Connect with us

Kabar Batu

Representasikan Kondisi Saat ini, Ki Jopo Tampilkan Sambega Covid-19

Published

on

IMG 20200628 184517

KABARMALANG.COM – Sujopo Sumarah Purbo salah satu seniman Kota Batu penari 1000 topeng kembali membuat karya bernama ‘Sambega Covid-19′. Karya tersebut diciptakan sebagai bentuk representasi dari gejolak pageblug yang tengah dihadapi oleh dunia.

Meskipun terbatas secara ruang karena adanya aturan yang diterapkan oleh pemerintah untuk memutus mata rantai penularan virus, seniman yang bertempat tinggal di Pohkopek Gang 11 RT 1 RW 12, Dusun Gondorejo, Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Batu tersebut secara gamblang berujar tetap bisa berkarya melalui berita-berita yang ia konsumsi dan dipadukan dengan imaji petuah dari orang terdahulu.

“Karya ini saya buat dari melihat berita di media massa. Setiap beritanya saya ikuti. Terutama Covid-19. Akhirnya timbul keprihatinan untuk membuat karya,” ujar pria yang akrab disapa Ki Jopo tersebut, Minggu (28/06/2020).

Ia juga menerangkan, sambega sendiri merupakan bahasa Pali yang merupakan bahasa dari kitab agama Budha dan memiliki arti berkecamuk atau bergejolak.

Lebih lanjut, tujuan dirinya membuat karya tersebut merupakan sebuah pesan kepada masyarakat Indonesia di tengah pandemi Covid-19. Pasalnya masih banyak masyarakat yang acuh terhadap aturan pemerintah dalam mencegah persebaran Covid-19.

“Kok becikmen (terlalu.red) masyarakat Indonesia ini dengan tidak mengikuti aturan di tengah pandemi Covid-19. Seperti tidak menggunakan masker dan tidak jaga jarak saat beraktifitas,” terangnya.

Menurutnya cerita dari Sambega sendiri yakni menerangkan bahwa eyang Ismoyo Jati atau Semar mewanti-wanti bahwa kedepannya akan ada zaman edan atau saat ini bisa dikatakan ada wabah. Sehingga membuat eyang Ismoyo Jati turut prihatin.

Sementara itu, ia juga mengekspresikan tari naga barong dan leak yang diintepretasikan naga barong dan leak sebagai virus yang ada.

Di tengah-tengah tarian, muncul sosok topeng cantik yang saya representasikan sebagai pramugari cantik dan memiliki keluarga dengan seorang bayi.

“Namun sayangnya sepulang kerja ia langsung menggendong anaknya yang masih balita. Kemudian juga bergumul dengan suaminya tanpa membersihkan diri (cuci tangan.red) dahulu. Pada akhirnya terjangkit Covid-19,” ucapnya.

Sehingga dari situlah, eyang Ismoyo Jati datang mengambil sang bayi untuk memandikan agar sang jabang bayi tidak tertular.

Tak hanya itu saja, ia juga menari dengan mengenakan APD lengkap dengan face shiled, dan sarung tangan sebagai representasi tenaga medis saat menari degan gerakan seoalah-olah mengobati pasien Covid-19. Dibumbuhi juga gerakan yang menunjukkan doa permintaan kepada seng pencipta agar pagebluk segera berakhir.

Namun dibalik karya sambega Covid-19 yang ia buat. Diakuinya bahwa selama tiga bulan ini ia harus tiarap total atau tidak bisa bekerja mencari nafkah sama sekali.

“Kalau masalah dapur, ya sudah tiga bula ini tidak ada pemasukan bro. Jadi untuk melakoni kebutuhan sehari-hari saya sampai jual kendang, dandang, dan keris (tosan aji.red) yang saya punya. Yang penting bukan kostum tari dan peralatan main lainnya,” ungkap laki-laki berusia 70 tahun ini.

Bahkan, yang ia juga mengakui terpaksa berhutang di Eco Green Park untuk dua pentas agar dirinya terus bisa menyambung hidup. “Selain itu saya juga hutang dua egolan (pentas.red) kedepan agar bisa menyambung hidup sehari-hari. Nanti saat normal kembali baru bisa tampil dua kali pentas,” imbuhnya.

Disisi lain, selama berkarya ia menuturka. selalu ingat dengan Gendon Humardani, Bagong Kusudiarjo, Eddy Rumpoko yang selalu memberi dirinya support untuk terus menghasilkan dan berkarya.

“Tiga orang tersebut yang selalu support saya untuk tetap semangat dan tidak putus asa dalam berkesenian. Serta teman akrab saya almarhum Gendono yang menyusun iringan musikalisasi musik dalam tarian samdega Covid-19,” terangnya.

Dalam penampilan tari samdega Covid-19, Ki Jopo dibantu dengan kolaborasi antar seniman seperti Seno Bramantio film maker dokumenter, Herman Aga dan Adi Mahardian Mukti dari Tukunuku yang juga seorang sutradara film fiksi. Mereka turut membantu dengan membuat dokumenter pendek Samdega Covid-19 di Coban Putri. (arl/fir)

Advertisement

Terpopuler