Connect with us

Pemerintahan

Pemkot Malang Mendorong Kelurahan Berinovasi Penurunan Angka Stunting

Published

on

IMG 20240531 000330
Penjabat (Pj.) Wali Kota Malang Wahyu Hidayat dalam kegiatan Rembuk Stunting yang di gelar Dinsos-P3AP2KB di di Ijen Suites & Convention (foto istimewa)

 

KABARMALANG.COM – Pemerintah Kota Malang mendorong kecamatan dan kelurahan untuk melahirkan inovasi guna penurunan angka stunting.

Dukungan tersebut di sampaikan oleh Penjabat (Pj.) Wali Kota Malang Wahyu Hidayat dalam kegiatan Rembuk Stunting yang di gelar Dinsos-P3AP2KB di di Ijen Suites & Convention.

Adanya kolaborasi antara kecamatan dan kelurahan dengan puskesmas setempat serta komunitas dan institusi telah lahir berbagai inovasi dan strategi yakni menurunkan stunting

“Alhamdulillaah kita sudah turun (angka stunting), meskipun angkanya masih di bawah dari target kita.,” kata Wahyu Hidayat.

Hari ini, lanjut Wahyu Hidayat, melalui Rembuk Stunting kita evaluasi mana-mana yang harus kita optimalkan agar target bisa tercapai.

“Sesuai konsep pentahelix itu kita upayakan untuk bergerak bersama. Karena kalau tidak ada sinergi, itu juga akan sulit,” sambungnya.

Sementara Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Erik Setyo Santoso menyampaikan bahwa TPPS Kota Malang memiliki tanggung jawab untuk mengkoordinasikan, menyinergikan, dan mengevaluasi penyelenggaraan penurunan stunting.

Salah satu wadah untuk menyinergikan rencana dan aksi seluruh stakeholder adalah melalui Rembuk Stunting.

Jadi akan di pastikan bagaimana pelaksanaan rencana kegiatan intervensi pencegahan dan penurunan stunting yang dilakukan antara perangkat daerah yang mewenangi dengan sektor lembaga non-pemerintah dan masyarakat.

“Ini upaya memperkuat komitmen supaya terwujud target angka stunting pada Kota Malang minimal 14 persen sesuai dengan target nasional,” ucapnya.

Dia berharap Rembuk Stunting hari ini dapat di manfaatkan secara maksimal  mungkin dan paling penting adalah aksi di lapangan.

“Penanganan langsung terhadap terindentifikasi atau terduga langsung. Sehingga kita bisa pantau bagaimana progresnya dari waktu ke waktu,” pungkas Erik.

Berdasarkan hasil Survey Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, angka prevalensi stunting di Kota Malang turun dari hasil Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 sebesar 18% menjadi 17,3%.

Sementara itu, berdasarkan hasil bulan timbang pada Bulan Februari 2024 yang di laporkan oleh Dinas Kesehatan prevelansi stunting di Kota Malang sebesar 8,38%. (*)

 

Advertisement

Terpopuler