Connect with us

Pemerintahan

Bisnis Cincin Pernikahan yang Bertahan Ditengah Pandemi

Published

on

Cincin perkawinan hasil garapan Wedding Ring Factory

KABARMALANG.COM – Hampir semua sektor perekonomian terdampak selama pandemi Covid-19. Misalnya bisnis yang berkaitan dengan pernikahan, karena ada larangan untuk membuat keramaian dan kerumunan.

Namun, ada satu lini bisnis di dalam lingkaran itu, ada yang masih tetap bertahan, yakni bisnis cincin pernikahan.

Salah satunya dengan nama brand Wedding Ring Factory (WRF), bisa ditemui di instagramnya @weddingringfactory.

Sejauh ini followersnya sudah tembus empat ribu follower. Untuk pelayanan offlinenya bisa ke Toko Emas Moro Joyo, yang terletak di Pasar Tumpang.

“Kita ini vendor utama tapi tidak kelihatan, karena orang nikah pasti butuh emas kawin dan cincin kawin. Apapun agamanya pasti nikahnya pakai cincin kawin. Kadang orang dalam kondisi tertentu, bisa nikah tanpa keramaian, hanya butuh cincin kawin. Itu yang membuat kita tetap bertahan di masa pandemi,” ujar Ferry selaku owner Wedding Ring Factory, Senin (24/8 2020) kepada Kabarmalang.com.

Akan tetapi WRF tetap merasakan dampak pandemi, saat penerapan PSBB. Waktu itu benar-benar tidak ada order masuk. Dan produksi tetap jalan, begitu juga marketing. Walaupun tidak ada pemasukan.

“Itu semua yang sudah pesan sebelum PSBB, masih menunda tetapi tidak dibatalkan. Saat memasuki new normal, alhamdulillah yang pesan sudah mulai ramai lagi, bisa untuk menutup kekurangan di waktu PSBB,” lanjut Ferry.

Padahal, kata Ferry, sebelum diterapkannya PSBB, permintaan bisa mencapai tiga puluh sampai lima puluh pasang dalam sebulan. Tetapi kemudian merosot saat PSBB, pesanan hanya sekitar sepuluh pasang saja. Itupun para pemesan mendapatkan informasi sebelum PSBB.

Ada salah satu yang hal yang membuat WRF mendapat kepercayaan tinggi dari para pelanggannya. “Karena kami dasarnya adalah toko emas, jadi kepercayaan orang terhadap kami itu tinggi, karena mindset orang-orang kalau mau beli cincin kawin, kan emas. Nah itu, orang datangnya ke toko emas, bukan ke galeri di luar toko emas atau pengrajin,” aku Ferry.

“Kalau misalkan ada kerusakan setelah pembelian, ada yang bertanggung jawab. Dari situ kami pupuk kepuasan konsumen. Intinya misi kami itu bukan di harga, tapi kepuasan,” sambung Ferry.

IMG 20200824 120930

Ferry juga membagi strategi yang ia lakukan untuk mengembangkan bisnisnya. Ia mengatakan bahwa jika menjalankan bisnis online, gunakanlah google ads, karena itu adalah sumber informasi bagi konsumen.

Kemudian, sesering membuat iklan menggunakan google, tetapi jangan sampai menjadi candu. Menurut Ferry, harus pintar juga membuat digital marketing non iklan.

Selain juga persoalan harga, karena harga itu tidak harus murah, tidak harus mahal, dan standar. Tetapi harga harus menyetarakan dengan pangsa pasar yang dituju.

“Untuk strategi di masa new normal, masih tetap sama, tidak kami bedakan. Masa PSBB kita anggap masa istirahat, karena yang sepi bukan hanya kita saja,” ujar Ferry.

“Kami iklan seadanya, tapi nominalnya dikurangi. Saat ini kami mulai menambahi nominal iklannya, misalnya membuat marketing give away dan tebak-tebakan di instagram. Tim WRF juga mempromosikan di whatsapp masing-masing, dan promosi dari mulut ke mulut,” pungkas Ferry. (fat/rjs)

 

Advertisement

Terpopuler