Edukasi
ITN Malang Pelopori Pembangunan PLTS 500 KWP Di Kampus 2

KABARMALANG.COM – ITN Malang mempelopori pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Jumat siang (5/3), ground breaking PLTS terhelat di kampus 2 ITN.
Rektor ITN Malang, Prof Dr Eng Ir Abraham Lomi MSEE membenarkan. PLTS ini merupakan yang pertama di pulau Jawa.
Tetapi, di seluruh Indonesia, ITN menjadi yang kedua. Karena, PLTS pertama sudah terbangun di Institut Teknologi Sumatera. Kekuatan energinya sekitar 500 KWP.
PLTS ini nantinya tak hanya bermanfaat untuk ITN saja. Namun, ITN akan mengekspor energi sisanya untuk PLN.
Sehingga masyarakat bisa merasakan manfaatnya. ITN bekerjasama dengan BUMN untuk pembangunan PLTS ini.
“Yakni PT Wijaya Karya dan juga PT Sun Energi. Kita punya lahan yang luas. Sehingga kemudian jadilah ini. Untuk proses pembangunan sekitar 4 bulanan,” jelasnya di kampus 2 ITN, Karanglo, Singosari.
Dia akan membangun sebuah kampus yang terintegrasi. Tentu energi yang ada tak mencukupi. Sehingga, tak menutup kemungkinan ITN akan menambah 500 KWP.
“Tetapi kembali lagi, PLTS bukan hanya untuk kebutuhan kampus. Bisa juga untuk riset mahasiswa dan dosen serta kampus lain,” ujarnya.
“Kami nantinya juga akan memberikan pelatihan manajemen energi. Terutama kepada daerah-daerah yang memiliki pembangkit seperti ini,” beber sabuk hitam Shorinji Kempo itu.
Direktur Operasi II PT Wijaya Karya ( Tbk) Harum Ahmad Zuhdi sepakat. PT ini adalah leader dalam renewable energi.
Bangsa Indonesia juga memiliki potensi energi terbarukan yang besar. Indonesia harusnya tidak hanya raja energi surya lewat PLTS. Tetapi juga geotermal dan lainnya.
“Saya tentu akan meng-campaign itu. Masak Indonesia nggak bisa menguasai itu. Padahal Indonesia ada semua. Tugas saya memprovokasi provider untuk membangun di Indonesia,” ungkapnya.
PLTS seperti di ITN akan memajukan bangsa. Berbagai macam pembangunan semakin mudah dengan melimpahnya energi.
Kabar Lainnya : Sutiaji Resmikan Listrik Surya Atap di SMPN 3 Malang.
Sementara, perwakilan PT Sun Energy, Reynaldi Wijaya menambahkan. PTLS akan terbangun secara on grid.
Sistem On-Grid merupakan sistem fotovoltaik. Yang hanya menghasilkan daya ketika jaringan utilitas PLN tersedia.
Sistem ini harus terhubung ke grid agar berfungsi. Kelebihan daya akan kembali ke sistem jaringan.
Misalnya, sel surya PLTS memproduksi daya berlebih. Sehingga ada surplus untuk penggunaan nanti.
Sistem On-Grid merupakan sistem paling sederhana. Sistem ini juga paling hemat biaya untuk menginstal energi panel surya. Tetapi sistem ini tidak memberikan daya cadangan selama pemadaman.
“Kapasitasnya tentu bisa expand lagi. Tergantung kemampuan kampus,” jelasnya.
Investasi PLTS ini sekitar Rp 7 miliar. PT Sun Energi juga akan mengeluarkan investasi penuh.
Sehingga kampus sama sekali tidak mengeluarkan dana. Tetapi kampus bertanggung jawab terhadap biaya operasional PLTS.
“Nanti kelebihan dayanya, kita akan ekspor ke PLN. Kita jalin kerjasama,” pungkasnya.(carep-04/yds)
Peristiwa3 minggu agoFenomena Viral “Cacing” Persija Usai Kalah dari Persib: Sejarah Spanduk di Samarinda dan Dampak Klasemen
Olahraga3 minggu agoHasil Bali United vs Borneo FC 2-3: Pesut Etam Menang Dramatis, Persaingan Juara dengan Persib Kian Memanas!
Peristiwa3 minggu agoRupiah Melemah Tembus Rp17.516 per Dolar AS Hari Ini 12 Mei 2026, Rekor Tertinggi Akibat Inflasi Global
Peristiwa3 minggu agoIHSG Turun ke Level 6.905 pada 11 Mei 2026: Tertekan Sentimen MSCI dan Pelemahan Rupiah ke Rp17.500
Serba Serbi3 minggu agoHarga Perak Antam Hari Ini 11 Mei 2026 Turun Jadi Rp51.450 per Gram, Simak Rincian Harga Global dan Lokal
Serba Serbi3 minggu agoHarga Emas Antam Melonjak ke Rp2.859.000 per Gram Hari Ini 12 Mei 2026, Cek Rincian Buyback di Pegadaian
Serba Serbi3 minggu agoHarga Perak Antam Hari Ini 13 Mei 2026 Melonjak Lagi ke Rp56.200 per Gram, Tren Bullish Berlanjut
Peristiwa3 minggu agoPolemik LCC Empat Pilar MPR RI 2026: Insiden Penilaian Viral di Kalbar Berujung Permohonan Maaf dan Penonaktifan Juri





































