Connect with us

Pemerintahan

Harmoni di Jantung Kota: Saat Gereja-Gereja Malang Menjadi Rumah Bagi 100 Ribu Nahdliyin

Published

on

Harmoni di Jantung Kota: Saat Gereja-Gereja Malang Menjadi Rumah Bagi 100 Ribu Nahdliyin
Harlah 1 abad NU gereja-gereja di sepanjang kawasan Ijen dan Bromo bertransformasi menjadi ruang teduh bagi para jemaah (istimewa)

KABARMALANG.COM – Stadion Gajayana menjadi saksi bisu sejarah besar. Namun, keindahan Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU) pada 7–8 Februari 2026 lalu tidak hanya terpancar dari dalam stadion, melainkan dari jalanan di sekitarnya.

Dalam Harlah 1 abad NU gereja-gereja di sepanjang kawasan Ijen dan Bromo bertransformasi menjadi ruang teduh bagi para jemaah dalam sebuah simfoni toleransi yang luar biasa.

Dukungan Totalitas dari Lintas Iman

​Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif komunitas Kristiani.

Sebanyak 7 hingga 8 gereja di sekitar area stadion secara sukarela menyediakan fasilitas vital:

​Tempat Transit: Area gereja dibuka sebagai tempat istirahat dan perlindungan dari cuaca.

​Fasilitas Sanitasi: Akses toilet dan tempat wudu disediakan bagi jemaah yang hendak menjalankan salat.

Logistik: Ribuan paket makanan ringan, air mineral, dan roti dibagikan secara gratis kepada para Nahdliyin yang datang dari berbagai pelosok Jawa Timur.

Pengorbanan Ibadah Demi Kebersamaan

​Salah satu bentuk toleransi paling menyentuh adalah penyesuaian jadwal ibadah gereja:

​Gereja Katedral Ijen: Romo R.D. Petrus Prihatin memutuskan untuk meniadakan sejumlah Misa Kudus (Sabtu sore dan Minggu pagi) agar lokasi gereja steril untuk tempat transit jemaah.

​Gereja HKBP Malang: Pdt. Melva Sitompul memangkas lima jadwal kebaktian menjadi hanya dua kali di Minggu sore guna menghormati keramaian acara 100 Tahun NU.

​“Ini adalah model toleransi antarumat beragama yang nyata. Semua saling mendukung, menghargai, dan mengapresiasi,” ujar Wali Kota Wahyu Hidayat.

Suara dari Para Pemimpin Gereja

​Bagi Romo Petrus, langkah ini adalah wujud penghormatan kepada saudara Muslim.

Senada dengan itu, Pdt. Melva Sitompul menegaskan bahwa jemaatnya menyambut baik keputusan ini sebagai bagian dari nilai penting bermasyarakat.

Kesadaran bahwa “kita adalah satu keluarga” di Kota Malang menjadi fondasi suksesnya acara berskala nasional ini.

Advertisement

Terpopuler