Connect with us

Serba Serbi

Mabok Tagar Trending, Ini Miras Ngepop di Malang

Diterbitkan

,

Mabok Tagar Trending, Ini Miras Ngepop di Malang
Minuman keras populer di Malang. (Foto : red)

KABARMALANG.COM – Mabok. Mabuk. Mabora. Begitu banyak istilah para peminum dalam menikmati miras. Tagar ‘mabok’ pun trending. Malang memiliki banyak miras yang ngepop sampai sekarang.

Sudah dilarang-larang, tapi miras masih banyak peminat. Berikut adalah lima daftar minuman yang acapkali menjadi senjata untuk mabok.

Daftar ini tidak mewakili semua jenis miras di Malang. Sangat mungkin preferensi para peminum di Malang berbeda-beda.

1.Anggur Merah.

Sama seperti daerah lain, Anggur Merah sangat populer di Malang. Utamanya, di kalangan anak-anak muda. Karena, kombinasi anggur merah dengan bir dingin juga populer.

Dulu, anggur merah adalah miras konsumsi kelas bawah. Berkat trending medsos, amer naik pangkat.

Seperti lagu Amer karya Mardial, amer bukan sekadar miras. Amer adalah alat panjat sosial.

Anak muda meminumnya sembari menunggah foto di Instagram. Miras amer dipopulerkan di ibukota. Sebelum akhirnya ikut trending di daerah.

2.Abidin.

Seperti amer, miras Abidin juga populer di Malang. Abidin adalah singkatan anggur merah bir dingin.

Seperti namanya, Abidin adalah campuran anggur merah bir dingin. Tiap peminum punya preferensi campuran sendiri-sendiri.

Ada yang gemar 1 banding 1. Ada pula yang 1 amer banding 2 bir. Pun, ada yang suka 1 banding 1/2.

Bagi penggemar miras, terutama amer, anggur merah bir dingin adalah variasi. Karena, efeknya dianggap lebih nendang ketimbang amer biasa.

3.Trobas.

Miras ini disukai sekaligus ditakuti. Karena, produksinya masih ilegal. Ini tentu berbeda sensasi dengan anggur merah bir dingin

Acapkali, kepolisian menggerebek produsen miras trobas. Namun, karena populer, masih ada saja yang nekat produksi.

Sebagian besar produksinya adalah rumahan. Miras trobas terbuat dari fermentasi ketan hitam.

Biasanya, trobas diproduksi secara massal. Harganya yang murah membuat miras trobas populer.

Namun, banyak yang menyarankan tidak membeli miras trobas. Karena, kadar alkoholnya tidak terukur.

Serta, tidak terpantau BPOM maupun Bea Cukai.

Trobas acapkali dioplos dengan berbagai hal. Kasus kematian banyak terjadi Kota Malang karena mabok oplosan.

4. Arak.

Arak merupakan simbol tradisi minum di berbagai daerah.

Begitu variasi arak. Namun, di Malang terdapat nama arak untuk mabok yang cukup terkenal.

Yaitu, arak Polehan. Sesuai namanya, arak ini konon diproduksi di kawasan Polehan.

Miras ini bahkan dijadikan lagu oleh grup rap lokal. Yaitu, Ngancuk Crew.

Arak memiliki warna bening. Dengan bau yang sangat menyengat hidung. Ini jelas berbeda dari anggur merah bir dingin yang populer bagi pemuda pemudi masa kini.

Kebanyakan, bahan pembuatan arak adalah beras fermentasi.

5.Vodka.

Vodka sebenarnya adalah minuman luar negeri. Tepatnya, dari Eropa timur. Khususnya, Rusia, Polandia dan Swedia.

Vodka asli, terbuat dari air dan etanol untuk mabok.

Di Malang, banyak beredar minuman berjenis vodka. Komposisinya juga etanol.

Namun, beberapa jenis vodka tampaknya bukan dari luar negeri. Melainkan, produksi lokal dan imitasi vodka luar negeri.(carep-04/yds)

Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Serba Serbi

Pasutri di Malang Banyak Anak, Mandi Pun Harus Rebutan

Diterbitkan

,

Pasutri di Malang Banyak Anak, Mandi Pun Harus Rebutan
Pasutri Mulyono dan Partina yang punya 16 anak di Kota Malang. Anaknya menunjukan dua kartu keluarga mereka (Foto: istimewa)

 

KABARMALANG.COM – Pasutri Mulyono, 46, dan Partina, 45, warga Sukun di Kota Malang viral. Sebab keduanya memiliki 16 anak.

Kisahnya mencuri perhatian publik karena putri ketujuh mereka. Yakni Ariyana memposting foto keluarganya di akun TikTok. Hingga kini sudah mencapai jutaan viewers.

Kabar Lainnya : Pasutri Tipu Warga Bali, Modus Jual Masker Rp 600 Juta.

Keluarga viral itu tinggal di Jalan Krakatau, Sukun, Kota Malang. Mereka menghuni sebuah rumah berukuran sekitar 4 x 12 meter.

Keduanya resmi menikah pada tahun 1986. Mereka mulai memiliki anak pertama pada 1988. Dengan nama Sri Handayani. Selain itu, semua anak pasutri di Malang itu lahir normal.

Mulyono menceritakan, saat ini anaknya berjumlah 14. Karena anak ketiganya telah meninggal saat berumur tujuh bulan. Lalu anak terakhir meninggal saat berusia 21 hari.

“Sebanyak 16 anak, 10 di antaranya perempuan. Sementara, sisanya berjenis kelamin laki-laki,” ujar Mulyono kepada wartawan, Jumat (26/2).

“Awalnya ingin punya anak laki-laki. Karena anak pertama sampai keempat itu perempuan semua. Akhirnya yang kelima keluar laki-laki. Dengan nama Robby Min Anwar,” tambahnya.

Partina ikut menambahkan. Jumlah anaknya berjumlah belasan. Sehingga keluarga mereka sampai memiliki sebanyak dua buah kartu keluarga.

Dia juga menceritakan suka duka membesarkan dan merawat anak-anaknya tersebut. Misalnya, kalau mau mandi saja anak sampai harus rebutan.

“Kalau merawat ya capek tapi ramai. Kan juga senang. Mau mandi aja sempat bertengkar. Bahkan kalau mau tidur pada rebutan mau dekat dengan ibunya,” katanya.

Partina adalah pedagang warung kaki lima di Jagalan, Klojen, Kota Malang. Sedangkan, Mulyono berprofesi sebagai penjual bakso keliling.

Meski hidup sederhana, keluarganya tetap hidup bahagia dan bersyukur. “Syukurnya anak tidak rewel. Makan nasi sama garam aja bisa sehat kok,” ungkapnya.

Pasangan Partina dan Mulyono saat ini tinggal bersama delapan anak. Sisanya ada yang sudah bekerja di luar kota. Ada juga yang sudah menikah.

“Delapan ini masih sekolah semua. Satu orang masih kuliah. Tiga orang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tiga orang Sekolah Dasar (SD). Kemudian satu orang Taman Kanak-Kanak,” tutupnya.(fat/yds)

Lanjutkan Membaca

Serba Serbi

Viral Kata Pelakor, Ini Penjelasan Pakar Bahasa UMM

Diterbitkan

,

Viral Kata Pelakor, Ini Penjelasan Pakar Bahasa UMM
Dosen Prodi Bahasa Indonesia UMM, Faizin, M.Pd (Foto: istimewa)

 

KABARMALANG.COM – Sepekan terakhir memang kata pelakor menjadi viral lagi. Kata pelakor sendiri adalah akronim kata dari perebut laki orang.

Belakangan ini jagat maya heboh dengan berita penyanyi Nissa Sabyan. Dia mendapat kritikan serius karena tudingan pelakor.

Nissa  menjadi orang ketiga dalam pernikahan Ayus Sabyan-Ririe Fairus. Ayus Sabyan adalah rekan Nissa dalam grup Sabyan Gambus.

Dosen Prodi Bahasa Indonesia UMM, Faizin, M.Pd turut berkomentar. Tetapi, terkait diksi pelakor yang viral dari perspektif linguistik.

“Kalau kemunculan kata pelakor pastinya kan di medsos. Yang rame terkait orang ke 3 sebenarnya. Awal pasti muncul kata tersebut saya tidak memiliki datanya,” ujar Faizin kepada Kabarmalang.com, Rabu (24/2).

“Yang jelas itu muncul di dunia popular. Karena di KBBI pun tidak ada. Yang ada hanya kosakata dasarnya. Yakni perebut dan perampas. Itu yang bisa mewakili kata tersebut,” tambahnya.

Faizin kurang sepakat dengan istilah pelakor. Karena kata itu lebih berkonotasi negatif terhadap perempuan.

Dia mengatakan bahwa seakan perempuan yang menjadi subjek pelaku.

“Padahal secara pelaksanaan, kan pelakunya dua pihak. Karena sama-sama punya keinginan. Entah yang memulai laki-laki atau perempuan,” ungkap Kepala Divisi Internasionalisasi Bahasa UMM itu.

Menurut Faizin, diksi pelakor menjadi tendensius kepada perempuan. Seolah pria tidak punya sumbangsih. Padahal, bisa saja pria yang merayu duluan, lalu si perempuan mau.

“Memang dalam aspek kebahasaaan harusnya dua-duanya. Misalnya pebinor (perebut bini orang). Kalau akronim kan tinggal dibikin,” tuturnya.

Dari situ padanan kata baru bisa terlihat seimbang. Porsi laki-laki juga ada akronimnya. Sehingga, ketika ada polemik rumah tangga, bisa terlihat siapa pelakunya.

Kabar Lainnya : Mahasiswa UMM Ciptakan Aplikasi Koreksi Ejaan.

Menurutnya, simbolisme bergantung dari pelaksanaan, bagaimana hal itu terjadi. Kalau memang subjeknya perempuan yang merebut berarti pelakor.

“Jangan lari ke objek person yang salah. Misalnya laki-laki yang merebut. Kenapa perempuan yang jadi pelakor, padahal laki-laki yang memulai,” tegasnya.

Kata merebut dalam KBBI berarti merampas atau ambil paksa. Artinya si objek tidak mau.

“Kalau perebut, berarti suaminya tidak mau. Kalau memang suaminya melakukan apa-apa. Maka menurut saya tidak tepat denotasinya mengatakan perebut,” jelasnya.

Sehingga, istilah perebut tidak sekonyong-konyong boleh melabeli perempuan. Yaitu yang menjadi orang ketiga di sebuah keluarga.

Faizin memberikan alternatif diksi yang lebih pas. Pelakor bisa ganti dengan diksi wanita idaman lain. Untuk si pria bisa disematkan istilah lelaki tidak setia. Begitu juga sebaliknya.(fat/yds)

Lanjutkan Membaca

Serba Serbi

Kabar Cuaca Malang, Puncak Musim Hujan Hingga 21 Februari

Diterbitkan

,

Kabar Cuaca Malang, Puncak Musim Hujan Hingga 21 Februari
Ilustrasi tekanan angin di wilayah Kepulauan Indonesia. (BMKG Karangploso)

 

KABARMALANG.COM – Kabar cuaca Malang Raya terbaru masih akan hujan. BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso sudah memprediksinya.

Puncak musim hujan Malang berlangsung hingga 21 Februari mendatang. Pemicunya adalah tekanan rendah di selatan pulau Jawa.

Sehingga mengakibatkan pertumbuhan awan konvektif.

“Sekarang ini puncak musim hujan. Ada gangguan di selatan Jawa. Akibatnya aka nada angin kencang dan hujan lebat, ” ungkap Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Malang, Linda Fitrotul, Jum’at (19/2).

Baca Juga : Cuaca Memburuk, 15 Pohon Besar Tumbang.

Menurutnya, tekanan rendah di selatan Jawa menambah gangguan atmosfer. Sehingga musim hujan akan semakin lebat beserta angin kencang.

Linda menyebut, catatan kecepatan angin mencapai 45 km per jam. Apalagi, kelembaban udara saat ini mencapai 75-95 persen.

Inilah yang memicu percepatan proses pertumbuhan awan konvektif. Serta, mempengaruhi kabar cuaca Malang hari ini.

“Bisa sebabkan hujan siang dan sore serta angin kencang. Tetapi tidak terus menerus. Karena, tergantung topografi dan daerahnya seperti apa, ” terang Linda.

Kondisi semacam itu memang kerap terjadi di Malang Raya. Walaupun, pusat tekanan rendah tidak hanya di Malang saja.

Tetapi memanjang di barat daya Jawa hingga selatan Sumatera. Fenomena tersebut wajar terjadi di puncak musim hujan.

“Lumrah terjadi di musim penghujan,” urainya.

Oleh sebab itu, ia berharap masyarakat waspada. Dia meminta warga mengurangi aktivitas di luar rumah.

Dia juga meminta warga waspada saat melintasi papan reklame. Termasuk, baliho dan pohon yang sudah rapuh.

“Harapannya bisa meminimalisir adanya korban bencana,” paparnya, menutup kabar cuaca Malang hari ini.(im/yds)

Lanjutkan Membaca

Terpopuler

WeCreativez WhatsApp Support
Marketing Kabarmalang.Com