Connect with us

Edukasi

Psikolog UB Gelar Pertunjukan Boneka Tumbuhkan Disability Awareness

Diterbitkan

||

Kegiatan dilaksanakan melalui aplikasi Zoom Meeting

 

KABARMALANG.COM – Penyandang disabilitas hingga kini masih rentan menjadi target sikap negatif teman sebaya di ruang kelas. Sedikit teman juga kurang diterima dan jarang sosialisasi. Akibatnya, mereka mengalami perasaan kesepian.

Karenanya, sangat penting membangun kesadaran anak sejak dini terhadap penyandang disabilitas yang berkualitas sebagai sarana meningkatkan pengetahuan, sikap, niat dan minat positif mereka.

Selama ini, seringkali terdapat permasalahan yang dialami oleh siswa penyandang disabilitas baik dalam penyesuaian sosial maupun akademis di sekolah.

Melihat hal ini, dosen jurusan psikologi FISIP Universitas Brawijaya mengadakan pertunjukan boneka dengan tujuan mengenalkan dan meningkatkan sensitivitas anak terhadap penyandang disabilitas. Anak memiliki pengetahuan faktual dan sikap yang lebih positif terhadap penyandang disabilitas.

Kegiatan ini diinisiasi oleh tiga psikolog; Yuliezar Perwira Dara, S.Psi., M.Psi., Ulifa Rahma, S.Psi, M.Psi., dan Faizah, S.Psi., M.Psi. Ketiganya merupakan dosen sekaligus Psikolog Pendidikan perkembangan di Jurusan Psikologi FISIP Universitas Brawijaya, yang tergabung dalam Kelompok Jabatan Fungsional Disabilitas.

Kegiatan tersebut dilaksanakan Jumat, 28 Agustus 2020 dan 4 September 2020 dengan mengedukasi siswa-siswa SD Kristen Charis dalam belajar Pendidikan karakter siswa hebat bersosial.

Materi puppetshow ini masuk dalam mata pelajaran life skill yang diharapkan dapat membangun kemampuan sosial yang semakin matang dan menyenangkan di antara teman sebaya dengan siswa penyandang disabilitas.

Kegiatan dilaksanakan melalui aplikasi Zoom Meeting, karena belum memungkinkan untuk memberikan psikoedukasi melalui tatap muka dengan siswa.

Diikuti 64 siswa SD Kristen Charis, kegiatan ini mendapatkan antusiasme yang cukup bagus dari guru dan siswa.

“Inti cerita dari pertunjukan boneka (Puppet show) ini adalah pengantar tentang gambaran kekhususan/keterbatasan siswa Down sindrom dan Disleksia, mengenal persamaan siswa penyandang disabilitas dengan teman lainnya, dan penjelasan tentang hal-hal yang dapat dilakukan bersama siswa penyandang disabilitas yang dikemas melalui cerita kesetiakawanan di sekolah,” Yuliezar menjelaskan isi gambaran program yang diselenggarakan.

Salah satu pendamping/guru di SD Kristen Charis Malang, yaitu Teacher Marta Enggar Ingtyas, S.Pd, menyampaikan, kegiatan dengan media Puppet (boneka tangan) cukup menarik untuk anak-anak. Isi cerita bermanfaat untuk mengenalkan anak mengenai keadaan teman penyandang disabilitas.

Hal ini sejalan dengan keadaan sekolah yang merupakan sekolah inklusi, yang juga membersamai siswa penyandang disabilitas belajar di SD Kristen Charis ini.

“Untuk selanjutnya perlu praktik lebih jauh pada keseharian anak dari materi puppet show ini. Dan anak usia sekolah dasar perlu adanya pembelajaran berulang-ulang dan media yang menarik antusiasme untuk membangun pemahaman dan sikap yang semakin baik,” kata Enggar.

Program psikoedukasi melalui puppet show ini sangat baik dan sangat dibutuhkan oleh anak-anak. “Dari sini mereka mengenal istilah disabilitas yang dialami teman di sekitarnya, mengetahui kesulitan dan keunikan teman,” ujar Chris Wijayanti Puspita,M.E, salah satu guru di SD Charis menambahkan.

Walaupun sehari-hari mereka sebenarnya sudah berinteraksi dengan mereka, kadang teman sebaya tidak paham dengan apa yang dialami temannya. Dari program ini juga, anak-anak belajar mengenai cara bersikap dengan teman penyandang disabilitas, apa yang bisa dilakukan bersama-sama untuk berteman.

Selain menyampaikan mengenai disability awareness, sesuai dengan kondisi saat ini di masa pandemi Covid-19, penyelenggara menyisipkan materi protokol kesehatan sebagaimana diimbau oleh WHO, 2020.

Di antaranya adalah melalui menjaga hidup bersih dan sehat, serta interaksi sosial yang aman, untuk diterapkan kepada peserta psikoedukasi.

Materi disampaikan melalui lagu dan gerak tangan yang energik yang diikuti oleh seluruh peserta, yaitu tepuk corona: mengenai imbauan memakai masker, handsanitizer, cuci tangan dengan air mengalir, dan jaga jarak sosial.

Pertemanan di masa pandemi masih dapat dijalin dengan bertelepon, menggunakan media sosial/aplikasi meeting yang sudah tersedia saat ini, sehingga teman-teman masih dapat terhubung termasuk dengan teman penyandang disabilitas. (adv)

Advertisement
Klik untuk mengirimkan komentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement HUT PDIP ke 48

Terpopuler

WeCreativez WhatsApp Support
Marketing Kabarmalang.Com