Connect with us

Pemerintahan

Omah Difabel, Rumah Berdaya Ekonomi Difabel

Diterbitkan

,

Kertaning Tyas, pendiri Omah Difabel. Bersama produk-produk hasil karya kaum difabel (Fathi)

 

KABARMALANG.COM – Omah Difabel adalah wadah yang dibuat oleh organisasi Lingkaran Sosial pada 2014 untuk memberdayakan perekonomian kaum difabel yang memiliki skill dan keterampilan.

“Kita (Omah Difabel) memberdayakan kaum difabel yang memiliki keterampilan dan keahlian. Kita akomodir, seperti produksi madu, kopi, dan berbagai kerajinan tangan,” ujar Kertaning Tyas, pendiri Omah Difabel kepada Kabarmalang.com, di Gedung Kartini, Jumat (6/11).

Ken sapaannya, mengakui bahwa sebelumnya, kaum difabel mengalami  kesulitan untuk pemasaran dan permodalan. Dengan adanya Omah Difabel, kaum difabel cukup terbantu pemasaran untuk menjual produknya.

“Kalau jumlah warga dampingan ada 327 orang. Tersebar di Kabupaten Malang, Kota Malang dan Batu. Semuanya berasal dari ragam disabilitas,” terangnya.

Ken menungkapkan bahwa Omah Difabel seperti bengkel produksi dan pemasaran. Untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas kaum difabel di bidang ekonomi.

“Sebenarnya kaum difabel sudah memiliki keterampilan dan pengetahuan tentang ekonomi dan pekerjaan. Tapi akses dan jaringan kurang terbuka. Itu membuat mereka terhambat ekonominya,” bebernya.

Ken mengakui Omah Difabel sangat terbantu dengan support dari Pemkot Malang. Misalnya dilibatkan dalam pameran usaha yang diselenggarakan oleh Diskopindag Kota Malang.

“Begitu juga dukungan dari Dinas Sosial Kota Malang, dengan memberikan pelatihan-pelatihan. Seperti pelatihan menjahit, membatik dan bengkel,” terangnya.

Warga asal Lawang itu mengatakan bahwa selain dengan Pemkot Malang, Omah Difabel juga didukung beberapa perguruan tinggi yang ada di Kota Malang.

Ken mengakui bahwa Omah Difabel bertugas untuk meneruskan berbagai hal yang sudah difasilitasi pemerintah.

“Pemerintah mengadakan pelatihan, akhirnya, kaum difabel punya kemampuan. Kami bagian menguatkan jaringan. Tanpa seperti itu tidak akan berkelanjutan, jadi kami memberi sinergitas kepada pemerintah,” jelasnya.

Ken menuturkan, sekretariat Omah Difabel berada di Tunggulwulung. Tapi pengerjaan produk-produk Omah Difabel di rumah masing-masing, mengingat sedang masa pandemi.

“Diakomodir dan dijual melalui Omah Difabel. Penjualan onlinenya di website di Malang Gleerrr,” imbuhnya.

Ken menambahkan, produk yang dijual adalah madu, kopi, dompet, keset, dan kerajinan tangan lainnya.

“Harganya variatif dimulai dari Rp 15 ribu. Keuntungannya nanti masuk ke kaum difabel sebagai produsennya,” tutupnya. (fat/fir)

 

Advertisement Gempur Rokok Ilegal Bea Cukai Malang
1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Klaster Bhakti Luhur Ada Difabel, Sutiaji Minta Penanganan Khusus

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

// width=
Marketing Kabarmalang.Com
Aktifkan Notifikasi OK Tidak Terimakasih