Connect with us

Serba Serbi

9 Tahun Tidak Ada Kepastian, Puluhan Pedagang Mengadu ke LBH 

Diterbitkan

||

KABARMALANG.COM – Pedagang kios di terminal Arjosari mengadu ke LBH 19.III Malang. Puluhan pedagang yang tergabung dalam paguyuban itu, mendatangi Kedai Kopi Keadilan (LBH 19.III Malang) di jalan Wilis No. 11 Malang.

Kedatangan mereka untuk mencari keadilan. Semenjak tahun 2011 silam para pedagang kios ini direlokasi sementara, dan sampai saat ini belum juga kunjung mendapatkan kepastian.

Husain Sidiq selaku kordinator pedagang kios terminal Arjosari menyampaikan, sebelum direlokasi kami bisa mengais rejeki secara baik dengan berdagang di kios, dan setelah direlokasi nasib kami semakin memburuk.

“Awalnya sebelum direlokasi sementara kami bisa mengais rejeki secara baik dengan berdagang di kios. Namun semenjak direlokasi nasib kami kian memburuk,” ujarnya, Jumat (24/01/2020).

Selain kios kami berada jauh dari letak penumpang, lanjut Husain, fisik bangunannya juga sangat sederhana. Padahal, sehari-hari berjualan disini ini untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Ada yang kembali sebagai pedagang asongan, tukang ojek. Bahkan, menyewakan harian kios kami sebagai tempat singgah,” kata Husain.

Kemudian, Dwi Sasongko yang juga pedagang kios membenarkan hal tersebut dan ia berharap untuk segera mendapatkan solusi dari permasalahan yang dialami.

“Kami bingung mas, harus mengadu kepada siapa, karena hampir 10 tahun tak kunjung mendapatkan solusi,” ucapnya.

Dia juga menceritakan, padahal di surat edaran jelas – jelas tertulis relokasi sementara. Ibarat kata nasib, kami hidup enggan, matipun tak mau. “Semoga rekan – rekan LBH 19.III Malang dapat membantu untuk mendapatkan solusi bagi kami kedepannya,” pungkasnya.

Sementara itu, Yuli Alifiyah, Divisi Sosial Masyarakat LBH Malang 19.III usai menerima paguyuban pedagang akan mempelajari dan membedah dahulu permasalahan ini, untuk selanjutnya mencari solusi terbaik.

“Kita pelajari terlebih dahulu, dan nantinya kita akan ke lokasi dan lakukan pengawalan terkait permasalahan ini. Langkah komunikasi persuasif terhadap pihak – pihak terkait, akan kami tempuh”, terang alumnus FH UNMER.

Senada hal diatas, Ketua LBH LBH Malang 19.III Andi Rachmanto yang juga turut menemui para pedagang kios terminal Arjosari juga menyampaikan, terkait permasalahan ini pemerintah harus hadir, agar segera mendapatkan solusi terbaik.

“Kita akan berkomunikasi dengan pihak – pihak terkait salah satunya UPT Terminal Arjosari (Dinas Perhubungan Kota Malang), dan bila perlu Walikota Malang dan DPRD Kota Malang akan kita surati,” tegas Andi.

Dia melanjutkan, karena kesejahteraan masyarakat menjadi tanggung jawab negara sesuai amat UUD’ 45 dan juga UU nomor 11 tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial. “Oleh sebab itu pemerintah dalam hal ini harus hadir guna turut serta menyelesaikan serta memberikan solusi terkait permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat,” terangnya.

Perlu diketahui, para pedagang kios dahulunya berasal dari pedagang asongan di seputaran terminal Arjosari. Yang mana pada tahun 2001 Walikota Malang mengeluarkan surat perjanjian dengan para pedagang dan memfasilitasi para pegiat usaha kecil terminal agar lebih tertata. (ary/fir)

Serba Serbi

Anita FN Sunardi, Novelis Penyandang Disabilitas

Diterbitkan

||

Anita FN Sunardi bersama sang ibunda, dan tiga karya bukunya. (Foto : Fathi)

 

KABARMALANG.COM – Menulis adalah proses berkarya tanpa batas. Semua orang bisa menulis.

Itu dibuktikan oleh Syamsu Anita Fitrianingsih, 43. Dia penyandang disabilitas tuna daksa yang juga novelis.

Dia memiliki nama pena Anita FN Sunardi. Hingga kini Anita menelurkan banyak karya tulisan. Baik novel, antologi cerpen maupun puisi.

Meski menyandang disabilitas, warga Purwantoro itu mampu berkarya. Bahkan, produktivitasnya menulis melebihi orang-orang yang dianggap ‘normal’.

“Sejauh ini saya sudah menulis 11 buku. Buku pertama saya adalah antologi buku puisi solo. Judulnya Bulir-Bulir Puisi, terbit tahun 2018,” ujar Anita kepada Kabarmalang.com, saat ditemui di rumahnya, Kamis (3/12).

Anita juga menerbitkan novel. Misalnya, novel Ketika Cinta Itu Kudamba
dan Aura Lesta. Lalu, ada 4 empat buku antologi puisi solo karyanya.

“Antara lain Jingga Rindu Berserakan, Bulir-bulir Berpuisi. Lalu, Serpihan Rasa dan Penggalan Kisah,” terangnya.

Dia juga bekerjasama dengan penulis lain untuk antologi puisi. Yaitu Halaman Puisi, Jomlo dan Sajak Untuk Mawar Hitam.

Dia juga terlibat dalam dua buku antologi cerpen gabungan. Yakni 25 Kisah Sahabat Nabi, dan Super Daster.

Anita menyebut semua bukunya berkesan. Karena setiap buku sudah melalui prosesnya masing-masing. “Tapi yang mungkin berbeda adalah ketika menulis novel pertama,” ungkapnya.

Buku itu berjudul Ketika Cinta Itu Kudamba. Bagi Anita, ia tak mudah menyelesaikan novel tersebut.

“Mungkin karena itu novel pertama. Jadi saya sering kehilangan alur cerita saat menulis,” tuturnya.

Dia membutuhkan delapan bulan menulis novel tersebut hingga terbit. Novel ini tentang dua orang gadis difabel tuna daksa. “Mereka saling bersahabat dalam meraih cita dan cintanya,” jelasnya.

Buku novel, cerpen, dan puisi karya Anita FN Sunardi.

 

Cinta Literasi Sejak di Bangku SLB

Anita mengaku menyukai dunia literasi sejak sekolah dasar. Dia menemukan kecintaannya pada literasi di SLB/D YPAC Malang. Rasa cinta itu berlanjut hingga sekarang.

“Ada beberapa penulis yang saya jadikan panutan. Yakni almarhumah Mbak Ratna Swari Ibrahim. Beliau seorang penulis difabel dari Malang. Lalu Bunda Asma Nadia dan Chairil Anwar,” terangnya.

Perempuan berkacamata ini menuturkan proses menulisnya kurang lebih sama dengan penulis pada umumnya.

Dia mempersiapkan bahan tulisan dalam bentuk kerangka karangan. Mulai dari tema sampai profil tokoh yang ingin dibuat.

Inspirasi menulis Anita berasal dari buku yang pernah dibaca. Dia juga observasi lingkungan sekitar dan dari pengalaman sehari-hari.

Anita produktif menulis karena ingin melawan diskriminasi penyandang disabilitas. Dia ingin mengubah persepsi masyarakat tentang penyandang disabilitas.

“Kadang sering dipandang sebelah mata. Tanpa memberi kesempatan untuk berkembang dan maju,” curhatnya.

Anita berharap tulisannya mendorong penyandang disabilitas untuk terus berkarya.

“Tetap semangat belajar dan berkarya. Lakukan yang terbaik dalam setiap karya. Suatu saat, dunia akan melihatmu,” tutup Anita.(fat/yds)

 

Lanjutkan Membaca

Peristiwa

Gunung Semeru Erupsi, Jalur Pendakian Ditutup

Diterbitkan

||

Erupsi lava vulkanik Gunung Semeru membuat jalur pendakian ditutup. (Foto : Istimewa)

KABARMALANG.COM BBTNBTS menutup jalur pendakian gunung Semeru mulai Senin (30/11). Jalur pendakian ditutup hingga waktu yang belum bisa ditentukan.

Penutupan ditandai dengan surat edaran terkait penutupan sementara. Surat dikeluarkan tanggal 29 November.

Plt Kepala Balai Besar, Agus Budi Santosa membenarkannya. Dia menyebut penutupan gunung tertinggi Jawa akibat aktivitas vulkanik.

Letusan dan guguran lava pijar terlihat sebanyak 13 kali. Jarak kucur kurang lebih 500-1000 meter. Ini dihitung dari ujung lidah lava ke besuk kobokan.

“BBTNBTS menutup kegiatan pendakian Gunung Semeru secara total. Sejak tanggal 30 November 2020 sampai dengan batas waktu yang belum ditentukan,” tulis pengumuman surat yang ditandatangani Agus Budi Santosa.

Humas BBTNBTS Syarif Hidayat membenarkan surat edaran itu. Dia berharap pendaki yang naik Minggu (29/11) segera turun.

“Batasnya pendakian kan 2 hari 1 malam. Jadi saya kira pendaki mestinya sudah turun hari ini,” tuturnya saat dikonfirmasi, Senin (30/11).

Menurutnya, petugas TNBTS akan mendata pendaki yang sudah turun. “Kalau ada yang belum turun, area pendakian akan disisir,” tutupnya.

Aktivitas vulkanik dan erupsi memang terjadi di Gunung Semeru. Namun, statusnya masih waspada atau Level 2.(im/yds)

Lanjutkan Membaca

Kabar Batu

Wisata Air Terjun Coban Talun Bergeliat

Diterbitkan

||

Wisata Coban Talun di Kota Batu. (Foto : Arul)

 

KABARMALANG.COM – Wana wisata alam Coban Talun bergeliat. Setelah buka 4 bulan, omsetnya mencapai Rp 240 juta.

Ledakan wisata diakui terasa di Coban Talun. Harga tiket wisata air terjun Kota Batu memang murah. Cuma Rp 10 ribu saja.

“Sekitar 60 juta kurang lebih per bulan. Alhamdulillah bisa sampai seramai ini,” terang Samsul Hadi pengelola Coban Talun, Senin sore (23/11).

Dia menerangkan, wisatawan mencapai 1500 pengunjung di hari biasa. Saat akhir pekan, jumlahnya sampai dua kali lipat.

Yaitu, 2500 sampai 3000 pengunjung Dia pun optimis menyambut high season. Kenaikan wisatawan bisa memadati kapasitas Coban Talun.

“Kapasitas Coban Talun sekitar 5000 pengunjung. Kemungkinan akan penuh saat libur akhir tahun,” imbuhnya.

Wisatawan mulai beraktivitas di wisata alam tersebut. Protap kesehatan pun diterapkan secara ketat.

Mulai dari cek suhu dan cuci tangan. Serta, pembatasan pengunjung di satu spot.

“Pengunjung masuk diarahkan ke coban. Ketika coban penuh, diarahkan ke rumah oyot. Begitu seterusnya. Sehingga, pengunjung diajak ke 5 spot berbeda Coban Talun,” tandasnya.(arl/yds)

Lanjutkan Membaca

Terpopuler

WeCreativez WhatsApp Support
Marketing Kabarmalang.Com