Connect with us

Serba Serbi

Grafiti Jembatan Kedungkandang Malang Jadi Bahan Meme Internet

Diterbitkan

,

Grafiti Jembatan Kedungkandang Malang Jadi Bahan Meme Internet
Progres pengerjaan salah satu grafitti di pilar Jembatan Kedungkandang (Foto: Fathi)

 

KABARMALANG.COM – Grafiti jembatan Kedungkandang, Kota Malang viral sebagai meme internet. Simbolis penorehan grafiti oleh Forkopimda Senin (15/3) kemarin menjadi sorotan netizen.

Tiga hari terakhir, warga internet mencibir postingan tersebut dengan sinis. Ada juga yang menjadikannya bahan lelucon.

Dalam meme tersebut, foto template-nya adalah gambar pejabat Kejaksaan Kota Malang. Pejabat tersebut sedang menyemprotkan grafiti ke jembatan.

Tetapi, sejumlah netizen mengubah coretannya menjadi meme. Grafiti jembatan Kedungkandang Kota Malang pun meledak di internet.

Misalnya, ada meme bertuliskan, ‘obat sing pait wae iso marai mari. Mosok kowe sing manis malah marai loro?’

Ada juga netizen yang usil menulis, ‘bawang yo bawang, lek diulek yo ajur. Berjuang yo berjuang, nek gak diregani yo mundur’.

Ada pula netizen yang berkomentar bahwa itu adalah vandalisme. Tetapi, seniman gratifi Kota Malang tidak setuju dengan tudingan ini.

Karena, Pemerintah Kota Malang melibatkan 105 seniman untuk grafiti jembatan. Mereka berasal dari berbagai komunitas.

Mulai Senin (15/3) kemarin, para seniman grafitti sudah mulai menggambar. Pengerjaan graffiti harus selesai saat HUT Kota Malang 1 April 2021.

Kabar Lainnya : 10 Tokoh Publik Kota Malang Akan Simbolis Suntik Vaksin Covid-19.

Koordinator Komunitas Malang Graffiti, Junas membenarkan. Penggarapan karya seni itu terbagi ke dalam dua puluh tim.

“Ada dua puluh tim seniman yang tersebar di 5 pilar. Supaya cepat menyelesaikan gambarnya dalam waktu singkat. Teman-teman dari Surabaya dan Kediri juga membantu,” ujar Junas, kepada wartawan, Rabu (17/3).

“Ini ada 5 pilar. 10 sisi dan 12 spot gambar ya. Ada dari seniman Surabaya dan Kediri. Kita menjalin koneksi sesama komunitas Graffiti. Antar kota selalu begitu, terus menjalin komunikasi bagus,” tambahnya.

PT Indana Paint Kota Malang sebagai pihak ketiga menyediakan seluruh amunisi. Baik alat cat maupun alat grafitti.

Dalam tiga hari pengerjaan, karya para seniman mulai terlihat hasil yang signifikan. Mereka mengusung tema 3 B.

3 B adalah Bal-Balan (Sepak Bola), Band-Bandan dan Balapan. Sebab ketiga unsur tersebut mewakili corak dari Kota Malang.

“Semua memang tentang Kota Malang. Kita kan juga ada 3 B ya. Itu yang kita bawakan. Ada juga tema kuliner dan covid-19. Semua berkonsep Malangan,” ringkasnya.

Junas usul agar Pemerintah Kota Malang memasang lampu sorot khusus. Supaya, lampu bisa meng-highlight hasil grafitti yang telah tuntas.

“Harapannya bisa ada pemberian cahaya sorot yang mendukung. Agar kalau malam bisa tetap kelihatan bagus,” tuturnya.

Tak lupa, dia juga mengimbau kepada para oknum vandalisme. Agar tidak asal mengotori hasil grafitti di jembatan Kedungkandang Kota Malang.

“Untuk para oknum tolong jangan coret-coret lagi. Kalau mau ikut, silahkan kabari kita. Nanti kita berikan tempat di sini,” tutupnya.(fat/yds)

Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Serba Serbi

Apindo Kota Kabupaten Malang Donasi 190 Terpal Untuk Korban Gempa

Diterbitkan

,

Apindo Kota Kabupaten Malang Donasi 190 Terpal Untuk Korban Gempa
Perwakilan Apindo Kota Kabupaten Malang donasi terpal bagi masyarakat terdampak gempa di Desa Majang Tengah, Kecamatan Dampit. (Foto: Istimewa)

 

KABARMALANG.COM – Kepedulian terhadap warga terdampak gempa bumi di Malang 6,1 Magnitudo terus mengalir. Kali ini, Jumat (16/4) bantuan datang dari Apindo Kota dan Kabupaten Malang.

Mereka memberikan bantuan terpal berbagai ukuran. Jumlah terpal sebanyak 190 buah untuk wilayah Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, tepatnya di Desa Majang Tengah.

“Donasi ini untuk masyarakat Desa Majang Tengah, melalui Koordinator Posko Relawan, Bambang dan Babinsa Desa Majang Tengah, Kasiman,” ungkap Advokasi Apindo Kabupaten Malang, Agus Subyantoro di Desa Majang Tengah, Jum’at (16/4).

Kabar Lainnya : UMP Jatim Naik, Ini Harapan Apindo Kabupaten Malang.

Selain di Kecamatan Dampit, bantuan Apindo akan menyasar beberapa daerah lain yang terdampak gempa bumi, seperti Kecamatan Donomulyo dan Bantur.

Di sana mereka akan fokus memberikan bantuan kepada tempat ibadah yang terdampak gempa bumi.

“Bantuan terpal ini adalah bantuan pribadi dari salah satu anggota Apindo Kota Malang, Budi Utomo untuk korban gempa bumi melalui Apindo,” tuturnya.

Bantuan itu, menurut Agus masih tahap pertama. Selanjutnya Apindo juga akan memberikan bantuan kembali kepada warga terdampak gempa bumi.

“Bantuan terpal ini, harapan kami bisa membantu tenda personel relawan ketika membangun rumah warga nantinya,” ringkasnya.

“Selain itu, juga bisa juga menjadi alas bagi warga yang tidur di tempat pengungsian,” akhirnya.(im/yds)

Lanjutkan Membaca

Serba Serbi

Sumantri, Warga Malang Nekat Bersepeda Ke Jakarta Demi Baim Wong

Diterbitkan

,

Sumantri, Warga Malang Nekat Bersepeda Ke Jakarta Demi Baim Wong
Sumantri dan keluarganya. (Foto: Imron Haqiqi)

 

KABARMALANG.COM – Sejumlah grup Facebook beberapa waktu lalu ramai dengan konten Youtube Baim Wong yang menampilkan sosok warga Kabupaten Malang, yakni Sumantri.

Dalam konten itu, pria bernama asli Sumatriansyah itu menemui Baim Wong di kediamannya dengan menggunakan sepeda kayuh selama 11 hari.

Dia nekat bertolak ke Jakarta untuk menemui suami Paula Verhoeven itu.

Kini, Sumantri sudah kembali ke keluarganya di Malang, yang beralamat di Dusun Krajan, Desa Kanigoro, Kabupaten Malang.

Selasa (6/4) Kabarmalang.com menemuinya di kediamannya. Dia mengaku nekat menemui Baim Wong karena nge-fans padanya sejak lama.

“Saya ngefans atas sifat dermawannya Baim Wong,” ungkapnya.

Sebelum ngefans dengan Baim Wong, pria berusia 35 tahun itu mengatakan pernah ngefans juga dengan mendiang Olga Syahputra.

“Sama dengan Baim Wong, saya ngefans kepada Olga karena kedermawanan dan ketulusannya. Jadi, kedua artis itu punya tempat khusus di hati saya,” tuturnya.

Sumantri mengaku sudah sejak 2 tahun lalu punya keinginan besar bertemu dengan Baim Wong.

Namun, usahanya selalu menemui kendala baik dari sisi ekonomi maupun dari sarana yang bisa mempertemukannya.

“Sampai pada akhirnya saya bertekat bulat pada 4 bulan lalu, sekitar bulan Januari 2021. Namun, saya tertimpa musibah kesetrum saluran listrik saat mengecat rumah kakak,” ujarnya.

Alhasil, uang tabungan untuk berangkat ke Jakarta terpaksa menjadi biaya perawatannya. Ketika sudah cukup pulih dari perawatan medis, tekat Sumantri muncul kembali pada Senin (15/3) lalu.

“Dengan uang saku Rp 355 ribu dan sepeda kayuh pinjaman milik teman, saya berangkat ke Jakarta,” ujarnya.

Kabar Lainnya : Tips Lolos Tes CPNS, Konten Andalan Dosendeso.

Selama 11 hari menempuh perjalanan itu, Sumantri kerap mengalami suka duka. Dengan bekal Rp 355 ribu, dia selalu membeli satu bungkus nasi untuk 2 kali makan.

Meski begitu, uang saku itu pun tidak cukup untuk bekalnya sampai ke Jakarta. Alhasil, ia menghubungi keluarganya di Malang untuk mengirimi uang lagi sebanyak Rp 150 ribu.

“Di Cirebon itu juga, jas hujan saya hilang. Terpaksa saya harus menempuh perjalanan ke Jakarta dengan basah kuyup saat hujan turun,” bebernya.

Sementara itu, dia memilih sepeda kayuh sebagai alat transportasinya agar perjuangannya untuk menemui Baim Wong lebih berkesan dan punya nilai perjuangan.

Dia tidak memilih alat transportasi yang lain, seperti mobil atau kereta.

Tidak hanya itu, keberangkatannya menemui Baim Wong itu juga tidak diketahui oleh keluarga besarnya. Dia mengaku hanya izin untuk keluar sebentar ke Jakarta.

“Termasuk kepada ibu saya, saya hanya izin keluar sebentar ke Jakarta. Saya juga tidak bilang kalau saya berangkat menggunakan sepeda kayuh. Agar ibu saya tidak khawatir,” tutupnya.(im/yds)

Lanjutkan Membaca

Serba Serbi

Luncurkan Brand Kopi Marhaen Menang, GMNI Malang dukung Petani Kopi Malang Raya

Diterbitkan

,

GMNI Malang luncurkan Brand Kopi Marhaen Menang

 

KABARMALANG.COM – Kopi merupakan suatu minuman konsumsi favorit banyak orang. Semakin populer dan dekat di hati kalangan masyarakat Indonesia, khususnya di Malang.

Kopi kini hadir dengan berbagai varian. Perkembangan kopi saat ini sangat pesat, GMNI Malang luncurkan Brand Kopi Marhaen ala Bumi Arema.

Kopi Marhaen adalah campuran citra rasa dari Dampit dan gunung Kawi.

Ketua GMNI Malang, Bung Yongki mengatakan Brand Kopi Marhaen menang, diharapkan mampu mendorong para petani kopi di Malang Raya, agar bangkit bersaing di era kekinian, dan tidak tersudutkan di buminya sendiri.

Kopi Marhaen Menang tersedia jenis arabika sampai robusta

Kopi Marhaen Menang tersedia jenis arabika sampai robusta

“Brand kopi Marhaen ini di harapkan mampu mendorong para petani kopi di Malang Raya agar bangkit bersaing di era kekinian, dan para petani kopi ini tidak tersudutkan di buminya sendiri,” ujarnya, Minggu (4/4).

Yongki juga mengharapkan pemerintah agar tidak menutup mata dengan prodak petani lokal.

“Kehadiran pemerintah harus menyuport penuh petani-petani di Malang Raya ini,” pungkas Yongki.

Kopi Marhaen Menang, bekerja sama dengan kartika Jaya Kopi, jenis kopi yang tersedia dimulai dari jenis arabika sampai robusta, berpaduan citra rasa dari kopi Dampit dan Kopi Gunung Kawi. (carep-03/fir)

Lanjutkan Membaca

Terpopuler

WeCreativez WhatsApp Support
Marketing Kabarmalang.Com