Connect with us

Pemerintahan

Cegah Radikalisme, Polda Jatim Bina Takmir Di Kabupaten Malang

Published

on

Cegah Radikalisme, Polda Jatim Bina Takmir Di Kabupaten Malang
AKP Nunung Anggraeni, AKBP Sujiono dan Mohamad Arifin saat bina takmir masjid di Polres Malang. (foto : ist)

 

KABARMALANG.COM – Polda Jatim bersama Polres Malang melaksanakan pembinaan kepada perwakilan takmir masjid di wilayah Kabupaten Malang, Senin (13/9) demi cegah radikalisme.

Kasubdit Bintibsos Dit Binmas Polda Jawa Timur AKBP Sujiono hadir di Kepanjen dengan pendampingan Kasat Binmas Polres Malang AKP Nunung Anggraeni.

Pembinaan terlaksana di Gedung Sanika Satyawada Mapolres Malang. Sedangkan, acara bertujuan memberikan wawasan terhadap para takmir masjid.

Sehingga, mereka dapat berperan aktif membantu upaya pencegahan penyebaran paham radikalisme dan anti Pancasila di Kabupaten Malang.

Moh Arifin dari Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) hadir sebagai narasumber.

Datang juga Mohammad Shodiq selaku Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kepanjen. Serta, sekitar 40 undangan perwakilan takmir masjid jajaran Polres Malang.

AKBP Sujiono mengatakan, radikalisme merupakan suatu sikap yang mendambakan perubahan secara total.

Radikalisme, bersifat revolusioner dengan menjungkir balikkan nilai-nilai yang ada secara drastis. Bahkan, pada beberapa kasus, radikalisme bisa berujung kekerasan dan aksi-aksi ekstrem.

“Beberapa ciri yang bisa kita kenali dari sikap dan paham radikal antara lain intoleran, fanatik, eksklusif dan revolusioner,” jelas Sujiono.

AKBP Sujiono mengajak, cegah bersama penyebaran radikalisme yang menyasar di wilayah Polda Jatim, khususnya wilayah hukum Polres Malang.

“Mari cegah bersama penyebaran radikalisme yang menyasar pada masjid di wilayah hukum Polres Malang. Terutama menyasar pada kalangan generasi-generasi penerus bangsa ini,” kata Sujiono.

Kabar Lainnya : Pastikan Identitas Balita Bululawang, Labfor Polda Turun Tangan.

Acapkali, ada sejumlah oknum paham radikal yang menyalahgunakan masjid dan menjadi tempat rekrutmen jaringan teroris.

Kemudian, jaringan terorisme menggunakan kesempatan dan celah yang ada untuk menyebarkan paham radikalisme di masjid.

“Jika sudah menguasai masjid, mereka akan menyebarkan ideologi radikal. Takmir masjid harus mengetahui ada serangan paham radikalisme,” jelasnya.

Perkembangan radikalisme sendiri mulai dari proses pra radikalisasi, identifikasi diri, indoktrinasi, dan jihadisasi.

Sujiono kemudian menjelaskan ciri-ciri seseorang terjangkit virus radikalisme. Antara lain mulai memisahkan diri, intoleran, eksklusif, dan mudah mengkafirkan orang lain.

Sujiono menambahkan paparan dan juga motivasi. Dia pun memberi wawasan kebangsaan untuk memotivasi dan mengantisipasi berbagai dinamika masyarakat serta deteksi dini radikalisme dan terorisme.

“Memotivasi dan antisipasi berbagai dinamika radikalisme serta terorisme perlu antisipasi sejak dini,” tutupnya.(carep-04/yds)

Advertisement

Terpopuler