Connect with us

Peristiwa

Update Saham BBCA Hari Ini: Investor Pantau Jadwal Dividen Rp281 per Saham Usai RUPS 2026

Published

on

Update Saham BBCA Hari Ini: Investor Pantau Jadwal Dividen Rp281 per Saham Usai RUPS 2026
Pergerakan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi pusat perhatian pasar modal Indonesia pada pertengahan Maret 2026 (istimewa)

KABARMALANG.COM – Pergerakan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi pusat perhatian pasar modal Indonesia pada pertengahan Maret 2026 seiring dengan disetujuinya pembagian dividen tunai tahun buku 2025.

Berdasarkan hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di Jakarta pada 12 Maret lalu, emiten perbankan big caps ini resmi menetapkan dividen final sebesar Rp281 per lembar saham atau total mencapai Rp41,3 triliun.

Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk apresiasi kepada pemegang saham di tengah dinamika pasar global, di mana harga saham BBCA kini bergerak stabil di level Rp6.775 per lembar dengan dukungan aksi buyback perusahaan senilai Rp5 triliun untuk menjaga volatilitas harga.

Ringkasan Performa Saham BBCA (Update 2026)

​Berikut adalah data teknis saham BBCA berdasarkan pembaruan pasar terkini:

​Harga Terakhir: Rp6.775 (Naik +0,37%).

Rentang Harga Harian: Rp6.750 – Rp6.825.

​Kapitalisasi Pasar: Rp823,79 Triliun.

​P/E Ratio (TTM): 14,51x.

Jadwal dan Rincian Dividen BCA 2026

​Investor perlu mencatat tanggal-tanggal penting berikut agar tidak kehilangan hak atas dividen:

​Nilai Dividen Final: Rp281 per saham.

​Dividend Payout Ratio: Sekitar 72% dari total laba bersih 2025.

​Rencana Pembayaran: Dijadwalkan cair pada 8 April 2026.

​Aksi Korporasi Pendukung: Persetujuan buyback saham hingga Rp5 triliun untuk stabilisasi harga di pasar sekunder.

Sentimen Pasar dan Rekomendasi Analis

​Meskipun sempat mengalami tekanan akibat aksi jual bersih (net foreign sell) oleh investor asing, prospek jangka panjang BBCA dinilai tetap solid.

Sejumlah sekuritas ternama tetap mempertahankan rekomendasi “Beli” (BUY) dengan target harga yang optimis.

Sentimen Positif: Pembagian dividen yang besar dan fundamental perbankan yang kuat.

​Sentimen Negatif: Volatilitas nilai tukar rupiah dan tekanan pasar global yang memicu aksi ambil untung (profit taking).

 

Advertisement

Terpopuler