Connect with us

Serba Serbi

Modif Minion Minitrek Sedang Tren

Diterbitkan

||

Foto: Rudiyanto, asal Blimbing. Kreator mminion minitrek dengan konsep macan, pemenang tema terbaik dalam gelaran Malang Contest 2020. (Foto : Fathi)

KABARMALANG.COM – Modifikasi Minion Minitrek sedang ngtren di Malang. Contohnya, sepeda dengan konsep motif macan.

Adalah Rudiyanto, asal Blimbing, sang pemilik sepeda itu. Dia menampilkan modifikasi minion kombinasi. Yakni, motif mobil hot wheel dengan konsep macan.

“Konsepnya macan, memang karena senang aja. Saya juga punya seragamnya. Inspirasinya dari saya sendiri,” kata Rudiyanto kepada Kabarmalang.com.

Ia sendiri adalah anggota Komunitas Minion Minitrek Malang. “Pengerjaan sepeda ini sekitar tiga bulanan karena saya cicil. Sebelum kontes memang sudah jadi,” lanjutnya.

Sebelumnya, Rudiyanto mengikuti Malang Contest Minion Minitrek. Dia memenangkan kategori tema terbaik.

Rudiyanto berhak mendapatkan tropi dan piagam penghargaan. Perasaannya bangga saat meraih gelar tema terbaik.

Dia mengaku sudah yakin bakal menang dalam kategori tersebut.

“Karena konsep saya berbeda. Juara 1 yang lain, lebih banyak mengeluarkan uang. Sparepart yang digunakan lebih mahal,” tuturnya.

Perangkat yang digunakan Rudiyanto, sebagian besar adalah barang bekas.

Biaya yang dikeluarkan juga tidak besar. Untuk pewarnaan, dia menggunakan cat biasa. Harganya hanya Rp 30 ribu.

Latar belakang Rudiyanto adalah seorang pelukis. Inilah yang mempengaruhi kreasinya.

“Saya basic-nya pelukis. Saudara-saudara saya kreatif. Secara ide juga seniman jadi lebih kreatif,” tambahnya.

Koleksi sepeda Rudiyanto jumlahnya sekitar 13 buah. Dia pernah membuat konsep unik. Misalnya, sepeda dengan motif TNI AU dan TNI AL.

“Rencananya ke depan ingin bikin satu lagi. Ingin bikin lagi yang lebih seru,” tutupnya.(fat/yds)

2 Lampiran

Klik untuk mengirimkan komentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Serba Serbi

2015, Erupsi Freatik Gunung Bromo Setinggi 1 Kilometer

Diterbitkan

||

Foto : Gunung Bromo (dokumen Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru)
Foto : Gunung Bromo (dokumen Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru)

KABARMALANG.COM – Pusat Vulkanologi, Mitigasi, Bencana Gunung Api (PVMBG) merilis letusan freatik berpotensi terjadi di Gunung Bromo. Bukan kali ini saja, pada 2015 silam letusan sama pernah terjadi. Dengan tinggi erupsi sampai 1 kilometer.

“Tahun 2015 pernah, kolom abu mencapai tinggi 1 kilometer lebih dari puncak Gunung Bromo,” kata Kepala Bidang Gunung Api PVMBG, Hendra Gunawan kepada Kabarmalang.com, Rabu (21/10/2020).

Hendra mengatakan, ketika itu, erupsi terjadi secara terus menerus selama beberapa jam. Namun, kemudian aktifitas gunung berketinggian 2329 mdpl itu mereda.

“Letusan menerus beberapa jam kemudian reda, berfluktuasi,” ujar Hendra menjelaskan.

Menurut Hendra, terjadinya erupsi akan membawa dampak, apabila terbawa angin. Bisa sampai ke pemukiman penduduk atau menutupi area perkebunan.

“Bila terbawa angin, maka abunya terbawa ke atap-atap rumah penduduk atau ke perkebunan,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Hendra turut menjelaskan, apa itu letusan freatik. Yakni, letusan uap air.

Letusan itu, tidak secara langsung diakibatkan oleh naiknya magma menuju permukaan sebuah gunung berapi.

“Letusan freatik itu adalah letusan uap air, jadi letusan yang tidak secara langsung diakibatkan oleh naiknya magma menuju permukaan,” jelas Hendra.

Sementara letusan freatik, lanjut Hendra, dapat hanya berupa uap air putih saja. Namun, bisa juga letusan disertai material lama yang berada pada dinding lubang kawah ikut terbawa uap air.

“Sehingga kemudian berwarna abu keputihan saat letusan terjadi,” pungkas Hendra.

Meski demikian, kata Hendra, aktifitas Gunung Bromo belum menunjukkan aktifitas secara signifikan.

Hanya saja, dengan status Waspada level II, direkomendasikan jarak aman diluar radius 1 kilometer dari kawah. Selain, adanya potensi letusan freatik secara tiba-tiba.

“Tremor bersifat menerus (terekam setiap hari), tapi energi tremornya masih kecil (amplitudo tremor rata-rata hanya 1 mm). Bandingkan dengan amplitudo tremor menjelang atau saat erupsi yang mencapai amplitudo rata-rata 25 mm,” paparnya.

PVMBG mengingatkan, letusan freatik Gunung Bromo berpotensi terjadi secara tiba-tiba tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas.

Rekomendasi sudah dikeluarkan, agar masyarakat, pengunjung wisata dan pengelola wisata tidak memasuki kawasan dalam radius 1 kilometer dari kawah aktif. (rjs/yds)

Lanjutkan Membaca

Serba Serbi

PVMBG : Ada Potensi Letusan Freatik Gunung Bromo

Diterbitkan

||

Foto : Gunung Bromo (dokumen Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru)
Foto : Gunung Bromo (dokumen Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru)

KABARMALANG.COM – Pusat Vulkanologi, Mitigasi, Bencana Gunung Api (PVMBG) merekomendasikan adanya bahaya letusan freatik Gunung Bromo. Aktifitas dalam radius 1 kilometer dari kawah pun dilarang. Apa maksud letusan freatik itu ?.

Kepala Bidang Gunung Api PVMBG, Hendra Gunawan mengatakan, letusan freatik adalah letusan uap air. Letusan itu, tidak secara langsung diakibatkan oleh naiknya magma menuju permukaan sebuah gunung berapi.

“Letusan freatik itu adalah letusan uap air, jadi letusan yang tidak secara langsung diakibatkan oleh naiknya magma menuju permukaan,” jelas Hendra kepada Kabarmalang.com, Rabu (21/10/2020).

Menurut Hendra, pada kondisi tersebut, magma masih berada pada kedalaman dan tidak bergerak naik.

Akan tetapi panas magma dapat memanaskan lapisan air tanah di kedalaman 1 sampai 2 kilomter dibawah kawah.

“Sehingga lama-lama air di kedalaman tersebut akan mempunyai tekanan tinggi dan berakibat letusan freatik,” bebernya.

PVMBG telah merekomendasikan agar masyarakat menghindari aktifitas radius 1 kilometer dari kawah Gunung Bromo.

Tujuannya, mengantisipasi terjadinya letusan freatik (yang biasanya berupa letusan kecil).

“Maka yang berada diluar radius 1 kilometer akan relatif aman,” kata Hendra.

Sementara letusan freatik, lanjut Hendra, dapat hanya berupa uap air putih saja. Namun, bisa juga letusan disertai material lama yang berada pada dinding lubang kawah ikut terbawa uap air.

“Sehingga kemudian berwarna abu keputihan saat letusan terjadi,” pungkas Hendra.

Meski demikian, kata Hendra, aktifitas Gunung Bromo belum menunjukkan aktifitas secara signifikan.

Hanya saja, dengan status Waspada level II, direkomendasikan jarak aman diluar radius 1 kilometer dari kawah.

Selain, adanya potensi letusan freatik secara tiba-tiba.

“Tremor bersifat menerus (terekam setiap hari), tapi energi tremornya masih kecil (amplitudo tremor rata-rata hanya 1 mm). Bandingkan dengan amplitudo tremor menjelang atau saat erupsi yang mencapai amplitudo rata-rata 25 mm,” paparnya.

Laporan PVMBG per 20 Oktober 2020 mencatat, aktifitas Gunung Bromo secara visual cukup jelas hingga kabut 0-III.

Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang dan tinggi 50-300 meter di atas puncak kawah pada gunung berketinggian 2329 mdpl itu.

Tercatat juga gempa tremor menerus yang terekam dengan amplitudo 0.5-1 mm (dominan 1 mm).

PVMBG menyatakan, status Gunung Bromo adalah Waspada Level II. Dengan merekomendasikan masyarakat di sekitar Gunung Bromo dan pengunjung atau wisatawan tidak memasuki kawasan dalam radius 1 kilometer dari kawah aktif.

Masyarakat di sekitar Gunung Bromo, baik itu pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba – tiba dan tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas.

Sebelumnya, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru mengumumkan hingga saat ini wisata Gunung Bromo belum dapat dikunjungi wisata.

Selain mencegah penyebaran Covid-19, pembatasan kunjungan wisatawan berdasarkan rekomendasi Pusat Vulkanologi, Mitigasi, Bencana Gunung Api (PVMBG) terkait bahaya aktifitas Gunung Bromo. (rjs/yds)

Lanjutkan Membaca

Edukasi

Museum Batu Mulia Intip Peninggalan Purba

Diterbitkan

||

Museum Batu Mulia Universitas Brawijaya (Foto : Fathi)

KABARMALANG.COM – Destinasi wisata museum bertumbuh di Kota Malang. Satu di antaranya Museum Batu Mulia Universitas Brawijaya (UB).

Pengunjung diajak mengintip sekelumit peninggalan zaman purbakala. Museum Batu Mulia terletak di lantai dasar rektorat UB.

Anda bisa mengunjunginya tanpa dikenakan tarif. Ada 140 koleksi batu terpajang di situ.

Batuan diletakkan di dalam dua lemari kaca besar. Tampak bongkahan pra sejarah terpajang, lengkap dengan keterangan.

“Museum ini mengulas batu akik didapat dari batu-batuan purbakala. Akik itu batu yang berkembang lama,” ujar Kotok Gurito, Kepala Humas Universitas Brawijaya kepada Kabarmalang.com, Rabu (21/10).

Menurut Kotok, batu-batunya kuno dan menyiratkan kebudayaaan.

Ada batuan dari kayu yang terpendam lama. Lalu menjadi batu. Proses pembatuan dari kerangka binatang juga ada.

“Melihat itu, bayangan kita dibawa ke masa lalu. Ini untuk menggambarkan zaman purba seperti apa. Ya dari bebatuan-bebatuan ini,” jelasnya.

Ia menambahkan, museum diresmikan pada tahun 2016.

“Bagi sebagian orang, batu kuno adalah koleksi dan hobi,” tutupnya.(fat/yds)

Lanjutkan Membaca
Advertisement Iklan Sosialisasi Perwali Kota Batu
Advertisement Iklan cukai Pemkot Batu

Terpopuler

WeCreativez WhatsApp Support
Marketing Kabarmalang.Com