Connect with us

Pemerintahan

Workshop Ulat Sutera, Terapi Penyandang Disabilitas

Published

on

IMG 20201113 072651 scaled
Peserta workshop kewirausahaan ulat sutera, yakni para kaum disabilitas Kota Malang (Foto: Fathi).

 

KABARMALANG.COM – Dinsos-P3AP2KB Kota Malang mengadakan workshop kewirausahaan ulat sutera. Workshop diikuti para penyandang disabilitas sebagai terapi.

Workshop dihelat di Kantor Kecamatan Lowokwaru, Kamis pagi (12/11).

“Kegiatannya sudah dari hari Selasa (10/11) kemarin, ada budidaya ulat sutera, lalu pemintalan benang sutera, dan yang terakhir ini ada eco print,” ujar Titing Rara Wulansari, Pendamping Penyandang Disabilitas Kementrian Sosial untuk Malang Raya kepada Kabarmalang.com, Kamis (12/11).

Titing mengatakan budidaya ulat sutera penting untuk anak tuna grahita. Agar, mereka berusaha untuk disiplin waktu.

Bagian pemintalan dikerjakan tuna rungu-wicara. “Dengan itu mereka bisa fokus dengan pemintalan itu. Karena membutuhkan ketelatenan dan kesabaran,” imbuhnya.

Sementara, tahapan eco print, cocok untuk seluruh disabilitas. Fungsinya untuk mengendalikan emosi.

“Mereka bisa fokus untuk kegiatan ini. Ketika mereka emosinya meledak bisa kita diamkan. Dengan fokus memukul batiknya ini,” jelas Titing.

Pengajar workshop berasal dari Koperasi Kupu Sutra. Pesertanya sebanyak 20 orang.

Mereka dari Forum Komunikasi Disabilitas. Para penyandang tersebar di 5 kecamatan Kota Malang.

Tempat penjualan produk hasil workshop akan berkolaborasi dengan Dinsos. Ada ruangan kosong di kantor Dinsos Kota Malang.

“Kita menginginkan ada show room. Ketika ada kunjungan kerja atau wisata, kita pajang produknya,” jelasnya.

Koperasi Kupu Sutra berkomitmen membantu pemasaran produk tersebut.

“Nantinya akan diekspor. Karena pasarnya sudah ada di luar negeri. Di Amerika Serikat, Australia, dan Jepang,” ucap Titing.

Dia mengharap pelatihan ini berkelanjutan. Sebab, bisa menumbuhkan ekonomi. Juga, membantu dan memberdayakan kaum disabilitas.

Targetnya adalah menjadikan penyandang disabilitas, pengusaha muda.

“Kesempatan kerja penyandang disabilitas di pemerintahan terbatas. Kita mengajarkan dan mendorong mereka. Mereka bisa seperti non disabilitas yang lain,” tegasnya.(fat/yds)

Advertisement

Terpopuler