Connect with us

Edukasi

Kajian Daring Pecinan Malang, Hadirkan Sejarawan

Published

on

kajian prodi sastra cina FIB UB
Kajian daring Sastra Cina FIB UB bersama M Dwi Cahyono, sejarawan Malang.

KABARMALANG.COM – Kajian sastra Cina tidak selalu harus berangkat ke Cina. Ini dibuktikan oleh Program Studi Sastra Cina FIB UB.

Sabtu (17/10), Prodi Sastra Cina menghadirkan ahli sejarah secara daring. Yakni, Drs M Dwi Cahyono MHum, sejarawan Malang. Kajian daring ini digelar di Google Meets, pukul 09.00.

“Ini bagian dari program kerja Prodi Sastra Cina UB. Penting sekali, mengkaji sastra asing, dengan latar kondisi sekitar,” ujar Kaprodi Sastra Cina FIB UB, Nanang Endrayanto MSc, kepada Kabarmalang.com, Sabtu (17/10).

Dwi Cahyono pun mengulas sejarah kebudayaan Cina di Malang. Misalnya, sejarah kemunculan pecinan di Malang.

Atau, kajian ‘little and big China’ di Malang. “Dalam kajian, dibahaslah sejarah sosio-kultur budaya cina di Malang. Serta, peranakan tionghoa di Malang,” sambung Nanang.

Dwi juga mencantumkan berbagai bukti material. Seperti, lanskap little China yang kini menjadi pecinan.

Dwi menegaskan, mahasiswa bisa menonton ulang kuliah tamu daring. Yakni, lewat channel YouTube-nya, Station Budaya/Saluran Budaya. Judul videonya, cara penulisan artikel ilmiah budaya Cina di Indonesia.

f5af2943 44d0 4f42 af07 23586648d2c7

Lanskap Pecinan Kota Malang dalam paparan M Dwi Cahyono

Nanang berharap, kajian daring ini membuka wawasan mahasiswanya. Sebab, pandangan multikultural sangat penting, untuk mengkaji bahasa asing.

“Harapannya, mahasiswa mengenal kajian kebudayaan peranakan tionghoa Malang. Kebudayaan tionghoa sendiri kan memang sudah merasuk di Indonesia,” tambah Nanang.

Dari situ, mahasiswa diminta menjadi intelektual yang solutif. Yang mampu menyelesaikan persoalan bidang keilmuannya sesuai realitas masyarakat.

“Karena kondisi pandemi, mahasiswa hanya bisa merefleksi kajian ini. Ke depan, kami akan tindaklanjuti secara konkrit,” tandasnya.

Dia merencanakan, kajian begini digelar langsung di lokasi sejarah. Contoh, mahasiswa diajak kajian di klenteng. Atau, datang langsung ke kawasan Pecinan.

Hanya saja, karena pandemi, situasi ini belum memungkinkan. Sehingga, kajian hanya digelar secara daring.

Peserta kuliah daring tamu adalah mahasiswa aktif Sastra Cina. Mereka berasal dari angkatan 2015, 2016 dan 2017.

Setelah kuliah daring ini, mahasiswa diharap memiliki bekal. “Ini adalah program kerja sistematis pertama kami dengan sejarawan,” tutupnya.(carep-04/yds)

Advertisement

Terpopuler