Connect with us

Pemerintahan

Penglihatan Kabur Setelah Vaksin, Ini Keterangan Spesialis Mata RSSA

Diterbitkan

,

Penglihatan Kabur Setelah Vaksin, Ini Keterangan Spesialis Mata RSSA
Konferensi pers tim spesialis mata RSSA Malang tentang kondisi pasien yang terganggu penglihatannya setelah vaksin. (foto : ist)

 

KABARMALANG.COM – Tim dokter spesialis mata RSSA Malang memberi update terkait kondisi Joko Santoso, warga Arjowinangun yang penglihatan kabur setelah vaksin Astra Zeneca.

Joko mengalami penglihatan kabur setelah vaksin pada 3 September lalu.

Tim spesialis mata RSSA Malang yang menangani kasus ini menyebut, hasil dari perkembangan pemeriksaan, belum ada bukti kebutaan pria 38 tahun tersebut karena vaksinasi.

Tim spesialis mengabarkan ini saat Konferensi Pers di RSSA Malang, hari ini Selasa, (7/12).

Dokter Spesialis Mata Konsultan, Sub Spesialis Neuro Opthalmologi RSSA Malang, Wino Vrieda Vierla mengamini.

Pasien sebelumnya telah menjalani pemeriksaan lengkap dan rawat inap selama 9 hari di RSSA Malang.

Kemudian, pasien menjalani pengecekan darah lengkap, saraf di kepala, dan juga pembuluh darah di otak.

“Dari hasil pemeriksaan lengkap ini, diagnosis terjadi keradangan pada saraf mata pasien atau kita sebut Neuritis Optik,” ujar Wino.

Pasien kemudian menjalani perawatan rawat inap untuk mendapatkan terapi dari tim gabungan dokter spesialis saraf mata, neurologi dan penyakit dalam.

Sementara, penyebab neuritis optik belum terdeteksi secara pasti. Dengan kata lain, pemicunya bisa dari berbagai hal.

Misalnya, radang saraf mata itu bisa terjadi karena proses inflamasi, proses peradangan, proses infeksi, atau penyebab lain terkait dengan saraf mata.

Sehingga, terjadi penurunan fungsi dan juga secara anatomi akan merubah struktur dari saraf mata itu sendiri.

Tim dokter belum menemukan bukti yang mengarah pada hubungan sebab akibat antara vaksin covid-19 dengan neuritis optik.
“Adapun gangguan penglihatan mata terkait dengan vaksin sebelumnya masih belum bisa ada pembuktian secara pasti. Apakah vaksin berkaitan dengan adanya gangguan penglihatan di mata,” jelasnya.

Bahkan, literatur hingga saat ini pun belum ada yang menunjukkan penyakit neuritis optik berkaitan dengan adanya penggunaan vaksin, baik vaksin covid-19 atau lainnya.

“Kasus ini memang sangat jarang sekali, dan literatur manapun, belum ada laporan pasti yang mengatakan bahwa vaksinlah yang menjadi penyebab turunnya saraf mata pasien,” terangnya.

Kabar Lainnya : Spesialis Pencuri Ayam Gagal Jalankan Aksinya.

Dokter Spesialis Saraf Konsultan Sub Spesialis Neurovaskular RSSA Malang, dr Rodhiyan Rakhmatiar sepaham.

Sejak awal, pasien telah menjalani pengecekan saraf secara lengkap. Pasalnya, banyak pemberitaan beredar terkait Astra Zeneca yang menyebabkan pembekuan darah.

Karenanya, langkah awal tim adalah mengetahui kepastian tersebut. Hasilnya, tidak ada indikasi pasien mengalami pembekuan darah. Sehingga, kondisinya normal.

“Hasil pemeriksaan laboratorium darah, gambaran MRI kepala, dan MRI aneurisma untuk melihat saluran pembuluh darah, itu normal semua,” terangnya.

Meski begitu, pasien tersebut masih tetap harus menjalani evaluasi pemeriksaan lebih lanjut dan kontrol rutin.

Evaluasi secara berkala sangat penting dan bergantung pada kondisi pasien. Pasien membutuhkan antara 6 bulan hingga satu tahun agar bisa sembuh dari neuritis optik.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang dr Husnul Muarif memastikan tetap memberikan pendampingan dan pemantauan kondisi pasien tersebut.

Saat ini, kondisi pasien telah membaik secara signifikan.

“Insya Allah nanti sesuai jadwal, pasien tanggal 10 Desember akan kontrol lagi di poli mata RSSA. Kita dampingi terus, dan kita mencatat progressnya,” ringkasnya.

“Alhamdulillah sejak menjalani perawatan, sampai kemarin kondisinya baik. Secara fisik maupun gangguan penglihatan, progresnya jauh lebih baik,” tandasnya.

Sebagai informasi, Joko, usai menjalani vaksinasi, sempat merasakan gejala KIPI. Seperti mual, kepala pusing dan demam dua jam setelah menerima vaksin.

Namun, matanya mulai kabur menjelang malam malam hari sekitar pukul 18.00. Dia juga mengalami pusing sejak siang hari.

Matanya terasa gelap pada keesokan harinya. Kini, ia masih tetap harus menjalani evaluasi pemeriksaan hingga kondisinya benar-benar pulih.(carep-04/yds)

Advertisement

Terpopuler