Connect with us

Edukasi

Pembelajaran Tatap Muka Kota Malang 19 April 2021, Begini Prokesnya

Diterbitkan

,

Pembelajaran Tatap Muka Kota Malang 19 April 2021, Begini Prokesnya
Pemkot Malang saat simulasi sekolah tatap muka pada bulan Agustus tahun 2020 lalu (Foto: Fathi)

 

KABARMALANG.COM – Wali Kota Malang, Sutiaji mengeluarkan Surat Edaran (SE) nomor 15 Tahun 2021 tentang penyelenggaraan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT).

Dalam SE tersebut, sekolah tatap muka terbatas di Kota Malang bakal terlaksana pada 19 April nanti.

SE itu muncul berdasarkan SE Mendikbud RI Nomor 4 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).

SE juga menindaklanjuti SKB Mendikbud, Menag, Menkes dan Mendagri pada 2020. Yakni tentang panduan penyelenggaraan pembelajaran tatap muka tahun ajaran 2020/2021 di masa pandemi covid-19.

Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan Kota Malang, Suwarjana membenarkan. SE Wali Kota Malang  tersebut berlaku untuk PAUD, SD dan SMP di Kota Malang.

“PTMT kami laksanakan serentak pada tanggal 19 April 2021, sesuai dengan Surat Edaran Walikota Malang Nomor 15 Tahun 2021,” ujar Suwarjana kepada Kabarmalang.com, Kamis (15/4).

Berikut ini protokol kesehatan selama Pembelajaran Tatap Muka Terbatas di Kota Malang.

1.Jumlah siswa yang melakukan pembelajaran tatap muka terbatas maksimal 50% dari jumlah murid. Jaga jarak minimal 1,5 meter, sedangkan 50 persen sisanya melakukan pembelajaran jarak jauh.

2.Kemudian, jumlah hari dan jam pembelajaran tatap muka terbatas dengan pembagian rombongan beląjar (Shift) dari satuan pendidikan. Tetap mengutamakan kesehatan dan keselamatan warga satuan pendidikan.

3.Selanjutnya, orang tua atau wali murid dapat memilih bagi putra-putrinya untuk melakukan pembelajaran tatap muka terbatas atau tetap melaksanakan pembelajaran jarak jauh.

4.Perlakuan wajib di seluruh lingkungan satuan pendidikan memperhatikan :

a.Menggunakan masker kain tiga lapis atau masker sekali pakai atau masker bedah yang menutupi hidung dan mulut sampai dagu.

b.Setelah itu, menyiapkan ketersediaan sarana untuk cuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun atau hand sanitizer. Penempatannya di depan pintu masuk sekolah dan di depan kelas.

c.Lalu, menyiapkan alat pengukur suhu tubuh yang penggunaannya untuk pengukuran suhu kepada siswa, tenaga pendidik dan kependidikan serta tamu yang datang ke sekolah.

d.Membersihkan ruangan dan lingkungan sekolah dengan menyemprot disinfektan secara rutin.

e.Tidak melakukan kontak fisik misalnya seperfi bersalaman dan cium tangan.

f.Menerapkan etika batuk atau bersin yang benar.

g.Kemudian, kantin tidak boleh beroperasi, warga satuan pendidikan lebih baik membawa makanan atau minuman dengan menu gizi seimbang.

h.Kegiatan olahraga dan ekstrakulikuler juga tidak boleh berlangsung di sekolah.

i.Tidak boleh ada kegiatan selain pembelajaran seperti orang tua menunggu siswa di sekolah istirahat di luar kelas, pertemuan orang tua, dan sebagainya.

j. Terakhir, sekolah membuat SOP pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas dengan memenuhi seluruh protokol kesehatan.

Kabar Lainnya : Rektor UT Minta Maaf Server Ujian Down.

Aturan ini sesuai Keputusan Bersama Mendikbud, Menag, Menkes dan Mendagri pada tahun 2020.

Yaitu tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran 2020/2021 dan Tahun Akademik 2020/2021 di Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).(fat/yds)

Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Edukasi

Direktur RSUB Jadi Guru Besar UB Bidang Kesehatan Masyarakat

Diterbitkan

,

Direktur RSUB Jadi Guru Besar UB Bidang Kesehatan Masyarakat
Foto: Prof. Dr.dr. Sri Andarini, M.Kes menyampaikan orasi ilmiah saat agenda pengukuhan guru besar UB (potongan layar).

 

KABARMALANG.COM – Universitas Brawijaya (UB) kembali mengukuhkan dua profesor baru di Gedung Widyaloka, UB, Kota Malang dengan protokol kesehatan covid-19.

Pertama adalah Prof. Ir. Puguh Surjowardojo, MP di bidang Ilmu Manajemen Ternak Perah dari Fakultas Peternakan (Fapet).

Ia merupakan profesor aktif ke 19 di Fapet dan profesor aktif ke 195 di UB serta menjadi profesor ke 279 dari keseluruhan profesor yang dihasilkan UB.

Kedua, Prof. Dr.dr. Sri Andarini, M.Kes di bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat dari Fakultas Kedokteran (FK).

Ia merupakan profesor aktif ke 17 dari FK dan profesor aktif ke-196 di UB serta menjadi profesor ke 280 dari keseluruhan profesor yang dihasilkan UB.

Sri Andarini saat ini menjabat sebagai Direktur Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB) sekaligus dosen di FK UB.

Kepala Humas UB, Kotok Gurito membenarkan. “Benar, baru saja ada pengukuhan guru besar Sabtu (8/5),” ujar Kotok kepada Kabarmalang.com, Senin (10/5).

Dalam agenda pengukuhan itu Sri Andarini menyampaikan orasi ilmiahnya berjudul Penatalaksanaan Obesitas secara Holistik dengan Pendekatan Kedokteran Keluarga.

Ia menerangkan obesitas merupakan penyakit kronis dengan prevalensi yang terus meningkat di seluruh dunia. Termasuk Indonesia dan akan meningkatkan beban ekonomi bagi masyarakat yang cukup besar.

“Survei Riset Kesehatan Dasar (RKD/Riskesdas) menunjukkan setiap tahun terjadi peningkatan prevalensi obesitas dari 10,5 persen pada tahun 2007. Menjadi 14,8 persen pada tahun 2013 dan menjadi 21,8 persen di 2018,” ujar Sri Andarini melalui kanal youtube Universitas Brawijaya.

Kabar Lainnya : 75 Warga UB Positif Covid-19.

“Obesitas sentral juga mengalami peningkatan cukup tinggi dari 18,8% pada 2007, 26,6% pada 2013, dan menjadi 31% pada 2018,” sambung mantan Dekan FK UB itu.

Menurutnya, penyelesaian masalah obesitas dapat terlaksana dengan pendekatan kedokteran keluarga.

Yakni melalui prinsip-prinsip holistik komprehensif, bersinambung, kordinasi dan kolaborasi, berorientasi pada pencegahan, dalam tatanan individu, keluarga dan komunitas.

“Prinsip holistik, artinya penyelesaian masalah tidak hanya peninjauannya dari faktor biologi. Tetapi juga peninjauan dari dimensi psikologis, sosial, lingkungan serta berorientasi pada keluarga dan komunitasnya,” jelasnya.

Sri Andarini mengatakan untuk memaksimalkan peran dokter keluarga perlu adanya modul-modul penatalaksanaan obesitas menggunakan pendekatan kedokteran keluarga.

“Tujuannya untuk memudahkan dokter, penderita obesitas dan masyarakat memahami dan melaksanakan program intervensi obesitas,” terangnya.

Sri Andarini menunturkan setelah menjadi guru besar bidang kesehatan masyarakat, ia akan terus mengabdi untuk kebermanfaatan masyarakat.

“Saya akan berupaya untuk meningkatkan kemampuan saya dalam bidang kesehatan masyarakat. Terutama kedokteran keluarga, ini untuk kemaslahatan bangsa dan negara,” ucapnya kepada Kabarmalang.com, Senin (10/5).

Tak lupa, ia juga berpesan kepada masyarakat untuk selalu mentaati protokol kesehatan Covid-19 di masa pandemi ini.

“Harus menjaga prokes, jaga jarak, pakai masker, cuci tangan, dan jangan berkerumun, itu yang penting,” katanya.

“Kemudian meningkatkan daya tahan tubuh dengan berolahraga dan mengonsumsi vitamin. Lalu happy-happy jangan sampai stress. Utamanya juga terus berdoa ke yang kuasa, kuncinya di situ,” akhirnya.(fat/yds)

Lanjutkan Membaca

Edukasi

236 Proposal Kreativitas Mahasiswa UB Lolos Pendanaan Dikti

Diterbitkan

,

Sebanyak 236 proposal Program Kreativitas Mahasiswa Universitas Brawijaya lolos mendapat pendanaan dari Dikti

 

KABARMALANG.COM – Sebanyak 236 proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Universitas Brawijaya (UB) lolos mendapat pendanaan dari Dikti.

Jumlah tersebut menempatkan UB di posisi keempat setelah UGM 348 proposal, ITS 298 proposal, dan IPB 244 proposal.

Koordinator PKM UB Dr.Agr.Sc. Hagus Tarno, SP., MP., menjelaskan kenaikan jumlah Proposal PKM tahun ini tidak terlepas dari program 1500 Proposal yang dicanangkan oleh UB.

Jumlah Proposal PKM yang mendapat pendanaan Dikti yaitu PKM Kewirausahaan atau PKM K (51), PKM Karsa Cipta atau PKM KC (42), PKM Penerapan Iptek atau PKM PI (19), PKM Pengabdian Masyarakat atau PKM PM (20), PKM Riset Eksakta atau PKM RE (71), PKM Riset Sosial Humaniora atau PKM RSH (21), dan PKM Gagasan Futuristik Konstruktif atau PKM GFK sebanyak 12 proposal.

“Program Gerakan 1.500 proposal ternyata mampu meningkatkan kontribusi proposal PKM pada masing-masing fakultas. Peningkatan jumlah proposal juga dipengaruhi oleh koordinasi intensif antara Rektorat yang dibantu oleh Lingkar Riset dalam merangsang pembuatan proposal, dan meningkatnya jumlah dosen pendamping dan reviewer Internal di masing-masing fakultas,” katanya.

Jika tahun lalu pelaksanaan PKM dilakukan secara daring, maka di tahun 2021 ini kemungkinan besar akan digelar hybrid dengan mengkombinasikan Luring dan Daring.

“Di tahun ini, ada penambahan kategori, yakni PKM Karya Inovatif yang dikelola oleh Dirjen Vokasi Kemendikbud. Sayangnya, informasi yang belum optimal diperoleh berbagai universitas, menyebabkan tidak banyak yang mengajukan usulan untuk PKM ini. UB sendiri hanya mengirimkan enam proposal namun belum ada yang diterima,” katanya.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Prof. Dr. Drs. Abdul Hakim, M.Si menambahkan PKM tahun ini menuntut tingkat intelektualitas yang lebih tinggi agar dapat lolos didanai oleh Dikti.

“Sehingga harus bisa menghasilkan suatu produk iptek yang lebih berkualitas. Semoga tim PKM UB bisa lebih banyak yang lolos ke Pimmas 2021,” katanya. (yds/fir)

Lanjutkan Membaca

Edukasi

ITN Malang Pendamping SMK, Mata Pelajaran Diakui SKS Kuliah

Diterbitkan

,

ITN Malang Pendamping SMK, Mata Pelajaran Diakui SKS Kuliah
Prof Abraham Lomi saat berbicara di depan 15 SMKN yang didampingi ITN Malang. (Foto : Istimewa)

 

KABARMALANG.COMITN Malang resmi menjadi perguruan tinggi pendamping SMK Pusat Unggulan. Dirjen Pendidikan Vokasi, Wikan Sakarinto, S.T., M.Sc., Ph.D pun menandatangani SK penunjukan ini.

ITN Malang menjadi satu diantara 146 perguruan tinggi negeri dan swasta se Indonesia yang akan melakukan pendamping Program SMK Pusat Keunggulan.

Dari jumlah tersebut ada 19 perguruan tinggi yang berada di Jawa Timur. Selain ITN Malang juga ada total 6 perguruan tinggi negeri dan swasta di Malang yang mendapat kesempatan sama.

Setelah penetapan, maka ITN Malang dan 15 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri melakukan koordinasi. ITN membahas soal program SMK 4 tahun.

Sekaligus, penandatanganan nota kesepahaman bersama di Auditorium Kampus 1 ITN Malang, Senin (3/5).

Sementara, 15 SMKN tersebut berasal dari Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu, Surabaya, Mojokerto, Tulungagung, Trenggalek dan Nganjuk.

“Untuk institut di Jawa Timur hanya ITN Malang dan ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember),” kata Rektor ITN Malang, Prof. Dr.Eng. Ir. Abraham Lomi, MSEE.

Menurut rektor, di Jawa Timur ada banyak SMK yang menyelenggarakan pendidikan 4 tahun. Sehingga ITN Malang bisa bersinergi dengan SMK yang akan mendapat pendampingan.

Salah satu pendampingan ITN pada level program studi, yaitu SMK yang menyelenggarakan pendidikan 4 tahun akan ada pengakuan SKS.

Sehingga, ketika masuk ke perguran tinggi, sudah ada mata pelajaran yang tuntas.

“Umumnya mendapatkan ijazah sarjana mahasiswa harus menempuh 144 SKS. Kami sepakat di level institut ada pengakuan SKS dari SMK program 4 tahun. Minimal 18 SKS dan maksimal 24 SKS,” jelas rektor ITN.

Kabar Lainnya : Terima Dana Hibah, 9 Prodi ITN Malang Terapkan Kurikulum Kampus Merdeka.

Sehingga, calon mahasiswa hanya menempuh 120 SKS. Masing-masing mahasiswa bisa menempuh 7 sampai 7,5 semester bergantung indeks prestasi mahasiswa tersebut.

Dengan adanya kerjasama ini, rektor berharap ITN Malang berkontribusi dalam pemgembangan SDM di level Jatim, khususnya Kota Malang.

Ada beberapa tugas yang menunggu ITN Malang sebagai pelaksana pendampingan. Misalnya, melakukan pendampingan pemenuhan 8 (delapan) standar nasional pendidikan.

ITN Malang menjadi pendamping berkat peran serta SMKN 6 Malang. Sebelum ini, ITN Malang dan SMKN 6 Malang sudah terlebih dahulu menjalin MoU April 2021.

Kepala SMKN 6 Malang, Drs Sidik Priyono, mengamini. Menurut Sidik, tanggal 8 April kemarin SMKN 6 Malang sudah melaksanakan MoU dengan ITN Malang.

Sidik mengapresiasi pengakuan ITN Malang terhadap matrikulasi 18 sampai 24 SKS. Harapanny, siswa SMK yang melanjutkan ke perguruan tinggi bisa cepat lulus.

“ITN mengakui minimal 18 sampai 24 SKS. Sehingga anak-anak kita yang SMK 4 tahun bisa mendapatkan jenjang lebih cepat (lulus) dari pada yang 3 tahun,” akhirnya.(carep-04/yds)

Lanjutkan Membaca

Terpopuler

WeCreativez WhatsApp Support
Marketing Kabarmalang.Com