Connect with us

Edukasi

Siap Sekolah Tatap Muka, Tak Siap Sarana Prokes

Diterbitkan

||

Sekretaris Daerah, Wahyu Hidayat. (Foto: Imron Haqiqi).

 

KABARMALANG.COM Pemkab Malang mewacanakan proses belajar mengajar tatap muka. Tapi, wacana tatap muka itu tergantung kesiapan sekolah.

Sekretaris Daerah Kabupaten Malang, Wahyu Hidayat membenarkan. Sebelumnya, dia mengatakan pembelajaran tatap muka tergantung sekolah.

“Siap protokol kesehatan salah satu syarat KBM tatap muka,” terang Sekda sebelumnya.

Kadindik Kabupaten Malang, Rahmat Hardijono bergerak cepat. Surat tawaran untuk KBM tatap muka disebar.

Seluruh SD SMP negeri dan swasta se-Kabupaten Malang ditawari.

“Atas instruksi dari Sekda, sudah kami sebar surat. Hasilnya kebanyakan memang tidak siap. Hanya beberapa yang siap,” terangnya, Jumat (13/11).

Sekolah yang tidak siap terganjal anggaran protokol kesehatan (prokes). Sejumlah sekolah tidak mempunyai anggaran pengadaan sarana prasarana prokes.

“Masih banyak yang mengeluh tidak siap. Misalnya, menyediakan thermo gun ataupun masker ke siswa,” katanya.

Mewakili suara ini, Rahmad mendorong pencarian BOS. Yaitu, Biaya Operasional Sekolah Daerah Kabupaten Malang (Boskab).

Boskab tersebut akan digunakan untuk membeli sarana dan prasarana.

“Ya harapannya Boskab cair. Boskab cair, insyallah sekolah siap buka dengan protokol kesehatan. Kan ini Kabupaten Malang juga zona kuning,” tutup Rahmat.(im/yds)

Klik untuk mengirimkan komentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Edukasi

Server Ujian Down, Mahasiswa UT Sambat

Diterbitkan

||

Server Ujian Down, Mahasiswa UT Sambat

 

KABARMALANG.COM – Server Ujian Akhir Semester Universitas Terbuka down. Harusnya, mahasiswa masuk ke the.ut.ac.id untuk mengunduh soal.

Mahasiswa kesulitan mengakses sejak server dibuka jam 00.00. Padahal, Sabtu (5/12) ini adalah Take Home Exam perdana.

Para mahasiswa, mengeluh di Instagram dan Twitter resmi UT. Contohnya, @ian_sky yang mengeluhkan kesulitan login.

“Log-in aja ga bisa min. GImana bisa upload,” kicau akun tersebut. Senada, @susmitaikawati juga sambat soal server down.

“Pagi2 uda badmood. Buka webnya aja uda putus aja, muter2 doank, padahal speedtest aman. webnya down,” tandas mahasiswa UT itu.

Take Home Exam (THE) perdana memakai sistem unggah jawaban. Mahasiswa mengunduh soal di server ujian the.ut.ac.id.

Di dalam situs itu, juga ada lembar pernyataan akademik. Mahasiswa UT harus mengunggah jawaban UAS 6 jam setelah mengunduh.

Jika tidak diunggah 6 jam setelah download, nilainya kosong. Setelah down, UT mengumumkan bahwa jam upload diperpanjang.

“Selamat pagi mahasiswa UT. Sehubungan dengan adanya kendala teknis pada Aplikasi Take Home Exam (THE) pada laman the.ut.ac.id, terdapat perpanjangan waktu THE Ujian I.1,” kicau akun @UnivTerbuka.

Meski demikian, sampai sekarang, website tersebut belum bisa diakses. Twitter UT akhirnya penuh keluhan mahasiswa.

@ariya_savik menyebut sampai sekarang THE UT tidak terakses. “Saya buka aja masih belum bisa min. Kalau sampe 24 jam gabisa gimana min? saya tunggu dari jam 2 pagi sampe skrg belum bisa2,” kicaunya.

Sampai sekarang, mahasiswa UT se-Indonesia belum bisa mengakses UAS-nya. Belum ada keterangan resmi dari pejabat Universitas Terbuka.(carep-04)

Lanjutkan Membaca

Edukasi

Mahasiswa UMM Ciptakan Alat Pemanen Siwalan

Diterbitkan

||

Ilham Dani, mahasiswa Teknik Mesin UMM dan inovasi Siwalan Tool Harvester. (Foto : Istimewa)

 

KABARMALANG.COM – Petani tradisional buah siwalan masih memanen dengan cara manual. Mahasiswa Teknik Mesin UMM, Ilham Dani terinspirasi membantu mereka.

Sebuah alat diciptakan untuk memudahkan petani siwalan saat memanen.

“Apalagi saat musim hujan seperti ini. Pohon siwalan menjadi basah dan licin sehingga sukar dipanjat,” terangnya, Jumat (4/12).

Mahasiswa asal Sumut ini akhirnya tergerak. Diciptakanlah alat bernama Siwalan Tool Harvester.

Alat ini bisa memanen buah siwalan tanpa memanjat pohonnya. Siwalan Tool Harvester juga diklaim lebih efisien.

Inovasi itu juga ramah lingkungan karena tanpa mesin. Sehingga, petani tidak khawatir dengan BBM.

Cara kerja alat ini cukup sederhana. Alat ini mengubah energi potensial pegas menjadi energi mekanik. Energi inilah yang akan memanen buah.

Siwalan Tool Harvester juga dilengkapi pisau dan jaring. Sehingga petani tidak perlu repot dan khawatir buah jatuh.

Pisau berguna untuk memotong buah siwalan. Sementara frame jaring menampung buah yang sudah terpotong.

Alat tersebut juga memiliki kunci pengikat. Sehingga, keselamatan petani dan efisiensi proses panen tetap terjaga.

Tapi, Ilham tidak menampik alatnya perlu dikembangkan dan diperbaiki. Misalnya, pemilihan bahan material.

Beberapa bagian harvester masih susah ditemukan. Diameter pohon juga mempengaruhi fungsi Siwalan Tool Harvester.

“Alat ini sebenarnya sudah pernah dibuat. Tapi jumlahnya terbatas karena kesulitan spare part,” jelasnya.

Inovasi Ilham tersebut sudah mencatatkan prestasi. Yakni, lima besar karya terbaik Kompetisi Mahasiswa Muhammadiyah Nasional.

Ilham berharap alatnya bisa menjadi terobosan baru dunia pertanian. Dia juga berharap inovasinya menurunkan risiko kecelakaan petani siwalan.

“Saya berharap risiko kecelakaan petani siwalan menurun. Sekaligus, meningkatkan produktivitas mereka dengan Siwalan Tool Harvester,” pungkas mahasiswa angkatan 2016 tersebut.(carep-04/yds)

Lanjutkan Membaca

Edukasi

UMM Juara Kontes Mobil Hemat Energi

Diterbitkan

||

Tim Mekatronik dan tim Srikandi UMM juara 3 kontes mobil hemat energi. (Foto : Istimewa)

 

KABARMALANG.COM UMM menjuarai Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) 2020. Dua timnya meraih juara 3 di dua kategori.

Tim Mekatronik juara 3 urban concept (city car) listrik. Tim Srikandi juara 3 urban concept city car gasoline.

Ajang ini digelar 8 Oktober sampai 30 November 2020. Penyelenggaranya adalah Kemendikbud. Sementara, venue kompetisi digelar di Univesitas Indonesia (UI),

Tim Srikandi sudah merancang desain mobil tiga bulan lalu. Hal itu dilakukan agar desain dan hasilnya maksimal.

Meski begitu, masih ada beberapa kendala yang muncul. Baik dari segi praktik maupun teori.

“Kami sempat kesulitan merancang desain ideal untuk kompetisi ini. Apalagi, kami hanya membayangkan tanpa menyentuh dan menyusun prototipe,” ujar Annisa Widya Nurmalitasari, anggota tim Srikandi UMM, Jumat (3/12).

Tahun ini, UMM hanya bisa mendelegasikan dua tim KMHE. Padahal, sebelumnya UMM bisa mengirimkan empat tim sekaligus.

Panitia kompetisi menetapkan peraturan baru pembatasan delegasi tiap universitas. Tiap perguruan tinggi mengirimkan maksimal dua tim.

Teknis pelaksanaan perlombaan KMHE juga berubah. Mengingat pandemi masih belum mereda.

Tahun ini, peserta hanya sampai pada tahap rancangan desain. Prototipe mobil tidak dibuat.

Meski demikian, batasan tidak mencegah kedua tim UMM berprestasi.

“Format KMHE banyak berubah karena pandemi. Pendaftaran, perlombaan, hingga pengumuman pemenang dilakukan secara daring,” kata Pembina Lembaga Semi Otonom (LSO) Mekatronik, Drs Mohammad Jufri ST MT.

Di samping itu, tahapan lomba juga berubah. Tahun ini hanya sampai tahap rancangan desain mobil.

“Tahun lalu ada pengujian prototipe di sirkuit,” pungkas salah satu dosen UMM tersebut.(carep-04/yds)

Lanjutkan Membaca

Terpopuler

WeCreativez WhatsApp Support
Marketing Kabarmalang.Com