Connect with us

Pemerintahan

Keseriusan Dinsos-P3AP2KB Menekan Angka Stunting di Kota Malang

Published

on

IMG 20230925 135216
Kepala Dinsos-P3AP2KB Kota Malang Donny Sandito (foto istimewa)

 

KABARMALANG.COM – Keseriusan Dinsos-P3AP2KB Kota Malang untuk menekan angka stunting. Terkait hal tersebut menjadi masalah yang serius dan sangat di perhatikan Pemkot Malang.

Kasus stunting tersebut terbanyak di alami oleh anak yang di sebabkan asab rokok yang di lakukan orang tua hampir 97 persen.

Melalui Kepala Dinsos-P3AP2KB Kota Malang Donny Sandito bahwa sebenarnya Kota Malang telah memiliki Peraturan Wali Kota (Perwal) Nomor 12 Tahun 2023 untuk membatasi kegiatan merokok dan melindungi kesehatan anak-anak dari dampak buruk asap rokok.

Hal tersebut sebenarnya di anggap sangat penting dalam penerapannya.

Hasil evaluasi yang di lakukan pada Rembuk Stunting Kota Malang tahun 2023 lalu menunjukkan hubungan kuat antara perokok aktif di rumah dengan tingginya angka stunting yang terjadi.

Dari beberapa rembuk stunting yang sudah di gelar di tahun kemarin, dampak rokok ada di urutan pertama. Sekitar  97 persen.

“Tapi di lain sisi, stunting itu juga bisa di sebabkan karena kekurangan energi kritis (KEK), kemudian pola asuh. Seperti itu,” kata Donny.

Kemudian perwal tersebut sebenarnya mengatur dengan jelas batasan ruang untuk merokok. Mulai harus berada di ruang terbuka atau tempat yang memiliki sirkulasi udara baik.

“Selain itu, tempat khusus merokok harus di lengkapi dengan informasi mengenai bahaya asap rokok dan tempat pembuangan puntung rokok,” ucapnya lagi.

“Ini perlu di masifkan lagi untuk mengurangi paparan asap rokok yang dapat menyebabkan stunting pada anak-anak,” sambung Donny.

Pihaknya menyebut telah menerapkan sejumlah program yang fokusnya untuk menekan angka stunting.

Mulai sosialisasi pencegahan pernikahan dini, pemberian vitamin B kepada remaja putri, sosialisasi oleh Duta Generasi Berencana (GenRe) ke sekolah-sekolah.

Hingga pengaktifan program Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) yang di implementasikan di beberapa kelurahan.

Sementara itu, berdasarkan hasil Survey Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, angka prevalensi stunting di Kota Malang turun dari hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 sebesar 18 persen menjadi 17,3 persen.

Lalu, berdasarkan hasil bulan timbang pada Februari 2024 yang di laporkan oleh Dinas Kesehatan, prevelansi stunting di Kota Malang sebesar 8,38 persen.

Di sisi lain, di lansir dari laman web Kementerian Kesehatan (Kemkes) RI, berdasarkan Pusat Kajian Jaminan Sosial UI pada tahun 2018, balita yang tinggal dengan orang tua perokok memiliki berat badan 1,5 kg lebih rendah di bandingkan balita yang tinggal dengan orang tua bukan perokok.

Selain itu, survei tersebut menjelaskan, 5,5 persen balita yang tinggal dengan orang tua perokok memiliki risiko lebih tinggi menjadi stunting. (*)

 

Advertisement

Terpopuler