Connect with us

Serba Serbi

Rupiah Tembus Rp16.900 per Dolar AS: Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah per 17 Januari 2026

Published

on

Cek Fakta: Benarkah Gaji Pensiunan PNS Naik di Tahun 2026? Ini Penjelasan Resminya
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan berat pada awal tahun 2026. Per hari ini (istimewa)

KABARMALANG.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan berat pada awal tahun 2026. Per hari ini,

Sabtu, 17 Januari 2026, posisi rupiah berada di titik terendahnya sepanjang sejarah, mendekati level psikologis baru.

​Berikut adalah detail kondisi pasar valuta asing terkini:

​Rentang Harga: Rupiah bergerak di kisaran Rp16.800 hingga Rp16.913 per dolar AS.

​Tren Mingguan: Pada 15 Januari lalu, nilai tukar sempat tertahan di angka Rp16.880 – Rp16.900, namun tren pelemahan terus berlanjut hingga akhir pekan ini.

4 Penyebab Utama Rupiah Melemah Tajam

​Analis ekonomi mengidentifikasi kombinasi faktor global dan domestik yang memicu depresiasi rupiah:

1.Sentimen Geopolitik & Kebijakan AS: Ketegangan di Timur Tengah serta ancaman tarif perdagangan oleh Donald Trump terhadap negara-negara mitra dagang Iran memicu penguatan safe-haven dolar AS.

2. Sikap Hawkish The Fed: Adanya ekspektasi penundaan pemangkasan suku bunga oleh Bank Sentral AS membuat investor lebih memilih memegang aset dalam dolar.

3.Capital Outflow: Penurunan Penanaman Modal Asing (PMA) dan keluarnya modal portofolio (arus modal keluar) dari pasar keuangan domestik.

4.Defisit APBN 2026: Kekhawatiran pasar meningkat seiring proyeksi defisit APBN yang diperkirakan melampaui ambang batas 3% dari PDB.

​Guna meredam volatilitas, Bank Indonesia (BI) terpantau terus melakukan intervensi di pasar valuta asing (spot) maupun pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

​Langkah ini di ambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak menembus angka psikologis Rp17.000 per dolar AS, yang di khawatirkan dapat memicu kenaikan harga barang impor (inflasi) di dalam negeri.

Advertisement

Terpopuler