Connect with us

Hukrim

Dugaan Penipuan Ratusan Juta, Nama ER Dicomot

Diterbitkan

||

Choiriyah saat menunjukkan bukti transfernya kepada seseorang yang mengaku orang Edi Rumpoko. (Foto : Istimewa)

 

KABARMALANG.COM – Choiriyah, 50, warga Desa Tambakasri Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang geram. Dia merasa tertipu oleh Adi Satrio Widodo atau Edi Tamboen.

Adi adalah oknum anggota komunitas radio penduduk. Uang ratusan juta milik Choiriyah raib.

Uang itu diminta oleh Adi. Dia mengaku sebagai orang dari Edi Rumpoko. Yakni, mantan Wali Kota Batu.

“Totalnya sekitar Rp. 140 juta. Dua kali transfer dan satu kali cash. Yang tunai diserahkan di Gedung DPRD Kota Batu,” ungkap Choiriyah kepada awak media.

Wanita ini juga mengaku mengenal Adi melalui RL. Yaitu, salah satu kontraktor di Kabupaten Malang.

Ira, sapaannya, mengaku sempat percaya omongan Adi Tamboen. Bahwa, Adi cukup dekat dengan ER.

Karena Ira pernah diajak mengukur proyek Pasar Wisata Sidomulyo. Ini diklaim sebagai ganti uang yang telah dipinjam.

Bukti setoran tunai Ira kepada seseorang yang mengaku orang ER.

Namun hingga pasar berdiri, Ira belum mendapatkan ganti uangnya. Ketika menagih, Ira selalu disemayani.

Kini, Ira pun yakin, Adi hanya mengklaim nama ER. Serta, sekadar mencatut nama ER untuk memuluskan akalnya.

“Nomor WhatsApp saya bahkan sampai diblokir. Besok akan saya laporkan pada kepolisian. Karena saya merasa tertipu,” imbuhnya.

Terpisah, Adi Tamboen membenarkan dia memiliki utang kepada Ira. Namun dia mengaku tengah berduka. Sehingga komunikasinya terputus.

Versinya, Ira sebenarnya mengetahui uang itu untuk apa. Karena Adi Tamboen mengklaim mengajak satu ASN Pemkot Batu. ASN itu diklaim diajak untuk transaksi utang dengan Ira.

Meski demikian, Adi membantah pernah mencatut nama ER. “Kalau mencatut nama ER itu tidak pernah,” katanya berkilah.

“Tapi banyak yang tahu saya sering ke rumah dinas,” klaimnya.

 

Kuasa Hukum ER Angkat Bicara

Sementara itu, Helly, kuasa hukum ER meresponi kasus ini. Dia langsung mengkonfirmasi kliennya ER.

Helly akan mengambil langkah hukum dan melapor ke polisi. Sebab, Helly memastikan ER tidak ada hubungan dengan Adi Tamboen.

Diduga, Adi memakai nama ER untuk mencari keuntungan pribadi. Dengan cara, membawa-bawa nama keluarga ER. Termasuk, membawa nama Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko.

“Pak ER langsung meradang saat saya konfirmasi. Tidak ada hubungan apapun dengan Adi Tamboen,” tegas Helly dikonfirmasi wartawan.

“Klien saya tak pernah menjanjikan pekerjaan maupun proyek kepada siapapun. Baik saat menjabat dan sesudah tidak menjabat,” tandasnya.

“Kami masih dalami tindak tanduknya. Ini pembelajaran dan peringatan keras. Siapapun bawa nama Pak ER dan Bu Dewanti, kami tindak tegas,” tutupnya.(arl/yds)

 

Klik untuk mengirimkan komentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Minta Barang Rampasan, GMBI Datangi Kejari Kabupaten Malang

Diterbitkan

||

GMBI ketika ditemui Kejari Kabupaten Malang
Anggota GMBI saat ditemui pihak Kejari Kabupaten Malang

KABARMALANG.COM – Kejaksaan Negeri Kabupaten Malang, Senin (25/11/2020), didatangi sejumlah orang dari LSM GMBI (Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia).

Mereka meminta paksa barang bukti sitaan negara berupa truk, untuk dibawa pulang.

Padahal, barang sitaan itu sebelumnya disita negara sebab dijadikan sarana ilegal logging.

Alhasil, Hakim pun memutuskan bahwa truck tersebut dijadikan barang bukti yang masuk sebagai barang rampasan negara.

Kehadiran GMBI langsung ditemui oleh pihak Kejari Kabupaten Malang, Rabu (25/11/2020), siang, untuk melakukan dialog dengan mereka.

Hanya saja, situasi berubah menjadi sedikit memanas saat GMBI tak bisa menerima penjelasan pihak Kejari Kabupaten Malang. Mereka tetap bersikukuh agar keinginannya bisa terwujud.

Kejari Kabupaten Malang saat menemui anggota GMBI meminta barang rampasan

Kejari Kabupaten Malang saat menemui anggota GMBI meminta barang rampasan

Namun, ketegangan segera mereda, setelah aparat kepolisian yang sebelumnya berada di lokasi segera mengambil tindakan, menggiring anggota GMBI keluar dari kantor Kejari Kabupaten Malang.

Ketua LSM GMBI Distrik Sidoarjo, Nunuk Rusianita yang juga hadir mengklaim bahwa truk tersebut saat itu statusnya dipinjamkan, dan pemiliknya tidak mengetahui atau terlibat dalam perkara yang sudah diputuskan.

“Truk itu dipinjam, pemiliknya tidak terkait. Makanya, kami mau meminta dan membawa barang bukti itu. Kalau memang mau dilelang, silakan jaksa yang harus membayar,” katanya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejari Kabupaten Malang, Sobrani Binzar menjelaskan bahwa tuntutan GMBI itu (truk) sudah memiliki keputusan hukum tetap atau inkracht.

Berdasarkan petikan keputusan Pengadilan Negeri Kepanjen Nomor 167/Pid.B/2020/PN.Kpn menyatakan, bahwa barang bukti merupakan rampasan negara.

“Jadi kedatangan mereka (GMBI) datang untuk meminta dan membawa pulang kendaraan (truk) yang telah menjadi rampasan negara,” ujar Sobrani Binzar saat dikonfirmasi di kantor Kejari Kabupaten, Rabu (25/11/2020).

Aparat kepolisian mengamankan kehadiran GMBI ke Kejari Kabupaten Malang

Aparat kepolisian mengamankan kehadiran GMBI ke Kejari Kabupaten Malang

“Jadi, perkara itu sudah memiliki kekuatan hukum tetap (inkracht) bahwa barang bukti menjadi barang rampasan negara,” sambungnya.

Sobrani mengatakan bahwa keputusan final pengadilan itu mengacu pada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.

“Keputusan final pengadilan, mengacu Undang-Undang baru Nomor 18 Tahun 2013. Jika alat angkut transportasi baik darat, laut, udara digunakan dalam kejahatan, akan dirampas negara,” tuturnya.

Menurut Sobrani, pihaknya sudah beberapa kali menerima kehadiran GMBI tersebut dengan tuntutan yang sama, yakni untuk mengambil barang rampasan.

“Dalam setiap pertemuan itu, kami sudah jelaskan, dalam hal ini kami bertugas menganut pada ketentuan perundangan-undangan yang berlaku,” tuturnya.

Sobrani mengaku, pihaknya saat ini tengah menunggu proses apresial oleh Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) untuk menghitung nilai barang rampasan.

“Kita sudah meminta dan menunggu hasil apresial KPKL terhadap barang rampasan itu. Dan nantinya proses lelang juga KPKNL, karena barang rampasan nilainya diatas Rp 35 juta, proses lelang dilakukan oleh KPKNL,” tutupnya. (im/rjs)

Lanjutkan Membaca

Hukrim

Budak Sabu Dibekuk Polsek Lawang

Diterbitkan

||

Tersangka Abdian Febrianto dengan barang bukti satu klip sabu. (Foto : Istimewa)

KABARMALANG.COM – Polsek Lawang membongkar jaringan narkotika. Satu budak sabu pun menyerah.

Dialah Abdian Febrianto, 30, warga Jalan Argopuro, Kelurahan Lawang. Kesehariannya, dia berdomisili di Desa Turirejo Lawang.

Dia dibekuk setelah kedapatan membawa sabu, Senin (23/11) siang.

“Kami menerima keluhan dari masyarakat. Bahwa, ada aktivitas peredaran narkotika di wilayah kelurahan Lawang,” ujar Kanit Reskrim Polsek Lawang, Iptu Hari Eko Utomo, SAP MH, kepada Kabarmalang.com, Selasa pagi (24/11).

Dari laporan inilah, Polsek Lawang penyelidikan. Pengintaian dilakukan di Jalan Untung Suropati.

Di situ, ada sosok Abdian. Dia tampak menunggu seseorang.

Polisi pun ikut menunggu. Tapi, tak ada orang datang lagi mendekati Abdian.

Sehingga, saat Abdian hendak pergi, polisi menggerebeknya.

Pelaku terkaget. Polisi bergegas mengamankan Abdian.

Penggeledahan juga dilakukan. Benar saja, polisi menemukan plastik mencurigakan.

Isinya serbuk kristal putih. Abdian akhirnya mengakui itu sabu-sabu.

Kontan, tersangka langsung digelandang ke Polsek Lawang. Di situ, dia menjalani pemeriksaan.

Polisi masih mendalami keterangannya. Karena, disinyalir ada penyuplai sabu kepada Abdian.

“Masih kami dalami dan kembangkan dengan penyidikan,” papar mantan KBO Satreskrim Polres Malang itu.

Tersangka dijerat UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ancaman hukumannya minimal 4 tahun.(carep-04/yds)

 

Lanjutkan Membaca

Hukrim

Kuli Bangunan Nyambi Pengedar Pil Koplo

Diterbitkan

||

Polresta Makota bersama tersangka DF, pengedar 46.168 butir pil double L (Foto : Fathi)

KABARMALANG.COM Polres Malang Kota berhasil meringkus DF, 27. Dia warga Kedungkandang. Kesehariannya adalah kuli bangunan. Namun, pekerjaan sampingannya adalah mengedarkan pil dobel L.

Dia tertangkap dengan barang bukti 46.168 butir koplo.

“Kasus ini berawal dari keresahan masyarakat. Di Jalan Ranugrati sering terjadi transaksi narkotika,” terang Kapolresta Malang Kota, Kombespol Leonardus Simarmata, di Polres Makota, Senin siang (23/11).

Penyelidikan pun dilakukan awal bulan (2/11). Sekira pukul 16.20 WIB, polisi berhasil mengamankan tersangka DF.

“Benar saja, pada hari tersebut, tersangka DF tertangkap tangan. Dia akan bertransaksi. Dia membawa 5 botol dobel L. Totalnya 5000 butir,” jelas Leo.

Polisi kemudian menggeledah rumah tersangka DF di Kedungkandang. Yakni di Jalan KH Abdur Qadir Jaelani.

“Kami menemukan barang bukti 41 botol. Isinya 41 ribu butir double L. Plus satu botol berisi 168 butir. Jadi totalnya 46.168 butir,” beber Leo.

DF adalah residivis dalam kasus yang sama. Sebelumnya ia ditangkap pada tahun 2017

Kepada polisi dan wartawan, DF mengaku belum kapok. Setelah keluar penjara dia masih jadi pengedar pil double L.

Karena dia mencari sampingan tambahan selain menjadi kuli bangunan.

“Saya baru jual 4 botol ke teman-teman saya. Harga per botolnya Rp 600 ribu. Keuntungan per botol saya dapat Rp 50 ribu,” ujar DF.

DF dikenakan Pasal 198 UU Nomor 36 tahun 2009. Ini pasal tentang tentang kesehatan. Ancaman hukuman penjara 10 tahun.(fat/yds)

Lanjutkan Membaca
Advertisement Iklan Hari Jadi Kabupaten Malang dari Disparbud Kabupaten Malang
Advertisement Iklan Hari Jadi Kabupaten Malang dari Perumda Tirta Kanjuruhan
Advertisement Iklan Sosialisasi Perwali Kota Batu
Advertisement Iklan cukai Pemkot Batu

Terpopuler

WeCreativez WhatsApp Support
Marketing Kabarmalang.Com