Connect with us

Hukrim

Tersangka Deposito Bodong Bukan Pegawai BRI

Diterbitkan

||

Tersangka Deposito Bodong Bukan Pegawai BRI
Kepala Cabang BRI Syariah KC Malang, Aminuddin. (Foto: Imron Haqiqi)

KABARMALANG.COM – Tersangka deposito bodong dipastikan bukan pegawai BRI Syariah. MY, 29, alias Meta, hanya mengklaim saja menjadi pegawai.

Ini ditegaskan Kepala BRI Syariah Malang, Aminuddin. Didampingi OJK Malang, Aminuddin memastikan keterangan Meta bohong.

Tersangka deposito bodong bukan karyawan freelance. Ini dipastikan setelah ada pengecekan data pegawai.

“Saya bertugas di Malang mulai 2017. Kami tidak pernah membuka lowongan pekerjaan. Tersangka penipuan ini bukan pegawai,” ungkap Kacab BRI Syariah KC Malang, Aminuddin, Selasa (3/11) di Polres Malang.

Lagipula, BRI Syariah mempunyai spesifikasi tersendiri terkait perekrutan karyawannya. Sementara, postur tubuh Meta saja, sudah tidak masuk kriteria.

“Maaf , kami tidak bermaksud menghina. BRI dan BRI Syariah punya standart merekrut calon pegawai,” ujarnya.

“Tersangka ini tidak masuk kriteria. Kami pastikan tersangka ini sengaja ingin menipu. Dengan mengaku sebagai pegawai BRI Syariah,” ujarnya.

Aminuddin mengaku BRI Syariah memang sangat dirugikan. Karena tersangka mengaku sebagai karyawan BRI. Yang berkantor di Jalan Kawi, Kota Malang.

“Kantor kami dulunya di Jalan Kawi. Tapi 2017 sudah pindah ke Jalan Sukarno Hatta,” terangnya.

Aminudin mengaku sudah pernah menyelidiki tersangka deposito bodong itu. Sejak pertengahan Oktober 2020, dia sudah mencari wanita ini.

Tapi, tersangka deposito bodong ini dikenal sangat licin. Nomor teleponnya kerap berubah-ubah. Saat ditelepon nomor tidak dikenal, tidak pernah diangkat.

Gayung bersambut. Salah satu korban melaporkan ulah Meta ke BRI Syariah.

Kemudian BRI Syariah bekerjasama dengan korban memancing bertemu Meta.

“Korban kebetulan pegawai Mitsubishi. Kami berhasil menemukan tersangka deposito bodong ini. Korban sudah mengeluarkan uang Rp 100 juta pada tersangka,” terang Aminudin.

Baca juga : Cerita Korban Deposito Bodong di Kabupaten Malang

Lantas, apakah BRI Syariah akan melaporkan Meta? Aminuddin mengaku masih berkoordinasi dengan BRI Syariah pusat.

“Sementara ini kami masih mengikuti prosedur Polres Malang. Soal melaporkan pencemaran nama baik, masib dikoordinasikan dengan pusat,” tutupnya.

Sebelumnya, Meta, warga Pakis, Kabupaten Malang dibekuk Polres Malang. Dia menipu puluhan orang. Hingga meraup duit sebanyak Rp 1,4 milyar lebih.

Modus Meta, berpura-pura sebagai pegawai BRI Syariah. Terhadap puluhan korbannya, pelaku menawarkan tiga program BRI.

Pertama deposito berjangka dan investasi. Kedua tabungan pendidikan atau Simpanan Pelajar (SIMPEL).

Sedang modus ketiga dengan menawarkan tabungan haji. Itu hanyalah upaya tersangka deposito bodong melakukan serangkaian penipuan.(im/yds)

Klik untuk mengirimkan komentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Kepala Dealer Gelapkan 13 Motor Perusahaan

Diterbitkan

||

Kepala Dealer Gelapkan 13 Motor Perusahaan
Polresta Malang Kota, saat merilis tersangka penggelapan dan pencurian 13 unit sepeda motor (Foto: istimewa)

 

KABARMALANG.COM – Polresta Malang Kota menciduk seorang kepala dealer. Dia menggelapkan 13 motor perusahaannya sendiri.

Tersangka adalah pria berinisial AP, 33. Dia warga Dusun Tunjungsari, Kabupaten Malang.

“November (2/11) tersangka AP melakukan perbuatan tersebut. Dengan cara menjual dua sepeda motor tanpa sepengetahuan perusahaan,” kata Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Leonardus Simarmata, kepada wartawan, di Polresta Malang Kota, Rabu (2/12).

AP adalah kepala dealer Honda PT Nusantara Surya Sakti. Lokasi dealernya di Jalan Soekarno Hatta, Kecamatan Lowokwaru.

Karena inilah, dia gampang melancarkan aksinya. Leo menyebut, dua motor pertama dijual ke perusahaan lain.

“Sabtu (7/11), tersangka mengambil lagi dua unit motor dealer. Kemudian, dua unit motor digadaikan kepada Mukhlis (DPO),” jelasnya.

Aksinya berlanjut pada Minggu (8/11). Sekira pukul 10 malam, Si kepala dealer mendatangi kantornya.

Dia merusak penyimpanan kunci kontak sepeda motor. Setelah itu, dia mengambil sembilan kunci kontak.

“Tersangka membawa keluar sembilan sepeda motor tanpa sepengetahuan perusahaan,” lanjut Leo.

Sembilan sepeda motor itu diserahkan ke perusahaan lain. Sehingga, total ada 13 unit motor yang digelapkan tersangka.

“Akibatnya, dealer ini menanggung kerugian Rp 213 juta,” terangnya. Perwakilan perusahaan langsung bergerak.

AP pun dilaporkan kepada kepolisian. Laporan tersebut juga disertai rekaman CCTV perusahaan.

“Usai penyelidikan, tersangka ditangkap Satreskrim Polresta Malang Kota. Dia diamankan Jumat (19/11) pagi di Hotel Sahid Montana,” bebernya.

Atas perbuatannya tersebut, tersangka dikenakan dua pasal. Yaitu Pasal 363 KUHP dan Pasal 374 KUHP.

“Pasal 363 KUHP, ancaman hukumannya maksimal penjara 7 tahun. Sedangkan, Pasal 374 KUHP, ancaman hukumannya maksimal penjara 5 tahun,” tutupnya.(fat/yds)

Lanjutkan Membaca

Hukrim

Mayat Remaja Yang Ditemukan Di Kalipare Tewas Dibunuh Teman Ngopi

Diterbitkan

||

Kapolres Malang saat merilis pelaku pembunuhan terhadap Adit Pratama (13), Selasa (1/12/2020) (Foto: Imron Haqiqi)

 

KABARMALANG.COM – Kurang dari 24 jam, Polres Malang berhasil mengungkap penyebab kematian Adit Pratama (13), warga Desa Sukowilangun, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang yang ditemukan di ladang Singkong Kecamatan Kalipare Senin (30/11/2020) kemarin.

Sebagaimana telah diduga sebelumnya, Adit ternyata adalah korban pembunuhan, dan pelakunya adalah temannya sendiri, yang juga diketahui terakhir kali bersama dengan dengan Adit pada Jumat (27/11/2020) dini hari, yakni Santoso (20), warga Desa Sukowilangun, Kecamatan Kalipare.

“Setelah kami lakukan penyelidikan dan penyidikan, akhirnya terungkap pembunuhnya adalah teman ngopi korban waktu itu, yaitu Santoso,” ungkap Kapolres Malang, AKBP Hendri Umar saat konferensi pers di Mapolres Malang, Selasa (1/12/2020).

Santoso nekat membunuh temannya itu karena marah kepada Adit saat nongkrong di warung kopi di Pasar Peteng, Desa Sukowilangun, Kecamatan Kalipare.

Menurut Hendri, saat itu Adit memamerkan smartphone barunya sekaligus mengejek Santoso sebagai orang miskin dan tidak mungkin mampu membeli smartphone seperti yang dimilikinya.

“Jadi korban ini waktu itu memamerkan smartphone barunya di warung kopi dan mengejek pelaku. Korban bilang pelaku tidak akan mungkin mampu membeli smartphone seperti miliknya karena dianggap miskin oleh korban,” ujarnya

Karena kesal dan marah, Santoso pun berniat untuk membunuh Adit dengan mengajak ke ladang Singkong yang tak jauh dari Pasar Peteng, Desa Sukowilangun, Kecamatan Kalipare.

“Adit menuruti, soalnya pelaku mengajak dengan dalih mencari burung di ladang tersebut,” beber Hendri.

Lantas, saat dirasa sepi, Santoso kemudian melancarkan aksi pembunuhannya. Sabuk yang dikenakannya ia copot, dan langsung mencekek leher Adit selama beberapa menit.

“Pasca dicekek itu, korban sempat tidak sadar. Pelaku sempat mengira sudah meninggal dan akan meninggalkan korban. Tapi ternyata bangun dan melarikan diri,” tambah Hendri.

Melihat hal itu, Santoso pun panik dan tidak ingin Adit kabur begitu saja. Proses kejar mengejar pun terjadi sekitar pukul 01.00 Jumat (27/11/2020) dini hari sejauh kurang lebih 100 meter.

“Dan akhirnya korban tertangkap dan dicekek lagi tanpa ada perlawan. Kali ini nyawa korban tidak tertolong. Untuk memastikan korban sudah meninggal, Pelaku menunggu korban hingga pukul 05.00 pagi,” papar Hendri.

Setelah meyakini korban sudah meninggal, pelaku pun pulang dengan membawa sabuk yang digunakan untuk mencekek dan smartphone korban untuk menghilangkan jejak.

Atas perbuatannya itu, Santoso dijerat beberapa pasal, yakni Pasal 80 ayat 3 jo 76 C UU No. 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara.

“Dan bisa juga Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman seumur hidup dan Pasal 338 tentang pembunuhan dengan ancaman hukuman 15 tahun penajara,” tutup Hendri. (imr/fir)

Lanjutkan Membaca

Hukrim

Remaja Kalipare Diduga Korban Pembunuhan

Diterbitkan

||

Kapolres Malang, AKBP Hendri Umar. (Foto: Imron Haqiqi)

 

KABARMALANG.COM – Adit Pratama, 13, warga Desa Sukowilangun, Kalipare diduga dibunuh. Ini ditegaskan Kapolres Malang, AKBP Hendri Umar.

Menurut Hendri, jajaran Satreskrim Polres Malang menemukan beberapa kejanggalan. Ditemukan ada bekas luka di tubuh korban.

“Sekaligus, mayat korban diketahui sudah tertutup daun singkong. Di situlah kejanggalannya,” ungkap Hendri, Senin sore (30/11).

Atas dasar itu, Hendri memerintahkan jajarannya memonitor otopsi korban. Dia juga memerintahkan penyelidikan intensif.

“Anggota sedang melaksanakan lidik lapangan dan rumah korban,” terangnya.

Hendri menekankan ada beberapa orang yang diperiksa.

Mulai dari keluarga hingga orang yang terakhir bersama korban.

“Kabarnya ada dua orang temannya yang terakhir bersama korban,” katanya.

Seperti diberitakan, mayat Adit Pratama, 13 ditemukan Senin (30/11). Dia ditemukan petani pukul 09.00 WIB di ladang singkong.

Keluarga korban mencarinya sejak Jum’at (27/11) malam. Saksi bernama Ngatimin, membenarkan melihat korban Jumat malam.

Dia mengaku sempat melihat korban nongkrong di warkop. Korban masih terlihat Sabtu (28/11) dini hari.

“Saat itu ia (korban) ngopi dengan teman-temannya. Pasca itu saya tidak tahu lagi,” ujar Ngatimin.

Sementara ini polisi masih memeriksa 7 orang saksi. Kemungkinan, saksi masih akan bertambah lagi.(im/yds)

Lanjutkan Membaca
Advertisement Iklan Hari Jadi Kabupaten Malang dari Disparbud Kabupaten Malang
Advertisement Iklan Hari Jadi Kabupaten Malang dari Perumda Tirta Kanjuruhan

Terpopuler

WeCreativez WhatsApp Support
Marketing Kabarmalang.Com