Serba Serbi
Barito Pacific (BRPT) 2026: Strategi Buyback Rp1 Triliun dan Ekspansi Raksasa di Asia Tenggara

KABARMALANG.COM – PT Barito Pacific Tbk (BRPT) terus memperkokoh posisinya sebagai konglomerasi energi dan petrokimia terkemuka.
Memasuki kuartal pertama 2026, perusahaan menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi terhadap valuasi internalnya dengan meluncurkan program pembelian kembali saham (buyback) di tengah ekspansi agresif ke pasar internasional.
Transformasi Menuju “Green Energy” dan Petrokimia Global
BRPT kini tidak lagi dipandang sebagai perusahaan energi konvensional. Melalui anak-anak usahanya, BRPT membangun ekosistem yang saling terintegrasi:
Raksasa Petrokimia (TPIA): Melalui PT Chandra Asri Pacific Tbk, BRPT baru saja mencetak tonggak sejarah dengan mengakuisisi Shell Energy Chemical Park di Singapura.
Langkah ini menjadikan Barito grup sebagai pemain kunci rantai pasok kimia di level regional.
Pemimpin Panas Bumi (BREN): Melalui PT Barito Renewables Energy Tbk, grup ini mengelola Star Energy Geothermal, menjadikannya produsen panas bumi terbesar di Indonesia sekaligus pilar utama pendukung target Net Zero Emission.
Logistik & Infrastruktur: Melalui platform Candra Daya Investasi (CDI), perusahaan memperkuat lini pendukung yang memastikan efisiensi distribusi di seluruh jaringan bisnis grup.
Kondisi fundamental BRPT di awal 2026 menunjukkan tren yang sangat positif:
Pertumbuhan Pendapatan: Melanjutkan momentum 2025 di mana pendapatan bersih mencapai US$ 774 juta (tumbuh 25% YoY), BRPT diprediksi akan mencatatkan angka yang lebih solid tahun ini.
Aksi Korporasi (Februari 2026): Manajemen secara resmi mengumumkan rencana buyback saham dengan alokasi dana fantastis mencapai Rp1 triliun.
Aksi ini ditujukan untuk memberikan nilai tambah bagi pemegang saham dan menjaga stabilitas harga saham BRPT di tengah volatilitas pasar global.
Konglomerat Prajogo Pangestu secara konsisten terus menambah kepemilikannya di BRPT.
Langkah sang pemilik yang secara bertahap melakukan top-up saham pribadi memberikan sinyal kuat kepada investor bahwa manajemen sangat optimistis terhadap prospek pertumbuhan jangka panjang perusahaan.
Langkah buyback sebesar Rp1 triliun biasanya merupakan indikator bahwa harga saham saat ini dianggap sudah “murah” atau berada di bawah nilai intrinsiknya oleh manajemen.
Selain itu, integrasi aset dari akuisisi Shell di Singapura diharapkan mulai memberikan kontribusi pada pendapatan konsolidasi di semester kedua 2026.
Investor disarankan tetap memantau fluktuasi harga minyak mentah dan nilai tukar Rupiah, mengingat operasional petrokimia sangat sensitif terhadap harga bahan baku dan kurs Dolar AS.
Peristiwa19 jam agoPolres Malang Gandeng Komunitas Ojol Jadi Mitra Operasi Patuh Semeru 2026
Peristiwa17 jam agoPolres Malang Kembalikan Barang Bukti Hasil Operasi Sikat Semeru 2026 Kepada Korban
Peristiwa14 jam agoPolres Malang Tangkap Pemburu Satwa Dilindungi Landak Jawa di Sumbermanjing Wetan
Pemerintahan13 jam agoWali Kota Malang Wahyu Hidayat Dorong Terwujudnya Pesantren Ramah Santri
Olahraga8 jam agoBorneo FC Merangsek Naik Peringkat Klasemen Pekan ke 7 Super League 2026
Serba Serbi21 jam agoIndeks Harga Saham Gabungan IHSG Ditutup Melemah Tajam ke Level 5.266























