Connect with us

Serba Serbi

Kesaksian Korwil Bantur, Tembakan Gas Air Mata ke Arah Tribun

Diterbitkan

,

IMG 20221003 122848
Kesaksian Slamet Sanjoko dari Korwil Aremania Bantur The Black Lion. (foto istimewa)

 

KABARMALANG.COM – Peristiwa di Stadion Kanjuruan yang di sebut “Tragedi Kanjuruan” banyak memakan puluhan korban jiwa dan ratusan mengalami luka, kini menyisakan duka mendalam.

Pasalnya, tragedi tersebut terjadi usai wasit meningkatkan peluit panjang sebagai tanda berakhirnya laga antara Arema FC melawan Persebaya.

“Kalau data terakhir yang meninggal dunia saya dapatkan hampir 130 orang yang meninggal dunia dan 323 orang mengalami luka, itu data dari rumah sakit,” kata Slamet Sanjoko, Senin (3/9/2022).

Dia, selaku Korwil Aremania Bantur The Black Lion mengatakan, peristiwa itu terjadi akibat dua orang yang mau berfoto dengan para pemain Arema FC.

“Sesungguhnya selama jalannya pertandingan berjalan kondusif. Kemudian ada dua orang yang mau berfoto setelah pertandingan bersama pemain Arema FC,” ceritanya.

“Kami, sudah menyampaikan ke petugas untuk tidak memberikan izin,” sambung Slamet, saat di hadapan awak media.

Menurutnya, karena dua orang suporter tersebut terus memaksa agar di perbolehkan masuk area lapangan, akhirnya di izinkan ke lapangan.

Setelah, kedua orang tersebut diizinkan untuk memasuki area lapangan, lalu kedua anak itu ternyata menghampiri pemain Arema FC.

Yang saat itu, masih berada di dalam lapangan untuk meminta maaf kepada para suporter atas kekalahan dari Persebaya.

“Dua anak itu, yang akan berfoto ternyata mereka mendekat ke pemain Arema FC. Kemudian terjadi bentrokan, pemicunya ada di situ,” jelasnya.

Slamet menjelaskan, setelah terjadi aksi dari dua orang suporter tersebut, kemudian memicu teman- teman lainnya untuk memasuki area lapangan.

“Mengetahui itu, saya meminta kepada teman-teman yang dari wilayah Bantur untuk tidak ikut masuk lapangan, dan tetap di tribun,” terangnya.

Setelah melihat situasi mulai tidak terkendali, Slamet bersama rekan-rekannya segera mengemasi bendera yang mereka bawa, dan bergegas mencari jalan keluar karena khawatir situasi akan memburuk.

“Sekitar tiga menit kami keluar gerbang, itu ada tembakan gas air mata ke arah tribun, kami lolos dan tidak tahu bagaimana kondisi di dalam. Namun ada rekan yang terkena gas air mata,” ungkapnya.

Slamet, menyayangkan adanya penembakan gas air mata ke arah tribun dan membuat para penonton panik dan berusaha untuk berhamburan keluar.

Terlebih, lampu pencahayaan di dalam Stadion Kanjuruhan juga sudah di matikan oleh petugas meski kondisi tribun masih penuh penonton.

“Kalau yang di tembaki gas air mata yang masuk ke lapangan, mungkin kami masih bisa terima karena mereka memang melanggar batas area,” ucapnya.

“Tetapi kenapa yang di tribun? salah apa di tembak gas air mata?,” pungkas Slamet. (cdm/fir)

Advertisement

Terpopuler