Connect with us

Edukasi

Reni Nur Farida, Guru Inspiratif Aisyiyah Malang

Diterbitkan

||

Reni Nur Farida, Kepala SD Aisyiyah Kota Malang (Foto: Fathi)

 

KABARMALANG.COM – Film Laskar Pelangi identik dengan kisah SD Muhammadiyah Gantong, Belitong. SD ini nyaris ditutup karena hanya memiliki sembilan siswa.

Namun sekolah tersebut tetap beroperasi setelah kedatangan Harun. Karena jumlah siswa genap menjadi sepuluh.

Para penonton pun akrab dengan kisah Bu Muslimah. Dia guru yang gigih dan inspiratif mengayomi anak didiknya.

Inspirasi seperti ini, tak jauh-jauh dari Malang. Adalah SD Aisyiyah Kota Malang yang memiliki sosok ‘Bu Muslimah’.

Nama guru tersebut Reni Nur Farida. Saat ini, Reni adalah Kepala SD Aisyiyah Malang.

Awal sekolah berdiri, Reni adalah guru kelas satu-satunya. Dia seperti Bu Muslimah Laskar Pelangi.

“Saat itu kami hanya berempat. Saya sebagai guru kelas. Ada kepala sekolah, guru olahraga dan tata usaha. Siswanya hanya enam,” ujar Reni kepada Kabarmalang.com, di SD Aisyiyah Malang, Rabu (25/11) kemarin.

SD Aisyiyah Malang didirikan 2004. Pendirinya adalah Organisasi Aisyiyah Kota Malang. Salah satu pendirinya adalah Masruhatin Abdullah.

Saat menjadi guru kelas, Reni merangkap mata pelajaran. Dia mengajar agama, IPA, IPS, Matematika dan PKN. Meskipun, dia adalah sarjana S1 pendidikan agama Islam.

Reni menceritakan suka dukanya di awal pendirian sekolah. Muridnya hanya enam.

Jumlah ini bertambah di tahun kedua. Sekolah itu kedatangan siswa dari Aceh.

Yakni anak-anak korban konflik Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Jumlahnya tiga puluh anak.

“Mereka dirumahkan di Panti Asuhan Aisiyah Malang,” terang Reni.

Para siswa dari Aceh sedikit berbeda dengan anak lain. Mereka kesulitan beradaptasi. Sehingga, menyulitkan proses belajar mengajar.

“Walaupun begitu, masih normal. Ya mungkin namanya juga anak kecil kan. Kami tetap sabar dan gigih mendidik siswa-siswa kami,” jelasnya.

Reni mengungkapkan, mendidik anak korban konflik adalah misi dakwahnya. Dia pun mengemban amanat pemberdayaan umat.

“Kami biasakan siswa berjamaah salat dhuha. Meskipun sunnah dan tidak harus berjamaah, kami ajarkan berjamaah. Ada satu anak mengimami,” ujar Reni.

Reni menuturkan hal tersebut adalah pendidikan moral dan akhlak. Ketika menjadi imam, mereka akan muncul rasa mawas diri.

Reni menasehati dan memperhatikan para siswanya. Menurutnya, tugas guru saat itu tak hanya mengajar.

Guru juga menjadi psikolog. Karena, mereka adalah anak-anak korban konflik bersenjata.

Sekolah ini berupaya mengayomi para anak didiknya. Para guru menempatkan diri sebagai orang tua bagi mereka.

 

Guru Adalah Panggilan Hidup Reni

Reni juga mengisahkan perjuangan awalnya untuk pendidikan. Bersama pengurus Aisyiyah, mereka berkeliling mencari dana operasional sekolah.

“Waktu itu kami berkeliling mencari donasi. Kami datang ke pengurus-pengurus Aisyiyah dan Muhammadiyah,” terangnya.

Setelah 16 tahun, SD Aisyiyah Malang tetap eksis. Reni mengaku bersyukur.

Karena, misi pendidik yang diembannya diridhoi Allah. Sehingga, SD-nya tetap eksis sampai sekarang.

SD Aisyiyah Kota Malang

Reni sendiri menjadi guru setelah diajak Masruhatin Abdullah, pendiri sekolah. Reni menemukan panggilan hidupnya sebagai pendidik.

Dalam momen hari guru nasional, Reni bertekad meneruskan pengabdiannya.

“Ini sekaligus menjalankan misi dakwah dan pengabdian kepada umat. Sejak kecil hingga kuliah, saya selalu di amal usaha Muhammadiyah,” jelasnya.

Hingga kini, SD Aisyiyah Malang berusia 16 tahun. Siswanya juga semakin banyak. Sepuluhan angkatan sudah diluluskan.

Sekarang, SD Aisyiyah Malang bisa lebih tematik. Karena, tenaga guru semakin bertambah. Tanfidz tematik adalah program andalannya.(fat/yds)

Advertisement
Klik untuk mengirimkan komentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement HUT PDIP ke 48

Terpopuler

WeCreativez WhatsApp Support
Marketing Kabarmalang.Com