Edukasi
Perbaiki Konservasi, 7 Ekor Lutung Jawa Dikembalikan ke Alam

KABARMALANG.COM – Tujuh ekor Lutung Jawa kembali dilepas ke alam liar. Lokasi yang dipilih adalah kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo yang berletak di kawasan Coban Talun Kota Batu.
Pelepasan perimata asli Jawa ini dilakukan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur bersama pegiat dari Javan Langur Center TAFIP, Kamis (26/11/2020).
“Yang dilepas kembali ke alam liar adalah, satu ekor jantan dan enam betina. Umurnya bervariasi dari 2 tahun hingga 7 tahun,” terang Project Manager Javan Langur Center TAFIP (The Aspinall Foundation Indonesia Program), Iwan Kurniawan kepada Kabarmalang.com pada Kamis (26/11).
Iwan merinci terhitung sejak tahun 2012 BBKSDA Jawa Timur bersama The Aspinall Foundation Indonesia Program telah melakukan 19 kali melepaskan Lutung Jawa ke habitat aslinya.
Dengan total Lutung Jawa sebanyak 102 ekor, untuk rinciannya 41 ekor di Coban Talun dan 61 ekor di Hutan Lindung Malang Selatan.

Lutung Jawa yang dilepaskan oleh BKSDA Jawa Timur dan Java Langur Center (Foto : Kabarmalang.com)
Lebih lanjut, Iwan menjelaskan program pelepasliaran ini terbukti mampu memperbaiki status konservasi satwa tersebut.
Karena jumlah populasi yang sebelumnya terhitung hanya berjumlah 100 ekor diantara 2010 sampai 2011, kini sudah mencapai 155 ekor.
Hal ini membuktikan bahwa Lutung Jawa mampu bertahan hidup dengan baik bahkan beberapa individu sudah berkembangbiak dan sebagian lagi bergabung dengan populasi liar di habitat barunya.
Sementara itu, Kepala Seksi Konservasi Wilayah VI BBKSDA Jawa Timur, Mamat Ruhimat mengaku, pemeriksaan kondisi kesehatan telah dilakukan secara bertahap dan lengkap.

Tujuh Ekor Lutung Jawa yang dilepaskan oleh BKSDA Jawa Timur dan Java Langur Center (Foto : Kabarmalang.com)
Sebelum Lutung Jawa tersebut dilepasliarkan ke habitat barunya. Sehingga dipastikan bahwa lutung yang dilepaskan telah terbebas dari penyakit berbahaya menular.
Seperti TBC, hepatitis B, herpes simplex, SIV (Simian Immunodeficiency Virus), STLV (Simian T-lymphotropic virus) dan SRV (Simian Retro Virus).
“Kami juga memasangkan microchip transponder dalam tubuhnya sehingga dapat dimonitor oleh kami,” imbuhnya.
Mamat juga menambahkan bahwa tujuan pemasangan microchip ini bukanlah untuk melacak jejak namun hanya untuk mengidentifikasi identitasnya. (arl/rjs)
Olahraga4 minggu yang laluJalan Sehat Desa Tirtomoyo Kabupaten Malang Berlangsung Meriah Dihadiri Ratusan Warga
Serba Serbi3 minggu yang laluSusu Formula AceKid Perluas Jangkauan Pasar Surabaya Lewat Ajang WILBEX 2026
Pemerintahan4 minggu yang laluGandeng Masyarakat Gencarkan Gempur Rokok Ilegal
Peristiwa3 minggu yang laluBapanas dan Satgas Pangan Polres Malang Pantau Stok Beras SPHP Pasar Kepanjen
Peristiwa3 minggu yang laluBeredar Isu Kota Malang Sepakat Hentikan MBG, Wakil Ketua DPRD Tegaskan Isu Tidak Benar
Peristiwa3 minggu yang laluSatreskrim Polres Malang Raih Dua Penghargaan Polda Jatim Berkat Ungkap 3C dan Selesaikan 957 Perkara
Olahraga2 minggu yang laluManchester United Menang 4-0 atas Sabah FK di Liga Champions 2026/27
Olahraga2 minggu yang laluDewa United vs Bhayangkara FC Berakhir 2-2, Denilson Junior Jadi Penyelamat di Menit 85


































