilah Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru Universitas Brawijaya (PKKMB UB). Untuk tahun ajaran 2020/2021, karena sedang masa pandemi, maka proses PKKMBnya dilaksanakan secara daring.

Khusus di PKKMB UB Program Pendidikan Vokasi, tahun ini diikuti oleh 1119 mahasiswa baru. Dari total jumlah tersebut, ada sekitar seratusan mahasiswa baru yang difabel atau berkebutuhan khusus.

“Vokasi termasuk yang banyak, karena lebih ke keterampilan, seperti di programing di teknologi informasi, kita sediakan untuk isyarat dan penerjemahnya, jumlahnya ada sekitar seratusan mahasiswa difabel,” ujar Ketua Pelaksana PKKMB Vokasi UB 2020, Harnan Maliki Abdullah, Senin (21/09/2020).

Abdul menambahkan, beberapa yang bisa disebutkan adalah pendertia tuna rungu. Diberikan layanan difabel seperti di TV, ada penerjemah isyarat di pojok layar.

Untuk keterangan tambahan, dari total 1119 mahasiswa baru Program Pendidikan Vokasi UB 2020 terdiri dari program studi keuangan perbankan, program studi administrasi bisnis, program studi perhotelan, dan program studi desain grafis. (fat/fir)

 

Lanjutkan Membaca

Edukasi

Mahasiswa UB buat gel dari Asam Jawa untuk Pemutih Gigi Alami

Diterbitkan

||

KABARMALANG.COM – Tiga mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), Ririn Lutvita Sari (FKG), Afina Muti’ah Tuhepaly (FKG), dan Kharisma Ghanyysyafira (FT) membuat gel dari Asam Jawa yang berguna untuk memutihkan gigi secara alami.

Salah satu mahasiswa, Ririn Lutvita Sari mengatakan gigi yang mengalami perubahan warna secara ekstrinsik, sulit dihilangkan dengan cara menggosok gigi ataupun scalling, dan salah satu cara yang selama ini dilakukan adalah dengan pemutihan gigi atau Bleaching.

Namun, bahan pemutih gigi itu memberikan efek meningkatnya porositas atau penurunan kekuatan gigi, sehingga menurunkan kekerasan enamel.

Oleh karena itu, Ririn dan kawan-kawan mencoba memaksimalkan potensi asam jawa sebagai bahan pemutih gigi.

Ia menjelaskan, bahan alami yang mempunyai kemampuan untuk merubah warna gigi atau menghilangkan noda gigi yaitu asam malat (malic acid).

Dan, salah satu buah yang mengandung asam malat (malic acid) adalah buah asam jawa (Tamarindus indica L.).

Ririn, kemudian mengubah Asam Jawa menjadi gel untuk menjadi produk pemutih gigi, dan bisa diaplikasikan ke gigi selama kurang lebih 10-20 menit dan dilakukan 2-3 kali dalam satu hari.

Produk pemutih gigi berbentuk gel dari asma jawa lebih efektif dan aman karena memiliki ukuran nanopartikel, dan menggunakan bahan-bahan alami.

Sedangkan Asam Malat sendiri memiliki berat molekul sangat rendah sehingga mampu berdifusi ke dalam email dan dentin, dan dapat mengoksidasi permukaan email gigi dengan cara melepaskan oksigen yang bebas pada ikatan rangkap dari senyawa organik dan anorganik dalam gigi.

“Dalam proses bekerjanya akan terjadi proses oksidasi melibatkan oksigen dan hilangnya hidrogen. Pada proses oksidasi terjadi pemecahan rantai zat chromofor pada gigi yang sebelumnya berikatan pada pelikal, sehingga menyebabkan warna gigi menjadi lebih gelap dan terjadi reaksi reduksi yang membuat warna gigi menjadi lebih terang,” kata Ririn dalam keterangan resminya, Senin (21/9/2020).

Dosen pembimbing, Feni Istikharoh, drg menjelaskan hampir 90% material kedokteran gigi merupakan produk impor, sehingga tidak heran jika material kedokteran gigi saat ini relatif mahal.

“Kita tahu bahwa Sumber Daya Alam di Indonesia sangatlah melimpah, salah satunya adalah asam jawa. Asam jawa memiliki kandungan asam malat dan asam oksalat yang cukup tinggi,” beber Feni terpisah.

Adanya penelitian mengenai asam jawa yang nantinya dikembangkan menjadi produk nanogel, dapat berpotensi untuk digunakan sebagai produk material pemutih gigi yang aman, serta memiliki kemampuan untuk memutihkan gigi yang tidak kalah dengan produk luar negeri,” sambungnya.

Feni berharap melalui produk tersebut dokter gigi tidak perlu mengimport material pemutih gigi dari luar negeri lagi.

“Jika kita dapat mengolah sumber daya alam kita yang begitu melimpah, kedepan harapannya kita dapat mengurangi ketergantungan untuk mengimport material kedokteran gigi,” Feni Istikharoh menambahkan. (rjs/fir)

Lanjutkan Membaca

Edukasi

Kreatif, Mahasiswa UB Membuat Kasa dari Sarang Tarantula

Diterbitkan

||

Oleh

Ilustrasi Kasa dari Sarang Tarantula, Buatan Mahasiswa UB

 

KABARMALANG.COM – Lima mahasiswa UB lintas fakultas membuat desain kasa dari sarang telur Laba-laba Tarantula atau KASPRO.

Rizky Senna salah satu anggota tim mengatakan selama ini sarang telur tarantula dipandang sebelah mata oleh sebagian besar masyarakat Indonesi. Padahal di balik itu semua sarang telur tarantula menyimpan berjuta manfaat yang jarang diketahui.

“Kandungan protein fibroin atau fibrinoin yang tinggi pada sarang telur tarantula mampu membantu mempercepat penghentian darah serta penyembuhan pada luka terbuka,” kata Rizky.

Dia menambahkan, luka terbuka yang dibalut dengan kasa akan mengalami regenerasi karena jumah sel fibroblas, sintesis kolagen, kekuatan tensile, kontraksi luka dan periode epitelisasi.

“Penyembuhan luka Kasa Kaspro melalui kandungan protein yang ada di dalamnya. Cara kerjanya sama seperti kasa biasanya, hanya saja penyembuhan bisa lebih cepat,” lanjut Rizky.

Anggota tim lain sekaligus Manajer Produksi, Yushidayah menjelaskan sarang telur tarantula didapat dari hasil pembudidayaan selama sekitar dua bulan sebelum sarang telur tarantula dipanen.

Pembudidayaan tersebut , lanjut Yushidayah, dilakukan dengan bekerjasama dengan mitra pecinta/kolektor tarantula yang ada di Indonesia.

Ming Cu, salah satu pemilik sekaligus mitra tarantula terbesar di Indonesia mengungkapkan desain inovasi Kasa Sarang Tarantula sangat menarik karena lebih efektif dalam penyembuhan luka dibandingkan dengan kasa konvensional.

Selain itu limbah dari sarang telur tarantula memang jarang digunakan atau diolah kembali menjadi bahan/produk yang bermanfaat.

“Ya, sangat menarik ya, inovasi dari temen-temen ini bagus sekali, apalagi limbah tarantula jarang juga digunakan atau diolah kembali menjadi bahan/barang yang bermanfaat,” ungkap Ming Cu. (fat/fir)

Lanjutkan Membaca
Advertisement Iklan Sosialisasi Perwali Kota Batu
Advertisement Iklan cukai Pemkot Batu

Terpopuler

WeCreativez WhatsApp Support
Marketing Kabarmalang.Com