Connect with us

Olahraga

Ironi Piala Soeratin 2026: Minim Kompetisi di Kota Malang, Mengapa Anggaran Bisa Rp0?

Published

on

IMG 20260713 173957
Pelaksanaan turnamen resmi Piala Soeratin U-13 dan U-15 tahun 2026 di Kota Malang (istimewa)

KABARMALANG.COM – Skandal klasik seputar tata kelola finansial olahraga kembali mencuat setelah publik mempertanyakan alasan Askot PSSI Kota Malang menerapkan kebijakan “Anggaran Rp0” dalam pelaksanaan turnamen resmi Piala Soeratin U-13 dan U-15 tahun 2026 pada Senin (13/7/2026).

Asumsi nihilnya dana stimulus ini dinilai sangat ironis oleh kalangan pengurus Sekolah Sepak Bola (SSB) dan wali murid, mengingat jadwal kompetisi resmi di wilayah Kota Malang tergolong sangat minim sepanjang tahun.

Kondisi ini memicu kecurigaan publik mengenai transparansi aliran dana hibah pembinaan olahraga daerah, karena ketidakmampuan instansi dalam menyubsidi turnamen wajib ini justru mengorbankan dompet klub lokal lewat beban biaya pendaftaran yang melonjak drastis hingga Rp3.250.000 per tim.

Paradoks Sepak Bola Kota Malang: Minim Event, Tapi Kehabisan Dana?

​Pertanyaan mendasar yang kini ramai dibahas di pinggir lapangan latihan oleh para orang tua pemain adalah: Ke mana perginya anggaran pembinaan sepak bola Kota Malang jika turnamen saja jarang digelar?

​Secara logis, ada tiga kejanggalan utama yang disoroti oleh kacamata wali murid dan pengamat sepak bola lokal:

Logika Ketiadaan Anggaran: Jika dalam setahun agenda kompetisi resmi tingkat kota bisa dihitung dengan jari, seharusnya serapan anggaran dana hibah dari KONI maupun dinas terkait masih tersisa banyak untuk menyokong panggung wajib seperti Piala Soeratin.

Alokasi Dana yang Dipertanyakan: Wali murid mempertanyakan prioritas kerja kepengurusan Askot PSSI Kota Malang periode 2022-2026.

Publik mendesak dibukanya transparansi apakah anggaran habis untuk keperluan birokrasi internal ketimbang operasional kompetisi anak-anak.

Komersialisasi Terselubung: Kebijakan membebankan angka Rp3,25 juta kepada tim sebagai jalan pintas panitia untuk melempar seluruh risiko kerugian finansial langsung kepada masyarakat, bukan mencarikan solusi kemitraan sponsor.

Sudut Pandang Pengamat: “Pembinaan Usia Dini Bukan Sapi Perah”

​Salah satu perwakilan wali murid SSB di Kota Malang menyuarakan kegelisahan mendalam terkait mandeknya transparansi yang melibatkan jajaran Exco Kompetisi, Rochman Hadi, yang hingga kini belum menjawab konfirmasi rekan media.

​”Kami heran, kompetisi setahun baru sekali, tapi pas mau main bilangnya anggaran kosong.”

“Kalau kompetisi di Kota Malang ini padat seperti di Kabupaten Malang yang lapangannya selalu hidup, kami maklum kalau dana daerah terbagi-bagi.”

“Ini sudah kegiatannya sepi, anggarannya Rp0, lalu anak-anak kami dijadikan alasan untuk memungut biaya mahal. Ini tidak masuk akal!” cetusnya dengan nada geram.

Rangkuman Kejanggalan “Anggaran Rp0” dari Kacamata Publik

Parameter Logika

Kondisi Nyata di Kota Malang

Dampak Finansial ke Masyarakat

Frekuensi Kompetisi Harian

Sangat Jarang / Minim Event

Harusnya Dana Hibah Daerah Masih Utuh

Klaim Kas Panitia Soeratin

Dinyatakan Rp0 (Nihil Stimulus)

Klub Dipaksa Bayar Mandiri Rp3,25 Juta

Sikap Otoritas (Exco PSSI)

Rochman Hadi Belum Merespons

Spekulasi & Ketidakpercayaan Publik Meningkat

Solusi Alternatif Panitia

Tidak Ada Upaya Gandeng Sponsor Lokal

Beban Finansial Mutlak Milik Wali Murid

Masyarakat sepak bola Kota Malang menegaskan bahwa mereka tidak anti-iuran, namun mereka menolak keras dijadikan tameng pembiayaan akibat buruknya tata kelola dan manajemen kompetisi di tubuh federasi tingkat kota.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Advertisement

Terpopuler