Connect with us

Serba Serbi

Kisah Penjaga TMP Turen, 53 Tahun Tanpa Gaji

Diterbitkan

,

Kembang, penjaga TMP Turen selama setengah abad lebih. (Foto : Imron Haqiqi)

KABARMALANG.COM– Harum perbuatannya. Harum kesetiaannya. Pengabdian dan keikhlasannya seperti bunga yang sedap dicium.

Kembang, itulah nama penjaga TMP Turen. Selama 53 tahun terakhir, dia setia merawat TMP.

Seperti namanya, Kembang sungguh elok dipandang. Bukan fisiknya yang sudah renta itu yang enak dilihat.

Kembang sudah berusia 90 tahun. Harusnya sudah pensiun.

Tak ada lagi tanda kemudaan padanya. Dia pun telah keriput.

Tapi, kesetiaannya kepada TMP Turen-lah yang tidak pernah layu.

Karena, dia tak mengharap sepeserpun untuk menjaga nisan pahlawan. Kembang ikhlas memelihara kebersihan TMP Desa Gunung Petung, Turen.

Saat ditemui, Selasa (10/11) Kembang pun menceritakan kisahnya.

 

Disuruh Kiai Jaga TMP Turen

Dia menjadi penjaga makam karena permintaan kiai.

“Sejak tahun 1967 saya menjaga makam ini. Karena disuruh salah satu kiai di sini. Saat itu Pak kiai sudah sakit dan mau meninggal. Sementara anaknya gak mau meneruskan pelihara makam,” terangnya.

Menurutnya, kiai tersebut datang langsung ke rumah Kembang. Dia diminta merawat makam pahlawan. Saat itu masih ada 100 makam.

“Waktu itu luas TMP kira-kira masih 100 meter persegi,” ungkapnya.

Atas dawuh kiai, Kembang memenuhi permintaan tersebut. Saat datang ke TMP, kondisi makam sudah cukup memprihatinkan.

“Awalnya makam ini tidak terurus. Banyak rumput-rumput ilalang setinggi batu nisan. Alhamdulillah saya bersihkan sampai serapi ini sekarang,” ujarnya.

 

Tak Terima Gaji Pokok

Separuh abad, Kembang menjaga makam pahlawan itu. Kembang tidak mendapatkan gaji pokok. Baik dari Pemdes Gunung Petung maupun Kecamatan Turen.

Namun, ini tak menyurutkan keikhlasannya melindungi makam pahlawan. “Saya dari awal ikhlas tanpa dibayar,” ujar Kembang.

Lantas, untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, Kembang menjadi buruh cangkul.

Selama puluhan tahun, Kembang melakoni ini. Kadang-kadang, dia mendapatkan santunan peziarah atau warga.

“Biasanya ada bantuan seikhlasnya dari warga dan peziarah. Selain merawat makam ini biasanya saya bekerja jadi buruh cangkul,” jelasnya.

 

Baru Dibantu Pemerintah 2019

Sejak 2019, Kembang memang mendapatkan insentif tiga bulanan. Awalnya dia mendapat Rp 750 ribu per triwulan.

“Alhamdulillah sejak 2019, Departemen Sosial memberikan Rp 750.000 per triwulan. Sekaligus bantuan beras,” cerita Kembang.

Meski demikian, nilai itu terasa tidak layak. Mengingat, dia mengabdi di makam pahlawan sejak 1967.

Tahun 2020, Kembang akan dapat kenaikan insentif. Yaitu, Rp 1,12 juta per triwulan.

“Tapi belum tahu bakal jadi atau tidak,” ungkapnya.

Kembang tetap memegang dawuh kiai. Yang kini sudah meninggal itu.

Dia tetap memegang janjinya kepada kiai untuk merawat makam.

Kini ada 172 makam di TMP Turen. Kembang setiap hari datang merawat makam.

“Saya merawat setiap hari dari pagi sampai sore. Biasanya menyapu dan mencabuti rumput,” ucapnya.

Danramil 0818/14 Turen, Kapten Inf Yuyud Hadi Purnomo mengapresiasi. Dia mengakui jasa-jasa Kembang selama ini.

Setiap datang ke TMP, dia melihat kondisi TMP bersih.

“Ya, saya mengenal Pak Kembang. Apapun ceritanya, dia memang berjasa kepada TMP,” tuturnya.(im/yds)

 

Advertisement Gempur Rokok Ilegal Bea Cukai Malang
1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: HUT Ke 75, Persit KCK Ziarah Makam Pahlawan Di TMP Suropati Malang

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

// width=
Marketing Kabarmalang.Com
Aktifkan Notifikasi OK Tidak Terimakasih