Connect with us

Opini

Merangkai Ulang Makna Dewasa

Diterbitkan

,

IMG 20251219 095658
Muh Aziz Mustofa, Mahasiswa Jurusan Manajemen di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

KABARMALANG.COMDi Fase Transisi, Sebagai mahasiswa semester satu, saya berada di fase hidup yang serba membingungkan. Tidak bisa lagi sepenuhnya disebut remaja, tetapi juga belum layak mengaku sudah dewasa.

Di tengah kebingungan itu, saya membaca buku “Titik Menuju Dewasa” karya Mulasih Tary dan Devi Ardiyanti, dan jujur saja, buku ini seperti berbicara langsung kepada saya.

Setiap bab terasa akrab, seolah menggambarkan kegelisahan saya yang selama ini sulit saya jelaskan.

Sejak awal buku, konsep emerging adulthood atau masa transisi menuju dewasa dijelaskan sebagai fase antara remaja dan dewasa yang diisi oleh ketidakstabilan, pencarian jati diri, dan berbagai tuntutan baru.

Saat membacanya, saya merasa sedang membaca definisi diri saya sendiri. Saya ingat ketika baru masuk kuliah, betapa sering saya mempertanyakan apakah pilihan jurusan saya sudah benar.

Saya bahkan sering membandingkan diri dengan teman-teman yang terlihat jauh lebih siap dan matang. Buku ini menyebutkan bahwa manusia sering merasa berada di persimpangan, dan saya benar-benar merasakannya.

Ada kalimat dalam buku yang mengatakan, “Jika sudah jatuh cinta dengan sesuatu, maka rintangan apa pun akan bisa dilalui.” Kutipan itu seperti menampar saya dengan lembut.

Saya tersadar bahwa ketidakpastian ini sebenarnya wajar, dan saya hanya perlu menemukan apa yang betul-betul saya cintai supaya bisa lebih bertahan dengan segala rintangannya.

Rasa Tertingggal

Fase transisi ini juga dipenuhi masalah internal yang terkadang membuat saya merasa berat untuk sekadar bangun pagi. Saya pernah merasa diri saya tertinggal.

Teman-teman saya ada yang sudah bekerja sambilan, ada yang jago organisasi, ada yang punya bisnis kecil. Sementara saya masih berkutat dengan adaptasi kuliah dan tugas-tugas dasar. Perasaan tertinggal ini ternyata sangat umum bagi usia 18–25 tahun, seperti yang dijelaskan dalam buku ini.

Bahkan penulis menyebut bahwa membandingkan diri hanya akan membuat stres, karena kita hanya melihat pencapaian orang lain tanpa melihat prosesnya. Saya pun akhirnya sadar bahwa saya terlalu sering menatap hidup orang lain ketimbang menghargai proses diri sendiri.

Buku ini juga membahas rasa takut akan masa depan, dan bagian itu terasa sangat dekat bagi saya. Ada masa-masa ketika saya berpikir, “Apakah nanti saya bisa membahagiakan orang tua? Apakah saya akan mendapat pekerjaan yang layak? Apa saya bisa hidup mandiri?”

Semua pikiran itu terkadang muncul bersamaan, membuat dada sesak. Buku ini menjelaskan bahwa masa depan memang abstrak dan tidak ada yang menjamin semuanya berjalan sesuai rencana.

Namun, memikirkan sesuatu yang belum terjadi secara berlebihan hanya menciptakan kecemasan yang tidak perlu. Saya merasa seperti diingatkan untuk berhenti menyiksa diri sendiri dengan skenario buruk yang belum tentu terjadi.

Ada kutipan lain yang sangat saya ingat, “Kedewasaan seseorang tidak hanya terletak dari bagaimana caranya berbicara, tetapi juga diciptakan dari tindakan-tindakan yang menyertainya.” Kutipan itu membuat saya tersadar bahwa menjadi dewasa bukan soal terlihat kuat, tetapi soal bagaimana kita memilih bersikap menghadapi kenyataan.

Belajar Dewasa

Selain masalah internal, tekanan sosial dari keluarga maupun lingkungan juga dijelaskan dengan sangat jujur dalam buku ini. Saya sendiri cukup sering mendapat pertanyaan yang membuat saya bingung menjawabnya, seperti “Nanti mau kerja apa?” atau “Kapan mulai bantu orang tua?”

Pertanyaan itu memang tidak salah, tetapi bisa terasa menekan ketika saya sendiri belum sepenuhnya yakin dengan arah yang ingin saya tuju. Buku ini mengingatkan bahwa orang tua memang ingin yang terbaik, tetapi bukan berarti mereka selalu tahu jalan terbaik untuk kita.

Penulis bahkan menyarankan untuk memberikan penjelasan secara halus kepada orang tua tentang keadaan kita. Saya pikir ini sangat benar. Terkadang saya lupa bahwa komunikasi yang baik juga bagian dari kedewasaan.

Ada hal menarik yang membuat hati saya sedikit lega: buku ini menegaskan bahwa merasa tidak punya tujuan hidup pada usia muda bukanlah kegagalan. Tujuan hidup memang tidak selalu ditemukan sekaligus.

Bahkan bisa berubah seiring waktu dan pengalaman. Ini membuat saya lebih menerima kenyataan bahwa saya masih mencari, masih bingung, dan masih mencoba. Rasanya seperti diberi izin untuk tidak apa-apa jika belum tahu semuanya sekarang.

Bagian tentang tidak terlalu keras pada diri sendiri juga sangat membekas. Saya sering merasa bersalah jika istirahat terlalu lama atau tidak produktif sehari saja.

Namun buku ini mengatakan bahwa dewasa bukan berarti mampu kuat setiap saat, melainkan tahu kapan harus berhenti untuk merawat diri.

Kutipan itu membuat saya refleksi: selama ini saya menuntut diri sendiri terlalu tinggi, seolah saya harus selalu berhasil, selalu hebat, dan tidak boleh gagal. Padahal saya manusia, bukan mesin.

Setelah membaca beberapa bagian buku ini, saya mulai menata harapan-harapan kecil untuk diri saya sendiri. Saya mulai menuliskan apa yang ingin saya capai, apa yang saya takutkan, dan apa yang ingin saya perbaiki.

Ada satu pesan yang saya pegang dari buku ini: bahwa setiap orang punya waktunya masing-masing. Tidak perlu memaksa diri untuk sama dengan orang lain. Yang penting saya terus berjalan, meski pelan, dan terus berusaha menjadi versi terbaik dari diri saya.

Buku ini mengajarkan saya bahwa menjadi dewasa bukan proses instan. Ia butuh keberanian, ketulusan, dan kesabaran.

Bagi saya, “Titik Menuju Dewasa” bukan sekadar bacaan, tetapi pengingat bahwa saya tidak sendirian menjalani fase penuh kegelisahan ini. Ada banyak anak muda lain yang merasakan hal serupa, dan itu membuat saya merasa lebih manusiawi. Saya belajar bahwa tumbuh itu tidak harus cepat, tidak harus sempurna, dan tidak harus selalu benar.

Yang penting, saya tetap bergerak, tetap mencoba, dan tetap percaya bahwa semua proses ini akan membentuk saya menjadi seseorang yang lebih kuat. Seperti yang ditulis penulis, “Masalah bukanlah hal yang harus ditakuti dan dihindari, melainkan hal yang perlu dihadapi dan diselesaikan.” Dan saya ingin belajar menghadapi semuanya, perlahan tapi pasti.

Biodata Penulis:

Muh Aziz Mustofa adalah Mahasiswa Jurusan Manajemen di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Advertisement

Terpopuler