Connect with us

Edukasi

5 Mahasiswa ITN Malang Juara 1 War Architecture, Malang Architecture Week 2024

Diterbitkan

,

IMG 20240909 141324
Lima mahasiswa arsitektur S-1 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) meraih Juara 1 War Architecture, Malang Architecture Week (MAW) 2024. (foto istimewa)

 

KABARMALANG.COM – Lima mahasiswa arsitektur S-1 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) meraih Juara 1 War Architecture, Malang Architecture Week (MAW) 2024.

Malang Architecture Week (MAW) tersebut di selenggarakan oleh Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) Malang mulai Rabu-Sabtu (28-31/08/2024).

Tiap tim berjumlah lima orang. Tim arsitektur ITN Malang terdiri dari lima mahasiswa yakni Yusdihadi Rahawarin, Bara Andana Subagyo

Kemudian Muhammad Alif Romdhoni, Daniel Galih Saputra, dan Muhammad Hanif Farhan.

War Architecture MAW IAI Malang mempertemukan tim mahasiswa arsitektur terbaik dari beberapa kampus ternama se-Malang Raya.

War Architecture ini menjadi kompetisi pertama yang di gagas oleh IAI Malang.

Yusdihadi Rahawarin menjelaskan, dalam War Architecture mereka beradu ketangkasan untuk menyelesaikan 4 tantangan.

Setiap tantangan jumlah pesertanya berbeda-beda, ada yang tiga mahasiswa dan lima mahasiswa.

“Tiap tahapan lomba beda-beda jumlah pesertanya, ada yang tiga dan lima. Dari 4 lomba tersebut nilainya di satukan,” ujarnya.

“Akhirnya kami bisa mengumpulkan 90 poin, di bawah kita ada 80 poin,” sambung Yusdi saat di temui bersama timnya di kampus 1 ITN Malang beberapa waktu lalu.

Dia juga menjelaskan ada empat tantangan yang harus dijalani. Yaitu memory madness, tebak warna, sketsa estafet, dan permainan puzzle.

Pada tantangan pertama memory madness mengandalkan daya ingat dan hafalan tingkat tinggi.

Satu tim terdiri dari tiga orang di minta menghafal 10 kartu selama dua menit dengan materi gambar, tulisan, dan tahun.

Pada tahap ini, Yusdi membuat strategi. Ia membagi tiap orang menghafal tiga kartu, sedangkan satu kartu tidak perlu di hafal.

“Karena jumlahnya 10 kartu maka kami bagi tiga. Saya meminta per orang hanya menghafal tiga kartu,” ucapnya.

“Dan satu kartu tidak perlu di hafal. Dengan begitu lebih mudah di hafal dan adil,” jelas Yusdi.

Dengan metode ini mereka mampu meraih nilai 20 poin, sementara yang tertinggi 30 poin.

Pada tahap ini mereka sempat mengalami keterlambatan dalam menekan bel, meskipun mereka mengaku fahal.

Pasalnya selain berhasil menghafal kecepatan menekan bel juga menjadi kunci keberhasilan.

Tantangan kedua adalah menebak warna. Pada tantangan ini juga terdiri dari tiga orang, dan berhasil memperoleh nilai paling tinggi.

Menurut Yusdi ada peran serta dosen dalam mengasah skill mereka saat perkuliahan.

“Bersyukur saat kuliah semester 1-3 kami belajar tentang sketsa dan warna dengan mendalam. Saya akui kualitas dosen ITN memang bagus,” katanya.

“Ini kami rasakan saat lomba, jadinya kami mendapat nilai paling tinggi,” aku Yusdi.

Untuk tantangan ketiga sketsa estafet yang di ikuti lima orang dalam satu tim.

Pada sketsa estafet empat orang bagian melihat gambar dan membuat ulang sketsa gambarnya, dan satu orang bagian menebak nama bangunan hasil sketsa empat temannya.

Peserta di beri waktu 5 detik untuk melihat gambar dan satu menit membuat sketsa.

Ada empat gambar yang harus di tebak, yakni Ibu Kota Nusantara (IKN), Taj Mahal India, Arc de Triomphe Paris Perancis, dan Marina Bay Singapura.

Peserta dalam satu tim bergantian membuat sketsa dari gambar yang berbeda-beda.

Mereka harus bisa membuat sketsa semirip mungkin agar bisa di tebak dengan benar.

Tim Arsitektur ITN Malang bersyukur sketsa bangunan klasik sudah mereka dapat di semester 1-3.

“Alhamdulillah, dari hasil semua sketsa ITN Malang yang paling bagus, dan tepat menebaknya,” katanya.

“Dari empat gambar yang berhasil di sketsa teman kami Hanif (mahasiswa baru) berhasil menebak tiga gambar,” lanjut Yusdi.

Kompetisi terakhir adalah permainan puzzle.

Tim terdiri dari tiga orang di beri pertanyaan, dan kalau berhasil menjawab di beri kepingan-kepingan puzzle untuk di susun.

Tema bangunan puzzle untuk semua tim sama, yakni neoklasik.

“Kami bergantian berlomba dalam masing-masing tantangan. Pada dasarnya kami menguasai semua materi yang di lombakan,” ungkapnya.

“Hanya saja cara lombanya memang berbeda. Lebih seru pastinya,” tuntas Yusdi.

Direkrutnya Muhammad Hanif Farhan Mahasiswa baru angkatan 2024 bukan tanpa alasan.

Hanif di nilai memahami dasar-dasar Arsitektur. Ia merupakan alumnus SMK jurusan Desain Permodelan dan Informasi Bangunan (DPIB).

Sebelum masuk Arsitektur ITN Malang Hanif sebenarnya pernah satu grup WhatsApp dengan Bara Andana Subagyo pada sebuah sayembara arsitektur.

Hanif juga pernah mengikuti Nata Karya 3.0 2024 Arsitektur ITN Malang. Selama 2 hari Nata Karya ia mengikuti workshop, dan melihat pameran.

“Dari situlah akhirnya terhubung dengan mas-mas yang sekarang menjadi tim di War Architecture,” ujarnya.

“Alhamdulillah saya bersyukur baru masuk ITN Malang bisa ikut berkontribusi memberikan prestasi,” kata mahasiswa asal Tulungagung ini. (tik/fir)

 

Advertisement

Terpopuler